
Siang hari itu matahari terlihat sangat cerah, membuat manusia-manusia yang tengah beraktivitas tidak terganggu dan tidak takut akan turun hujan. Semua berjalan dengan lancar kecuali seseorang yang satu ini.
Disaat orang-orang tengah sibuk dengan pekerjaannya pria yang satu ini justru disibukkan dengan aktivitas yang bukan seharusnya menjadi tugasnya. Entah mimpi apa ia semalam hingga harus bernasib mengenaskan sekarang.
"Eughh..... Berat... Sekali... !
Kenapa... Aku... Menggendong.... Dia... Hah... Hah... Hah... "
Deru nafas Alfred terdengar cepat, pria itu sedang berkeluh dengan nasib yang dialami nya hari ini.
Pria berjas tersebut nampak menggendong tubuh besar Darwin hendak memasuki rumah si pembuat sial.
Saat di kantor tadi Alfred malah tertidur karna kebosanan menunggu Darwin yang masih terpejam atau memang pingsan. Sangking lamanya ketika ia bangun jam sudah menunjukkan pukul satu siang dan lebih parahnya lagi acara sudah selesai dan tidak ada satu orang pun yang berada di sana.
Mereka semua meninggalkan Alfred dan Darwin, tidak ada yang membangunkan Alfred untuk memberitahu jika acara sudah selesai.
Dan karna itu Alfred terpaksa harus mengantar Darwin yang masih dalam keadaan lemah dengan menggendong lelaki ini sampai ke rumah.
Alfred merutuki tindakannya! Kenapa ia tidak meninggalkan Darwin saja tadi?!! Kenapa ia harus berbaik hati mengantarkan pria pembawa nasib buruk itu sampai rela mengorbankan punggungnya untuk di naiki si lelaki.
Arghhhh....... !! Sial.
Setibanya di depan pintu Alfred buru-buru menekan bell berkali-kali sangking tak sabarnya.
Lagi-lagi Alfred memperbaiki posisi Darwin yang terus merosot ke bawah, namun Darwin seperti tidak terganggu sedikit pun.
Ceklekk
Pintu pun terbuka menampakkan Dianka di balik pintu besar tersebut.
Dianka tampak terkejut melihat keberadaan Alfred yang menggendong tubuh suaminya.
"Alfred?? A-ada apa ini?! Mas Darwin... Mas Darwin kau kenapa???" Tanya Dianka bertubi-tubi dengan raut wajah panik.
"Akan aku jelaskan di dalam... Tolong... Beritahu dimana aku harus menempatkan suamimu... Aku sudah tidak kuat... Hahh... "
"I-iya iya... Ayo bawa dia ke kamar"
Mereka pun masuk ke dalam rumah Darwin, Alfred membawa Darwin menuju kamar yang berada di lantai atas.
Dan yang paling menyebalkan lagi Alfred harus menaiki satu persatu anak tangga, membuat bebannya terasa jauh lebih berat.
"Haishh.... Tangga sialan!" Umpat Alfred.
Dengan penuh perjuangan akhirnya Alfred pun sampai didalam kamar berukuran fantastis, di rebahkan nya tubuh Darwin hingga sedikit memantul.
Alfred langsung merenggangkan otot-otot yang terasa nyeri, seluruh badannya pegal karna terlalu lama menggendong pria tersebut.
__ADS_1
Dianka membenarkan posisi tidur suaminya, ia sangat terkejut sekaligus cemas melihat Darwin dengan kondisi lemah seperti ini. Dianka menempelkan punggung tangannya di kening sang suami yang terasa hangat.
"Kau demam mas" Gumam Dianka.
Pandangan Dianka beralih pada Alfred yang berdiri tak jauh dari sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa suamiku pingsan tadi?" Tanyanya khawatir.
"Hmm... Dia pingsan dari pagi, dokter juga sudah memeriksanya dan katanya kondisi dia sedang tidak sehat. Aku menunggu nya sampai ketiduran disana" Jelas Alfred memberitahu.
"Benarkah??"
"Ya, dan lagi... Akhir-akhir tingkah suaminya sungguh aneh, tadi saja dia menyuruhku duduk untuk menemaninya beristirahat. Sekarang aku mulai merasa takut dengan dia" Ungkap Alfred merinding.
Dianka mencerna kata-kata Alfred barusan, sepertinya lelaki itu tidak tau apa yang sedang Darwin alami saat ini.
"Emm... Sebenarnya dia bertingkah aneh, karna aku tengah hamil dan dia mengalami kehamilan simpatik" Jelas Dianka.
Alfred melotot tak percaya, bola matanya langsung tertuju pada perut Dianka.
"Hah??? Kau hamil?" Alfred terlonjak kaget, ish... Pantas saja tingkah Darwin sungguh menyebalkan!
"Iya, jadi... Jangan salah paham jika tingkah nya sedikit tidak masuk akal" Lirih Dianka.
Alfred menghembuskan nafas panjang, disatu sisi ia bersyukur karna pikiran-pikiran buruk tentang Darwin tidak lah benar. Jika saja Alfred tidak mengetahui Darwin tengah mengalami kehamilan simpatik mungkin ia akan menganggap Darwin penyuka sesama jenis.
"Jadi suamimu masih normal kan?" tanya Alfred meyakinkan.
"Hah... Baiklah jika memang seperti itu, aku sudah membawanya pulang dia hanya butuh istirahat. Aku akan pergi sekarang"
"Ah iya, terimakasih kasih banyak Alfred maaf telah telah merepotkan mu"
"Ya, tidak masalah"
Alfred pun berjalan hendak keluar, tangannya sudah memegang gagang pintu tapi lagi-lagi suara Darwin membuat langkahnya terhenti.
"Alfred.... " Lirih Darwin.
Mata Darwin sedikit terbuka, memaksa menatap pria yang baru saja mengantarkannya pulang.
Alfred menoleh dan melihat Darwin yang tengah menatapnya. Begitu juga Dianka yang ikut menatap Darwin.
"Mas? Kau sudah sadar?" Dianka langsung mendekat ke arah sang suami.
"Iya sayang... " Jawab Darwin lemah.
"Bagaimana kondisi mu mas? Apa yang sakit?"
__ADS_1
Darwin menggeleng lesu sembari tersenyum kecil.
"Hanya lemas saja, tenanglah... Aku sudah merasa lebih baik" pandangan Darwin kembali tertuju ke arah Alfred.
Alfred yang melihat itu langsung berkata.
"Kenapa? Kau ingin berterima kasih padaku?? Ya... Aku tau, lain kali jangan merepotkan orang lain!" Sergah Alfred.
"Bukan itu... " Ujar Darwin, membuat Alfred mengerutkan dahinya.
"Lalu?"
"Apa merk shampoo mu?"
Zonkkk..........
...
...
...
Apa katanya tadi?
Merk shampoo???
Darwin memanggilnya untuk menanyakan merk shampoo? Bukan untuk berterima kasih??
Seketika Alfred memeluk dinding tembok dan memukul-mukul bangunan datar tersebut beberapa kali, barulah ia berbalik dan menatap tajam ke arah Darwin.
"Jadi selama ini kau menyukai aroma shampoo ku?!! Kau ingin berdekatan denganku karna ingin mencium aroma shampoo ku, begitu????!!!" Ucap Alfred dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Hmm.... " Jawab Darwin.
Gigi-gigi Alfred merapat sambil bergesekan, merutuki lelaki yang telah membuatnya kesulitan hari ini.
"Kenapa kau tidak bilang padaku hah?! Jika kau bilang akan aku berikan tidak perlu sampai menunggumu hingga aku meninggalkan acara meeting penting hari ini dan membuatku takut akan kelakuan konyol mu itu" Sentak Alfred bertubi-tubi.
"Kenapa kau menyalahkan ku? Aku juga tidak tau kenapa aku menyukai aroma shampoo mu... Aku kan hanya sedang ngidam, salahkan saja bayinya!" Tutur Darwin yang semakin membuat Alfred menggertak kesal.
"Sekarang katakan saja apa merk shampoo mu" Suruh Darwin.
"Kau tidak akan menemukannya karna shampoo yang aku pakai diproduksi dari Eropa" Jawab Alfred dengan angkuhnya.
"Kalau begitu berikan shampoo yang ada di rumah mu, kau pasti memiliki banyak shampoo seperti itu"
Alfred melongo tak percaya, sesuka itukah Darwin pada aroma shampoo nya??
__ADS_1
Ngidam macam apa ini?? Gumam Alfred dalam hati.
"Dasar menyusahkan! Kenapa jadi aku yang repot sih??? Kalian yang sedang berbahagia tapi aku yang mendapat getahnya"