ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Cemburu?


__ADS_3

Di dalam perjalanan Darwin dan Adelia saling diam membisu, tidak seperti saat berangkat keduanya saling mengobrol dan bercerita.


"Maafkan aku Darwin, aku tidak tau jika Alfred ada disana" Cicit Adelia.


"Aku memaklumi nya, itu hal yang wajar"


Suasana pun hening kembali.


"Tapi.... Tadi kau terlihat marah saat dia datang, apa.... Apa kau..... "


"Jangan berfikir yang aneh-aneh Adelia, aku tidak apa-apa" Potong Darwin.


Adelia tidak berkata kembali, tapi di dalam hatinya ia yakin jika Darwin sedang cemburu karna keberadaan Alfred yang datang secara tiba-tiba.


Mobil terus melaju menembus keramaian kota, kemacetan membuat mobil Darwin harus terhenti di tengah-tengah jalan.


Darwin menoleh ke luar jendela sembari menunggu kemacetan itu berakhir, banyak sekali orang yang lalu lalang di sana memasuki toko-toko yang ada di pinggir jalan.


Tanpa sengaja mata Darwin melihat seorang wanita yang sangat ia kenal sedang duduk di meja yang berada di luar sebuah tempat makan.


"Dianka?" Gumam Darwin.


Matanya pun membulat kala melihat wanita itu sedang mengobrol dengan seorang pria di meja yang sama.


"Darwin.... "


Tak ada sahutan dari lelaki itu.


"Darwin sudah tidak macet lagi, ayo jalankan mobilnya"


Darwin yang tersadar langsung menjalankan mobilnya, namun ia justru berbelok ke arah tempat makan dimana dianka berada.


"Darwin kita mau kemana? Kenapa memasuki tempat makan?" Tanya Adelia bingung, tapi Darwin tidak menghiraukan pertanyaan Adelia, ia tetap fokus memarkirkan mobilnya.


Setelah memarkirkan mobilnya Darwin lantas keluar dan menghampiri Dianka yang terlihat masih berbincang-bincang dengan lelaki disana.


Adelia pun ikut keluar dan berjalan di belakang Darwin dengan sedikit berlari berusaha untuk menyusul.


Darwin terus berjalan hingga kini ia sudah berada di belakang Dianka.


"Dianka.... "

__ADS_1


Wanita cantik itu menoleh ke belakang dan sedikit terkejut dengan keberadaan Darwin.


"Mas?"


Ia pun berdiri, matanya juga melirik Adelia yang berdiri di belakang Darwin.


"Kau sedang apa disini mas?"


"Aku baru saja bertemu klien dan aku tidak sengaja melihat mu disini. Kau sedang apa?" Tanya Darwin.


"Oh iya kenalan beliau Tuan Hardin, pelanggan butik ku. Dan Tuan Hardin kenalkan ini suamiku Namnya Darwin" Jelas Dianka pada keduanya.


Lelaki yang bernama Hardin itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Darwin yang disambut olehnya.


"Saya kira anda belum menikah Nona Dianka, ternyata saya sudah kalah duluan dengan anda" Candanya pada Dianka.


"Hahaha... Anda bisa saja Tuan Hardin, kami baru menikah sekitar enam bulan yang lalu. Lagipula sebentar lagi anda akan menyusul kami bulan depan, saya akan persiapkan pesanan anda secepatnya"


"Kalau begitu jika kalian berkenan datanglah ke acara pernikahan saya nanti, ini undangannya" Tuan Hardin menyodorkan secarik undangan pada Dianka.


Dianka menerima undangan itu dengan senang hati.


"Tentu, kami akan datang" Ucap Dianka.


"Ah baiklah, terima kasih Tuan Hardin"


"Sama-sama Nona Dianka, saya pamit dulu. Mari Tuan Darwin"


Darwin mengangguk sebagai balasan.


Dan kini tinggal mereka bertiga yang berada disana.


"Kalian tadi hanya berbincang berdua?" Tanya Darwin pada istrinya.


"Iya, dia memintaku bertemu untuk membahas busana pernikahannya bulan depan" Jawab Dianka.


Dianka melirik sedikit ke arah Adelia, perempuan itu terlihat seperti sedang menahan emosinya. Matanya pun tak henti-henti memandang Dianka dengan tatapan sinis.


"Mas urusanku sudah selesai, aku harus kembali ke butik"


"Tapi Di, aku baru saja sampai" Keluh Darwin.

__ADS_1


Dianka tersenyum lembut, ia meletakkan kedua tangannya di dada bidang Darwin dan menggesek-gesek nya perlahan.


Dianka ingin membuat Adelia menjadi kepanasan melihat kemesraan ia dan Darwin, wanita itu tidak boleh tahu jika kini hubungan rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.


"Lagipula untuk apa kau kesini, mas? Bukankah seharusnya kau ke kantor?"


Darwin meremang, sekian lama ia tak merasakan sentuhan Dianka kini sentuhan lembut itu membuat dirinya bergetar.


"A-aku hanya ingin menemuimu" Jawab Darwin gugup.


Dianka semakin mengikis jarak di antara mereka membuat wajah keduanya kian dekat.


"Jangan seperti itu mas, kasihan Adelia"


Darwin refleks melingkari tangannya di pinggang Dianka, ia sudah tidak kuat jika seperti ini. Kalau saja mereka sedang berada di tempat yang sepi Darwin sudah sedari tadi menyambar bibir merah sangat istri.


Darwin menjadi tidak fokus pada sekelilingnya, bahkan Dianka yang menyebut nama Adelia saja Darwin seperti tidak mendengarnya. Dan itu berhasil membuat Adelia menggeram kesal.


"Kita masih punya banyak waktu di rumah, mas" Ujar Dianka.


"Tapi.... Kau selalu pulang malam akhir-akhir ini" Ungkap Darwin sendu.


"Nanti sore aku pulang, mas tenang saja" Ucapnya.


Darwin pun hanya bisa pasrah sembari mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita ke basement, aku harus segera kembali"


"Ya


Darwin dan Dianka sama-sama berjalan beriringan dengan Dianka yang merangkul lengan kekar sang suami.


Sedangkan Adelia terpaksa harus berjalan dibelakang mereka dengan kedua tangan yang mengepal.


"Awas saja kau! " Umpat Adelia dalam hati.


Saat sudah berada di basement Darwin mengantarkan dianka terlebih dahulu menuju mobil wanita itu.


"Hati-hati dijalan, jangan terlalu cepat membawa mobil"


"Iya mas, aku akan berhati-hati"

__ADS_1


Sejujurnya Dianka tidak rela harus membiarkan Darwin berduaan dengan Adelia di dalam mobil, tapi entah mengapa ia percaya jika Darwin tidak akan terpancing oleh wanita ular tersebut.


Setelah mobil Dianka melaju barulah Darwin memasuki mobilnya diikuti dengan Adelia yang masih mengumpat di dalam hati.


__ADS_2