ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Lega


__ADS_3

Pergulatan panas malam ini sungguh berbeda dari biasanya.


Darwin dan Dianka sungguh merasakan hal yang luar biasa setelah mereka saling mengungkapkan isi hati akan rasa cintanya selama ini.


Dulu keduanya sama-sama ragu dan enggan untuk mengungkap rasa cinta, dianka pikir Darwin tidak akan pernah mencintainya secepat ini maka dari itu ia selalu merasa jika Adelia lebih penting untuk Darwin dibandingkan dirinya.


Namun dugaannya salah, sekarang Dianka lah pemilik hati lelaki dingin tersebut.


Begitupun dengan Darwin, ia pikir segala perhatian Dianka hanya sebatas tanggungjawab nya sebagai seorang istri, tetapi apa yang wanita itu lakukan padanya adalah karna rasa cinta dan sebuah kasih sayang.


Tidak mudah keduanya membangun bahtera rumah tangga yang diawali hanya karna perjodohan sang orang tua.


Semua benar-benar dibangun dari nol, keduanya sama-sama tersakiti. Tetapi Tuhan sekali menyatukan mereka kembali dengan cara apapun.


Sepasang suami-istri yang tengah melakukan aktivitas malamnya ini tak ada henti-hentinya menyalurkan rasa sayang yang kini mereka rasakan.


Darwin melakukannya dengan penuh kelembutan berbeda dari sebelum-sebelumnya yang selalu bermain kasar hingga membuat Dianka menjerit dibawah kukungannya.


Tetapi malam ini Dianka terus mendesah nikmat sembari mengucapkan kata-kata cinta yang dibalas pula oleh sang suami.


Sensasi luar biasa yang Darwin berikan membuat Dianka tak ingin mengakhiri penyatuan mereka.


Jika Darwin lelah maka dianka lah yang akan memimpin permainan dan membuat Darwin mengerang berulang-ulang kali.


"Aku mencintaimu mas.... "


"Aku lebih mencintai mu sayang.... "


Ucap keduanya dan terus seperti itu, tidak ada rasa puas untuk berhenti melakukan kegiatan menggairahkan ini.


Tetapi Dianka mulai merasakan perih di bagian bawahnya, ia pun lantas mengakhiri kegiatan malam mereka.


Keduanya saling memeluk dibawah hangatnya selimut tebal yang menutupi tubuh polos Darwin dan Dianka.


"Terimakasih kasih sayang" Ucap Darwin mengecup dahi sang istri.


Dianka mengangguk sembari menampilkan senyum cantiknya.


"Sama-sama, mas" Jawab Dianka.


Darwin terseyum manis, tanpa Dianka duga Darwin mengangkat satu kaki Dianka dan memasukkan miliknya ke dalam milik Dianka di bawah sana membuat si pemilik menatap Darwin dengan heran.


"Kenapa dimasukan lagi?"


"Aku kedinginan" Ucap Darwin berbohong, padahal sekarang keringat Darwin masih bercucuran dari kulitnya.


Dianka hanya mampu membiarkan apa yang dilakukan oleh suaminya ini, walaupun Dianka merasa terganggu karna milik Darwin yang mengganjal di tubuhnya.

__ADS_1


"Aku lega sekarang, aku sudah jujur tentang perasaanku padamu.


Aku harap hubungan kita bisa lebih baik lagi, dan aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik padamu" Ujar Darwin serius.


"Aku harap juga begitu, semoga kedepannya kita bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti pasangan suami istri yang saling mencintai"


Darwin mengangguk pasti.


"Tentu!"


"Oh ya, aku ingin bertanya padamu mas. Sejak kapan kau jatuh cinta padaku?" Tanya Dianka penasaran.


Darwin mengerutkan alisnya seperti orang yang sedang berfikir, lelaki itu mengingat ingat sejak kapankah dirinya merasa jatuh cinta pada sang istri.


"Aku tidak tau pasti, tapi disaat dulu kau mengacuhkan ku aku sudah merasa kehilangan dirimu dan berharap kau selalu berada di sisiku" Jelas Darwin dengan tangan nakal yang sibuk memilin pucuk dada Dianka dengan gemas.


"Eugh..... Benarkah?" Tanya Dianka sembari mengigit bibir bawahnya menahan sensasi geli bercampur nikmat atas apa yang Darwin lakukan.


"Ya, entah karna terbiasa atau bukan tetapi kau benar-benar sudah memenuhi seluruh ruang di hatiku" Ungkap Darwin.


Pipi Dianka memancarkan semburat merah, kata-kata sederhana itu membuat Dianka terbang menembus awan.


"Lalu bagaimana denganmu, sejak kapan kau mencintai aku?" Tanya Darwin.


"Semenjak hari pernikahan kita aku sudah membuka hatiku untukmu mas, dan rasa yang tadinya hanya sebatas tanggungjawab kian berubah seiring berjalannya waktu.


Tatapan Darwin berubah menjadi sendu, ia sangat menyesal telah membiarkan istrinya dilanda rasa gundah.


"Oh sayang, maafkan aku.... "


"Tak apa mas, semua sudah berlalu. Biarkan saja"


"Tapi kau pasti sangat menderita dulu, aku sering mengacuhkanmu. Aku minta maaf.... "


"Sudah mas, aku sudah memafkan mu sudah ya. Lebih baik sekarang kita bersenang-senang... " Dianka bangkit dengan keadaan polos ke arah sofa.


Darwin yang melihat itu menelan ludahnya dengan susah payah, miliknya seketika tegak kembali melihat tubuh molek sang istri.


Dianka menduduki tubuhnya di atas sofa tersebut dan berpose seseksi mungkin.


Dengan senyum liciknya ia menyuruh Darwin untuk mendekat dengan menggunakan jari telunjuk.


"Kemarin lah sayang...


Puaskan aku dengan milikmu yang panjang dan berurat itu... " Desah Dianka.


Darwin tersenyum senang melihat tingkah Dianka, ia pun bangun dan menggagahi Dianka dengan gaya d*ggystyle yang sering mereka lakukan.

__ADS_1


Lagi-lagi Dianka mendesah hebat hingga suaranya memenuhi seisi kamar yang tak dipasangi oleh peredam suara.


"Ahh..... Mas Darwin...... !


Emm.... Yes....Yes like that..... Ahh...!!" Erang Dianka.


"Teruslah mendesah sayang.... "


***


Di rumah Alfred Anna tengah sibuk mengurusi berkas kematian Adelia, sebagai pengacara yang menangani kasus perceraian Alfred wanita itu kini justru di sibukkan oleh surat-surat kematian Adelia.


"Karna perceraian kalian sama sekali belum pernah terlaksana maka Adelia masih sah menjadi istrimu" Ucap Anna memberitahu.


"Ya, aku tau itu. Kini aku menjadi seorang duda karna istrinya mati, bukan duda karna sebuah perceraian"


Anna hanya menanggapi ucapan Alfred dengan helaan nafas.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Anna.


"Aku baik-baik saja, tapi kematian Adelia mengingatkan ku pada kematian Meisya" Gumam Alfred pelan, terlihat raut sedih dari ekspresi pria itu.


"Aku mengerti, tapi aku yakin Meisya sudah bahagia diatas sana.


Tuhan lebih menyayangi dia"


Alfred mengangguk membenarkan perkataan Anna, haruskah ia menyusul kepergian sang adik agar ia juga bisa bahagia??


Alfred tidak tau apalagi yang harus ia lakukan sekarang, ia tidak punya tujuan didunia ini.


"Aku sudah selesai menangani semuanya, sekarang kau bisa beraktivitas kembali.


Mungkin kita juga tidak akan bertemu lagi" Tutur Anna, perempuan itu berdiri dari kursi.


"Aku harus pulang, aku harap kau baik-baik saja.


Jaga dirimu.. " Ucap Anna hendak berlalu.


Namun cekalan tangan Alfred membuat langkah Anna terhenti begitu saja.


"Terimakasih Anna, maaf telah merepotkan mu"


Anna tersenyum manis menanggapinya.


"Tidak masalah, ini sudah menjadi pekerjaan ku. Aku pamit... " Anna pun keluar dari rumah Alfred meninggalkan rumah mewah tersebut.


Meski di dalam hati Anna ia sangat khawatir akan kondisi Alfred, tetapi yang Anna bisa lakukan sekarang hanyalah berdoa yang terbaik untuk Alfred ke depannya.

__ADS_1


Ia bukanlah siapa-siapa bagi lelaki itu, tugasnya sebagai pengacara pun telah selesai. Kini semuanya kembali seperti sedia kala.


__ADS_2