
Tangan Darwin terulur menyentuh kedua pipi Dianka.
Wajah mereka semakin dekat dan berjarak beberapa centimeter saja, hembusan nafas keduanya pun kian terasa dikulit satu sama lain.
"Apa benar kau tak mengerti maksud dari ucapanku?" Tanya Darwin memastikan.
Dianka semakin berdebar seakan nafasnya tercekat dan sulit untuk menghirup oksigen didalam mobil ber-AC ini.
Dianka menjawab pelan.
"A-aku hanya ragu.... " Lirihnya.
"Kalau begitu dengar ini baik-baik"
Deg!
Deg!
Deg!
"Dianka Jovina Tomlinson, aku.... Darwin Edison telah jatuh hati kepadamu, istriku sendiri" Ucap Darwin.
"Hah???" Dianka terperangah dan mematung.
Apa katanya tadi? Darwin.....
"Aku mencintaimu Dianka"
Tatapan Dianka berubah menjadi sayu, matanya pun ikut berkaca-kaca mendengar kata indah itu. Hatinya meleleh akan kehangatan rangkaian kata yang terlontar jelas dari bibir Darwin.
Apakah ini sungguh nyata?
Apakah ia bermimpi?
Tolong jangan buat dianka terbang terlalu jauh, jika dugaannya salah maka rasanya akan sangat sakit.
"Mas.... "
"Aku mencintaimu dan kini hanya kau satu-satunya, tidak ada orang lain! " Ucap Darwin menegaskan.
Manik cantik itu semakin mengkilap dibuatnya, bibir dianka melengkung membentuk senyuman. Sungguh, hari ini ia begitu bahagia.
Tanpa aba-aba Dianka langsung mencium bibir Darwin dan menyalurkan semua yang ia rasakan sekarang.
__ADS_1
Darwin pun menerima ciuman dianka dengan penuh rasa bahagia karna telah berani mengungkapkan isi hati yang selama ini ia pendam dalam-dalam.
Dianka melepas pangutan itu dan menatap wajah suaminya dengan rasa haru yang bertebaran.
"Aku juga mencintaimu, mas"
***
Disisi lain Alfred yang baru saja pergi dari kantor polisi kini kembali mengunjungi salah satu lapas untuk menemui seseorang.
Penampilan Alfred terlihat berbeda dari biasanya, lelaki itu nampak berantakan tak seperti biasanya yang selalu tampil rapi dan elegan.
Dua kancing atas kemejanya pun ia biarkan terbuka tanpa peduli bagaimana kondisinya sekarang.
Alfred keluar dari mobil dan masuk ke dalam lapas, ia meminta seorang polisi untuk mempertemukan dirinya dengan salah satu tahanan.
Dan disini lah Alfred berada, ia duduk menunggu seseorang sesuai dengan perintah sang polisi.
Tak lama polisi itu datang dengan seorang pria yang memakai pakaian berwarna orange.
Setelah dia duduk barulah polisi itu pergi memberi mereka ruang untuk berbicara.
Alfred menatap orang didepannya dengan wajah datar, begitupun yang ditatap ikut memandang wajah Alfred dengan mata yang memerah seperti habis menangis.
"Tidak usah basa-basi! Kau apakan adikku Hah?!!! Kenapa dia bisa meninggal???!" Sentak Kevin dengan nada marahnya.
"Oh... Ternyata kau sudah tau rupanya, dari mana kau tau berita nya hah?"
"Kau tidak perlu tau siapa yang memberi tahu ku!! Jawab saja pertanyaan ku, kenapa Adelia bisa meninggal Heuh?!!" Ucap Kevin sekali lagi.
Alfred tersenyum getir melihat Kevin yang nampak sedang menahan amarahnya, ia tau jika lelaki ini tak terima dengan kematian sang adik.
"Kau tau kan jika Adelia bunuh diri? Aku tidak melakukan apapun padanya. Semua ini bukan salahku" Jawab Alfred santai.
Kevin semakin dibuat memanas, ia menggebrak meja cukup keras.
Brakkk!!
"Kau yang membuat dia menderita...!! Jika saja kau tidak memaksanya untuk menikah dia pasti tidak akan seperti ini...!! Dia pasti sudah bahagia dan tidak akan pergi secepatnya ini!!"
"Heuh, dasar tidak tau diri!
Bagaimana rasanya kehilangan seorang adik? Tidak enak bukan??" Ejek Alfred.
__ADS_1
"Kauu.....!!!"
Sebelum Kevin berbicara Alfred terlebih dahulu menyela ucapan pria itu.
"Asal kau tau, beberapa hari yang lalu aku mengajukan gugatan cerai pada Adelia dan dia begitu senang dengan berita ini, dengan begitu dia bisa kembali lagi pada mantan kekasihnya yang masih dia cintai. Siapa lagi jika bukan Darwin" Ucap Alfred.
Kevin mengernyitkan alis saat mendengar nama yang sangat ia kenal.
Darwin, orang yang dulu sering Adelia ceritakan padanya. Ia tau betapa cintanya Adelia pada Darwin.
Ia juga sudah pernah bertemu dengan sosok Darwin, yang saat itu datang ke rumah untuk meminta restu pada orang tua mereka.
"Namun sayang, Darwin sudah tidak lagi mencintai adikmu.
Dia sudah mencintai istrinya sendiri, dan dengan bodohnya Adelia meminta kembali pada lelaki yang sudah berpaling padanya.
Dan sekarang lihatlah, adikmu mati dengan cara yang konyol"
"JAGA UCAPANMU ALFRED....!!!" Bentak Kevin dengan amarah yang sudah membuncah.
Alfred hanya menaikkan kedua bahunya acuh.
"Sebenarnya Darwin sama sekali tidak salah telah mencintai istrinya sendiri dan berpaling dari Adelia. wajar saja, istrinya cantik, pintar, baik dan sempurna.
Aku pun dibuat takjub olehnya, siapapun dia pasti lebih memilih wanita itu dari pada adikmu" ujar Darwin tanpa beban sedikitpun.
"AKU BILANG JAGA UCAPAN MU, BRENGSEK..!!!"
"Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Lagipula aku bingung dengan sifat adikmu, dia bertahan disaat aku benar-benar menyiksa hidupnya dengan penuh kekejaman.
Namun dia begitu rapuh dengan hanya mendengar jika mantan kekasihnya itu sudah mencintai wanita lain.
Sungguh, aku tidak mengerti jalan pikirannya"
Kevin diam membisu, ia menangis mengingat semua hal tentang sang adik.
Ia sama sekali tidak memberikan tanggapan terhadap ucapan Alfred, kini hanya Adelia yang memenuhi pikirannya.
"Aku hanya ingin memberitahu mu tentang kematian Adelia, dan ternyata kau sudah tau. Baguslah!
Sekarang urusanku sudah selesai, silahkan nikmati waktumu kembali didalam jeruji besi itu" Alfred bangkit dan berlalu meninggalkan pria yang masih terduduk sembari mengepalkan kedua lengannya.
__ADS_1