
Sesampainya di rumah sakit Alfred dan polisi segera menghampiri ruangan jenazah, Alfred berjalan mendekat ke arah manusia yang ditutupi oleh kain putih yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Tatapan Alfred kosong saat ia sudah berada tepat didepan mayat yang polisi bilang adalah mayat istrinya.
Dengan jantung yang berdebar Albert perlahan membuka kain yang menutupi wajah sang jenazah.
Dan saat kain itu sudah terbuka...
DEG!
Benar saja wajah putih pucat dan sedikit membiru itu benar-benar Adelia!
Tubuh Alfred bergetar hebat!
Matanya seketika dipenuhi oleh genangan air yang sedikit lagi lolos dari pelupuk mata.
"A-adelia?"
Alfred mendekat dan menguncang tubuh si wanita berusaha untuk menyakinkan jika ini tidaklah nyata.
Dalam satuan detik Alfred tersentak kala tangannya merasakan dinginnya kulit Adelia.
"Adelia..... Adelia.... Kau dengar aku kan???
Kau tidak pergi kan??.... Adelia.... Adelia... Bangun..... "
Alfred terus menguncang dan sesekali menepuk wajah Adelia. Namun sayang, wanita itu tak akan pernah bangun walau di bangunkan dengan cara apapun.
Polisi yang disana menjadi was-was, mereka mendekat dan mencoba menjauhkan Albert dari jenazah tersebut.
"Tuan.... "
Alfred menepis.
Ia kembali menguncang guncang tubuh istrinya tersebut.
"Adelia bangun....!
Kau berani membantah ku hah??!!!
Aku bilang bangun adelia.... BANGUN!!!!"
"Tuan sudah Tuan..." Polisi itu akhirnya memaksa Alfred untuk keluar dari ruang jenazah itu.
"ADELIAAA.....!!!!" Teriak Alfred saat polisi itu membawa dirinya menjauh dari Adelia.
"LEPAS!... LEPASKAN AKU!!!"
Setelah mereka sudah berada di luar ruang jenazah barulah polisi itu melepas Alfred dan menghalangi lelaki tersebut yang ingin masuk kembali ke dalam ruangan mayat.
Alfred mengacak-acak rambutnya, pria tampan yang selalu bersifat dingin nampak frustasi melihat keadaan sang istri yang sudah tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
"Katakan padaku kenapa istriku bisa seperti ini..!!" Ucap Alfred dengan nada tinggi.
"Dari hasil otopsi, kami mendapatkan hasil jika istri Anda melakukan aksi bunuh diri. Dari rekaman CCTV yang kami tinjau istri Anda melompat dari jembatan ke sungai" Jelas salah satu polisi.
Alfred semakin mencengkram rambutnya kuat-kuat, ia menggeram mendengar penuturan pria berseragam itu. Tubuh Alfred merosot di dinding depan ruangan jenazah.
Kenapa???
Kenapa kau melakukan ini? Bukankah aku sudah melepaskanmu sesuai dengan keinginan mu?
Lalu kenapa kau pergi!
"Tidak....
Tidak mungkin....
Ini tidak mungkin...... TIDAKKKKK!!!!"
"ARGGGHHHHHHHHHH....!!!!!"
***
Flashback on
Malam itu Adelia memberhentikan mobilnya di sebuah jembatan yang melintasi sebuah sungai besar.
Ia turun dari kendaraannya ke sisi jembatan sembari menangis tersedu-sedu.
Adelia menegakkan tubuhnya dan menatap lurus ke arah sungai besar yang terpampang didepan mata.
Baru saja ia akan terlepas dari Alfred sekarang dirinya justru sudah terlepas dari hati Darwin dan tergantikan oleh nama wanita lain.
Sakit!
Ini begitu perih ia rasakan.
Semua yang ia lakukan sia-sia, dan kini Darwin sudah mencintai istrinya sendiri.
Lalu apa yang harus ia lakukan??
Bagaimana jika Darwin tau kalau dirinya sudah mencoba menyakiti Dianka? Tentu bisa Adelia bayangkan betapa marahnya Darwin.
Darwin pasti akan membencinya!
Ia lebih baik mati dibanding kehilangan cinta dari orang terkasih apalagi dibenci oleh orang yang ia sayangi.
Lagi-lagi Adelia menagis mengeluarkan rasa sakit yang tertanam di dalam hatinya.
"Maaf......
Maafkan aku...... Hiks....
__ADS_1
Aku minta maaf....... "
"Darwin.......
Aku mencintaimu...... Hiks....
Sangat-sangat mencintaimu......
Maaf...... Hiks.... "
Hanya itu yang bisa Adelia keluarkan dari mulutnya, ia tak kuat untuk bersuara.
Tenggorokannya terasa tercekat dan membuatnya sulit berkata-kata.
"Hiks..... Ini terlalu sakit Darwin.....
Hatiku sakit......
Hiks.....
Lebih baik aku pergi daripada melihatmu bahagia dengannya, lebih baik aku mati...."
Adelia tau jika ini adalah tindakan bodoh dan yang paling bodoh dari semua yang pernah ia lakukan.
Tapi ia yakin bahwa dirinya akan terus bertindak konyol demi mendapatkan Darwin jika ia masih terus hidup tanpa cinta lelaki itu.
Menurut Adelia mati adalah hal yang paling tepat untuknya saat ini.
Manik Adelia terfokus pada air sungai yang terlihat sangat menakutkan.
Ia menyerah!
Dirinya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan, ia ingin pergi dari dunia yang menyakitkan ini.
Dengan perlahan Adelia menaiki besi jembatan itu.
Ia menghela nafas dalam sembari memejamkan kedua matanya mencoba mengumpulkan kekuatan.
"Selamat tinggal.
Aku mencintaimu.... Darwin"
Byurrr!
Suara air terdengar menggema di bawah sana.
Seketika petir menyambar langit hitam yang tak turun hujan sedikit pun.
Sedikit demi sedikit air sungai pun kembali tenang seolah baik-baik saja dan tak terjadi apa-apa.
Flashback off
__ADS_1