
Siang hari Dianka masih sibuk memasak di dapur, ia terlihat bersemangat ketika membuat kue kesuksesan Mami Resa.
Satu jam lagi Ibundanya akan datang, dan ia harus menyiapkan kue ini secepatnya.
Setelah semua bahan sudah tercampur Dianka lantas memasukkan adonan kue tersebut ke dalam oven.
"Hahh... Akhirnya beres juga. Tinggal menunggu kue nya matang beberapa menit lagi" Dianka menepukkan kedua tangannya dan berbalik.
Deg!
Langkah Dianka terhenti dengan detak jantung yang berdebar! Matanya terbelalak hingga membola tatkala dihadapannya berdiri sosok lelaki yang tidak ia kenal menodongkan sebuah pisau tepat di depan lehernya.
"Si-siapa kau....??"
Seorang lelaki dengan penampilan berantakan berdiri menatap tajam pada perempuan itu.
Matanya melirik ke kanan dan ke kiri lalu kembali menatap wajah Dianka.
"Dimana si brengsek itu berada?!!" Tanyanya pada Dianka.
Paru-paru Dianka menyempit, nafasnya terengah-engah seperti habis berlari.
Ia sungguh takut melihat lelaki yang menyeramkan ini! Siapa sebenarnya lelaki itu???
"A-aku... T-tidak tau.... A-apa maksudmu"
"Darwin! Dimana bajingan itu berada Hah??!!
Katakan padaku!!" Perintah lelaki tersebut.
Dianka berusaha menelan saliva nya dengan susah payah, ia semakin ketakutan saat pria ini bertanya keberadaan sang suami.
Apakah mereka saling mengenal? Sungguh, Dianka sangat takut sekarang!!
"A-aku... Ti-tidak tau... "
Mata si pria menyipit saat mendengar jawaban Dianka.
Ia seperti curiga terhadap wanita di depannya.
"Aku yakin aku tidak salah alamat! Kau pasti tau dimana Darwin berada" Ia melangkah maju perlahan-lahan membuat Dianka pun mundur beberapa langkah hingga terbentur lemari dapur.
"Aku benar-benar... Tidak tau... S-sungguh!!"
Lelaki tersebut semakin menelisik Dianka, wanita cantik ini sepertinya bukanlah seorang pembantu. Dari pakaiannya saja sama sekali tidak bisa disebut sebagai asisten rumah tangga.
"Siapa kau sebenarnya?? Kenapa kau ada di rumah bajingan itu?" Tanyanya yang masih mengarahkan pisau ke arah Dianka!
"A-aku... Te-temannya" Bohong Dianka.
Mendengar jawaban Dianka ia tersenyum kecut.
"Kau pikir aku bodoh Hah?!!"
Dianka masih mencoba berfikir agar dirinya bisa kabur dari sana, namun otaknya sama sekali tak bisa berpikir jernih di situasi menegangkan ini.
"Atau jangan-jangan.....
Kau adalah istri Darwin??"
Degupan jantung Dianka makin menjadi-jadi, ia harus bagaimana??? Apa yang harus ia lakukan?? Teriak meminta tolong?? Namun apakah lelaki ini akan langsung membunuhnya?? Ya Tuhan tolong...
"Hahahaha....... Jadi tebakkan ku benar??
Kau istri si brengsekk itu?? Hah sudah ku duga!" Pisau tajam itu kian mendekat ke arah leher Dianka, kemana pun Dianka melangkah lelaki tersebut pun pasti ikut mendekat.
"A-apa yang ingin kau lakukan??. To-tolong jangan seperti ini... " Pinta Dianka terbata-bata.
__ADS_1
Lagi-lagi dia tertawa seperti orang gila, mungkin mulutnya tersenyum tetapi matanya justru berkaca-kaca.
"Kau ingin tau apa yang akan aku lakukan??" Tanyanya.
Dianka diam tidak menjawab, ia hanya menatap lelaki di depannya dengan takut.
"AKAN KUBUNUH LELAKI ITU SEKARANG JUGA! AKAN KUBUNUH SUAMI MU...!!!"
JEDARRR!!
Bagai di tusuk ribuan pisau tubuh Dianka lemas seketika! Tubuhnya bergetar dengan hebat. Ia limbung di lantai.
Dengan segera Dianka meraih kaki lelaki itu dan memohon padanya.
"Tuan aku mohon jangan lakukan itu...
Apapun masalah kalian tolong jangan lakukan itu... Aku mohon.... Akan aku berikan apapun padamu tapi tolong jangan sakiti suamiku.... Hiks... " Ucap Dianka sembari bersimpuh.
Tapi sayang, si pria justru menendang Dianka dan kembali menatap tajam padanya.
"Asal kau tau! Karna suami mu adik mati dengan cara yang sangat tragis. Dia pergi membawa rasa cintanya pada si bajingan darwin.
Dia telah mati... karna apa?? KARNA SUAMI MU YANG BRENGSEK ITUUU.....!!!"
Prank!!
Prank!!
Prank!!
Seluruh barang dilempar ke sembarang arah, amarah pria tersebut tak terkontrol lagi.
Dianka mencoba mencari celah untuk dirinya kabur.
Namun saat ia hendak berlari, pria itu menarik lengan Dianka dan mendorong tubuh Dianka ke tembok sembari menempelkan pisau tepat dikulit leher Dianka.
"Hiks... A-aku mohon... Lepaskan aku.... "
"Jangan harap Nona! Sebelum kau mengatakan dimana suami brengsekk mu aku akan tetap menahan mu seperti ini" Jawabnya.
"S-sungguh... Aku.. T-tidak.... "
DORR!!
Tiba-tiba saja suara tembakan menggema di ruang tersebut. Keduanya dibuat terkejut dan langsung mengedarkan pandangannya.
"Jika kau berani melukai istriku sedikit saja maka peluru ini akan langsung mendarat tepat di jantung mu!"
DEG!!
Suara barithon yang masuk ke dalam indera pendengar mereka sungguh terdengar dingin dan menakutkan.
Darwin berdiri di ambang pintu sembari menodongkan pistol ke arah si penjahat. Membuatnya mematung di tempat.
"Kau salah jika berpikir kalau aku penyebab dari kematian adikmu, Kevin" Ujar Darwin dingin.
Ya, lelaki itu adalah Kevin. Entah bagaimana ia bisa kabur dari penjara namun yang pasti lelaki tersebut begitu pintar hingga bisa berkunjung ke rumah Darwin.
Kevin mengepalkan tangannya, amarahnya makin menjadi saat melihat wajah dari mantan kekasih mendiang adiknya.
"Kau yang membuat Adelia melakukan aksi bunuh diri itu! Jika saja kau tidak menyakiti perasaan ... DIA TIDAK AKAN MATI DARWINNN.... !!!"
"Kau salah Kevin! Ini semua berasal dari perbuatan mu sendiri"
Jlebbb
Kevin membeku di tempat, ia masih belum mengerti dengan ucapan Darwin.
__ADS_1
"Apa maksud mu? Kau fikir aku tega membunuh adikku sendiri?!! Begitu!!" Teriak Kevin.
"Jika kau tidak membunuh adik Alfred lelaki itu tidak akan menikahi Adelia dan membuatku sakit hati lalu memilih menikahi istriku yang sekarang.
Jika saja kau tidak membunuh adik dari Alfred mungkin saja Adelia sudah aku nikahi dan kami hidup bahagia karna Alfred tidak akan mungkin menikahi adik tercinta mu" Jelasnya.
Seketika air mata kevin lolos dengan deras, tubuhnya bergetar saat mendengar maksud perkataan Darwin.
"Sekarang kau sudah tau siapa sebenarnya yang patut disalahkan?" Tanya Darwin.
Ja-jadi semua ini memang benar-benar berasal dari perbuatannya??
A-apa yang ia lakukan?? Ke-kenapa semuanya jadi begini???
Disaat-saat Kevin tengah merenungkan perbuatan nya saat itu pula para polisi datang dan menangkap kembali buronan yang beberapa hari ini mereka cari.
Kevin hanya bisa pasrah sambil menangis menyebut nama Adelia dengan tangisan yang terdengar pedih.
Setelah mereka semua pergi pandangan Darwin langsung teralih pada sang istri, Darwin berlari dan memeluk tubuh Dianka.
"Sayang kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Katakan padaku apa yang dia lakukan padamu?!" Tanya Darwin menatap ke seluruh tubuh Dianka takut jika istrinya disakiti.
Dianka menggeleng cepet, ia kembali memeluk suaminya sambil menangis ketakutan.
"Aku tidak apa-apa mas... Aku... Aku hanya takut... Hiks.... "
Darwin membalas pelukan Dianka tak kalah erat, tangannya mengusap punggung sang istri dengan lembut.
"Tenang sayang.. Aku disini... Aku akan menjagamu" Ujar Darwin menenangkan.
"Aku takut mas.... Dia bilang dia akan membunuhmu... Aku sangat takut... "
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang, percaya padaku"
Setelah dirasa Dianka sudah mulai tenang, Darwin membimbing Dianka untuk duduk di sofa dan mengambil minum untuk istrinya.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Darwin seusai Dianka meminum air tadi.
"S-sudah... "
"Syukurlah... Tenang saja aku akan disini bersama mu"
Dianka mengangguk lagi.
"Mas... "
"Hmm? Ada apa sayang?"
"Jadi lelaki tadi... Adalah kakak Adelia?"
Darwin diam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya, sepertinya dia mengira jika kematian Adelia disebabkan olehku. Entah dia tau berita itu dari mana tapi sepertinya dia sudah sadar jika semua yang terjadi dimulai karna kesalahannya. Dia membunuh adik Alfred dan masalah itu berujung panjang hingga melibatkan kita" Jelas Darwin bercerita.
Dianka dibuat syok oleh cerita Darwin, tapi ia tetap bersyukur Darwin tidak kenapa-kenapa karna ia akan sangat takut jika lelaki tadi berbuat macam-macam pada suaminya.
"Tapi... Kenapa kau bisa datang di waktu yang tepat mas? Bukankah kau harus berada di kantor?" Tanya Dianka heran.
"Ya, tadi saat selesai meeting satpam komplek menelpon ku, katanya ada seorang pria yang menanyakan alamat rumahku. Saat satpam bertanya siapa Kevin ia menjawab jika dia adalah teman jauh yang ingin berkunjung, namun satpam itu justru tidak yakin dan merasa curiga, karna tidak mau membuat Kevin tersinggung akhirnya satpam komplek menelpon ku ketika Kevin sudah berlalu dari sana. Mendengar itu aku teringat padamu, aku langsung keluar dari kantor dan melajukan mobilku kesini"
Dianka memeluk Darwin erat.
"Aku juga mencemaskan mu mas, aku tidak mau sampai dia melakukan hal buruk padamu. Pokoknya aku ingin menuntut lelaki itu! Dia harus dihukum karna telah berencana membunuhmu" Ujar Dianka tegas.
"Tapi aku tidak apa-apa sayang... "
"Pokoknya aku akan tetap menuntutnya! Aku akan mencari pengacara untuk menangani peristiwa tadi" Ucap Dianka kekeuh.
__ADS_1
"Baiklah, apapun yang membuat mu tenang akan aku ijinkan" Jawab Darwin pasrah.