ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Gugatan Cerai


__ADS_3

"Di... Aku pulang"


"Sudah dapat obatnya mas?" Tanya Dianka yang langsung bersandar pada kepala ranjang.


Darwin duduk di tepi tempat tidur, ia mengeluarkan sebuah testpack dari dalam kantung plastik dan menyodorkan nya pada Dianka.


Alis Dianka mengerut saat melihat benda yang sangat ia tau itu.


"Kenapa mas membeli ini?" Tanya Dianka bingung.


"Tadi petugas apotik bertanya padaku saat membeli obat mual untukmu, dia bertanya apakah aku mau membeli obat mual untuk Ibu hamil atau bukan.


Aku bingung mau menjawab apa, makanya petugas itu menyuruhku membeli ini untuk memeriksa kondisi mu dulu baru aku bisa berikan obat yang sesuai" Jelas Darwin panjang lebar.


"Tapi aku tidak hamil, mas"


"Coba saja dulu, siapa tau kau kini tengah mengandung" Bujuk Darwin pada istrinya.


"Itu tidak mungkin mas, awal bulan ini aku baru saja menstruasi" Bantah Dianka yang terus meyakinkan Darwin jika dirinya tidaklah hamil.


"Tapi tidak ada salahnya mencoba, bukan?"


Dianka terdiam sejenak menghela nafas panjang.


Melihat benda itu Dianka merasa sedikit takut, ia yakin jika mual yang tadi ia alami bukanlah karna ia tengah mengandung tapi memang penyakitnya tengah kambuh seperti sebelum-sebelumnya walaupun memang sedikit lebih parah.


"Tapi...


Bagaimana jika aku benar-benar tidak hamil?" Lirih Dianka yang mendadak berubah muram.


Darwin menarik lengan Dianka dan menggenggam tangan halus itu, ia tau Dianka takut untuk mencobanya.


"Tenang saja, tidak apa-apa jika memang kau sedang tidak mengandung" Ucap Darwin santai.


Dianka langsung menatap wajah sang suami mencoba melihat ekspresi Darwin.


Ia takut mengecewakan Darwin, Darwin terdengar begitu bahagia ketika menduga-duga tentang kehamilan nya.


"Benarkah mas tidak apa-apa? Mas pasti kecewa"


"Tentu tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja.


Sekarang kau coba tes dulu ya, setelah itu baru minum obat. Aku juga sudah membelikanmu bubur"


"Ba-baiklah... "


Dianka akhirnya bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.


Disana ia menggenggam benda kecil itu dengan tangan yang bergetar, sejenak Dianka mencoba menenangkan detak jantungnya.

__ADS_1


Ia pun lantas melakukan percobaan tersebut.


Tubuh Dianka semakin gemetar, jari-jarinya saling meremaas kuat-kuat seraya berdoa agar di berikan hasil yang terbaik.


Setelah lima menit benda itu siap untuk diangkat.


Dianka menatap testpack yang masih tercelup di dalam cangkir kecil.


Ia menelan saliva nya dengan susah payah.


Perlahan Dianka mengangkat benda tersebut.


Dan...


Mata dianka terpejam dengan erat, air matanya pun lolos begitu saja, ia menangis dalam diam.


Garis satu yang tertera disana membuat harapannya musnah entah kemana.


Cepat-cepat ia menghapus air matanya.


Dengan langkah gontai dianka keluar dari kamar mandi, disana Darwin sedang menunggu dianka layaknya menunggu seseorang dalam ruang ICU.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Darwin penasaran.


Dianka menyodorkan testpack itu pada Darwin.


Darwin mengambil testpack tersebut dan melihat hasilnya.


Dianka tidak hamil?


Jadi benar Dianka hanya sedang sakit biasa?


Namun Darwin tetap tersenyum dan memeluk tubuh Dianka.


"Tidak apa, mungkin ini memang belum waktunya kita memiliki anak"


"Maafkan aku mas..."


Mendengar itu Darwin melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Dianka, ia menatap wajah wanitanya dengan intens.


"Jangan membuat dirimu merasa bersalah Di, mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.


Mungkin Tuhan ingin kita saling mengenal terlebih dahulu.


Lagipula menurutku terlalu cepat jika kita memiliki anak sekarang"


"Mas tidak marah?"


Darwin menggeleng sembari tetap tersenyum manis.

__ADS_1


"Sama sekali tidak, sudah jangan sedih lagi. Sekarang lebih baik kau sarapan dulu setelah itu minum obat, aku suapi ya"


Dianka seketika mengangguk setuju dan mengikuti kemana Darwin melangkah.


***


Brukkk!


Alfred melemparkan sejumlah kertas di hadapan Adelia, ia memasang wajah datar seperti biasanya dan membuat Adelia terheran-heran saat itu juga.


"Apa ini?"


"Baca!" Perintah Alfred dengan nada dingin dan terkesan kejam.


Adelia mengambil berkas itu dan mulai membaca kalimat yang tertera di atas kertas putih tersebut.


Matanya terbelalak saat melihat kertas yang ternyata berisi gugatan cerai, ia langsung menatap Alfred dengan intens.


"Kau menggugat cerai diriku?" Tanyanya.


"Kau pikir aku menggugat cerai siapa Hah?!" Ucap Alfred sinis.


Adelia masih tak percaya dengan semua ini, benarkah Alfred akan menceraikannya? Apakah lelaki itu sudah merasa puas karna telah menyiksa dirinya selama ini?


"Kenapa tiba-tiba?"


Alis Alfred berkerut saat mendengar pertanyaan bodohh itu, manik elangnya memandang Adelia dengan tajam.


"Lalu kenapa jika tiba-tiba? Kau ingin agar aku tidak menceraikan mu?"


Adelia langsung melotot mendengar nya.


"Heuh! Tentu aku ingin kau menceraikan ku, itu yang aku tunggu-tunggu dari dulu maka aku bisa segera keluar dari kehidupan yang menyedihkan ini. Kau pasti sudah puas kan menyiksaku selama setahun lebih? Dan karna itu kau menggugat cerai aku secara tiba-tiba" Ucap Adelia tanpa rasa takut sedikit pun.


Alfred merasa muak melihat wanita didepannya ini, ia lantas berdiri dari duduknya.


"Setelah kita bercerai jangan coba-coba menampakkan wajahmu di hadapan ku, jika kau tidak sengaja melihatku maka pergilah sejauh mungkin jangan sampai aku melihat wajah mu yang penuh dosa ini" Ujarnya dengan lugas lalu pergi dari sana meninggalkan Adelia yang masih duduk di atas sofa.


Adelia menatap kembali berkas di tangannya, ia tersenyum bahagia dan langsung menandatangani berkas tersebut dengan hati yang gembira.


"Akhirnya aku bisa bebas.


Aaaaa...... Senangnya"




__ADS_1



# Yahh... Pembaca kecewa🤣


__ADS_2