ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Kerepotan


__ADS_3

Dua bulan kemudian pertemanan antara Dianka dan Anna semakin terlihat, mereka sering bertemu mau itu di rumah ataupun di di luar rumah.


Anna sering mengajak Dianka ke tempat hangout jika dirinya mempunyai waktu luang, begitupun sebaliknya.


Kasus Kevin pun sudah berakhir, lelaki itu sudah divonis hukuman tambahan 10 tahun penjara apalagi Kevin yang saat itu kabur dari penjara padahal statusnya masih menjadi tahanan membuat hukuman Kevin semakin bertambah.


Jujur saja Dianka merasa kasihan, namun mengingat Kevin yang berniat membunuh Darwin membuat Dianka harus tegas mengambil sikap.


Satu persatu permasalahan terselesaikan, dan satu persatu pula permasalahan datang pada Anna.


Hubungan percintaan nya dengan Alfred masih menjadi lika-liku, Anna masih takut menjelaskan pada kedua orang tuanya terkait hubungannya dengan Alfred.


Walaupun Anna dulu berbohong dengan mengatakan jika ia lah yang memutuskan pertunangan mereka, namun bisa saja kebenaran itu terungkap dan menyulitkan mereka berdua.


Meski orang tua Anna juga sudah tau Alfred pernah menikah, tapi yang mereka tau Alfred menikah karna mencintai mendiang istrinya setelah pertunangan Anna dan Alfred berakhir.


Namun bagaimana jika ada yang membongkar rahasia sebenarnya jika Alfred menikahi Adelia hanya untuk disakiti dan disiksa, pasti orang tua Anna pun tak akan merelakan putrinya pada lelaki semacam itu.


Ahh.... Ini sangat menyusahkan! Berbagai rasa takut menghampiri otak wanita cantik tersebut.


Anna menceritakan semua masalahnya pada Dianka, ia ingin mengeluarkan unek-unek nya dengan sesama wanita. Ia tahu Dianka adalah pendengar yang baik, ia nyaman bisa berteman dengan perempuan seperti Dianka.


"Jangan sedih Anna, aku dan suami ku akan membantu Alfred untuk membicarakan hal ini supaya Alfred bisa mendapat restu dari kedua orang tuamu" Ucap Dianka mencoba menenangkan Anna.


Kini mereka tengah berada di sebuah cafe, Anna menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan Ibu hamil tersebut sekalian ia ingin bercerita tentang keluh kesahnya pada Dianka.


"Terimakasih kalian sudah mau membantu kami, tapi aku mohon jika nanti kalian bertemu dengan kedua orang tuaku jangan bilang alasan sebenarnya jika Alfred lah yang memutuskan pertunangan kami. Aku tidak mau orang tuaku marah, biarlah mereka menganggap jika akulah orangnya" Pinta Anna dengan memelas.


"Tapi Anna bukankah lebih baik jika kita jujur dan mengatakan yang sebenarnya, lagipula itu semua sudah berlalu" Kata Dianka.

__ADS_1


"Tidak Dianka, aku tau bagaimana sifat kedua orang tuaku. Meskipun semua sudah berlalu tapi pasti kedua orang tuaku akan sakit hati jika tau dulu pertunangan putri dan anak sahabatnya batal disebabkan karna tidakan yang Alfred lakukan pada saat itu. Mereka juga pasti akan marah mengetahui jika selama ini aku berbohong" Lirih Anna, perempuan itu tetap dengan tekadnya. Sebisa mungkin ia menutupi sandiwara ini karna dirinya tidak mau sampai kedua orang tuanya marah pada Alfred.


Dianka menghembuskan nafas berat, ia sangat mengerti posisi Anna. Ia tidak tau mana yang seharusnya ia lakukan, Dianka tidak punya hak untuk mencampuri urusan pasangan kekasih tersebut. Jika ia ingin membantu maka ia pun harus mengikuti semua yang kedua orang itu katakan.


"Lagipula meski orang tuaku tidak tau kebenarannya itu tidak akan menjadi suatu masalah, justru kalau orang tuaku tau semua ini akan menjadi kacau. Lagipun ini hanya sekedar masalah alasan pertunangan kami kami batal dulu, bukan masalah yang besar yang harus diberitahu kebenarannya. Jadi aku mohon jangan beritahu orang tuaku nanti" Pinta Anna.


"Kita lihat aja bagaimana baiknya" Ujar Dianka dengan kebingungan nya.


Anna pun mengangguk pasrah, semoga saja semua berjalan dengan lancar kedepannya.


Mereka kembali memakan hidangannya dengan tenang.


"Oh iya Dianka, apa bayimu sudah bisa dilihat jenis kelamin nya?" Tanya Anna mengalihkan pembicaraan.


"Belum, mungkin satu bulan lagi baru bisa dilihat jenis kelamin nya" Jawab Dianka.


"Wahh.... Aku tidak sabar menanti calon keponakanku. Pasti dia sangat lucu dan menggemaskan" Sahut Anna dengan ekspresi gemasnya, membayangkan bagaimana lucunya anak dianka nanti.


"Aku juga sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin bayiku, menunggu satu bulan rasanya sangat lama" Keluh Dianka.


"Hahaha.... Memang seperti itu kalau kita sedang menunggu sesuatu. Sehari saja rasanya seperti seminggu apalagi satu bulan" Ucap Anna setuju.


Mereka pun berbincang-bincang kembali mengenai semua hal.


***


Sore harinya ketika Darwin pulang dari kantor ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Akhir-akhir ini kondisinya makin parah dari sebelum-sebelumnya, Darwin bukan hanya mual ketika pagi saja tetapi saat di kantor pun Darwin sering mengalami mual dan muntah-muntah.

__ADS_1


Bahkan sekarang ia selalu memilih-milih dalam hal makanan, jika makanan itu tidak sesuai dengan seleranya Darwin akan memuntahkannya. Darwin lebih memilih tidak makan dari pada memakan makanan yang tidak enak di lidahnya.


Itu membuat Dianka sedikit kerepotan, makanan yang ia masak jarang disentuh oleh Darwin. Sikap Darwin pun berubah-ubah dan lebih sering merajuk seperti anak kecil jika yang diinginkan tidak sesuai dengan harapan pria tersebut.


Tapi Dianka memakluminya, Darwin pasti kerepotan karna mengalami kehamilan simpatik ini.


"Sayang aku tidak kuat mual ini sangat mengganggu ku!" Rengek Darwin yang tengah memeluk Dianka di atas ranjang.


"Sabar mas, ini kan demi anak kita" Ucap Dianka sambil mengusap usap rambut Darwin dengan lembut. Dianka mengangkat lengan Darwin dan meletakkannya di atas perutnya. Seolah mengingatkan jika kondisinya sekarang disebabkan oleh si jabang bayi yang ada di dalam perut Dianka.


"Tapi ini sangat menyiksa...! Bahkan aku tidak bisa melakukan hubungan badan, padahal aku tau kau sedang sangat ingin melakukan itu" Celetuk Darwin.


Dianka seketika terperangah dibuatnya, kata-kata Darwin sama sekali tidak pernah terlindas di otak Dianka.


Kenapa Darwin begitu percaya diri hingga berpikir ia sedang ingin bercinta?


Haiss... Ada-ada saja!


"Sudah jangan pikirkan itu, aku tidak apa-apa" Balasnya.


"Maafkan aku... Aku janji nanti jika sakitku sudah membaik kita akan bercinta sampai pagi jika mau" Seloroh Darwin.


Lagi-lagi Dianka dibuat menganga oleh perkataan suaminya, sampai pagi katanya??? Dua jam saja sudah membuat dianka lemas dengan gaya bercinta Darwin yang terbilang sedikit kasar.


"Tapi mas kita tidak boleh melakukan hubungan suami-istri terlalu lama, ingat! Aku sedang hamil, kondisi bayinya masih sangat lemah" Tutur Dianka mengingatkan, padahal dirinya mencoba menghindar dari permintaan Darwin.


"Oh iya... Maaf aku hanya sedikit sedih karna tidak bisa mengabulkan keinginan mu untuk bercinta" Lanjut Darwin.


Mendengar itu Dianka hanya bisa berkata dalam hati.

__ADS_1


Ya ya ya.... Terserah kau sajalah mas.


__ADS_2