ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Mual


__ADS_3

"Bercerai?!!"


"A-apa maksud mu Alfred??? Pernikahan mu baru seumur jagung kenapa kau meminta untuk bercerai? Jika kau memiliki masalah dengan istrimu sebaiknya kau bicarakan baik-baik" Ucap Anna memberi saran.


Namun Alfred menggelengkan kepalanya.


"Pernikahan ku bukan atas dasar cinta, aku menikahinya hanya untuk balas dendam" Ungkap Alfred yang membuat Anna terkejut setengah mati.


"Balas dendam? Ba-balas dendam apa maksudmu?"


"Asal kau tau Anna, istriku adalah saudari


dari pembunuh adikku. Aku membenci istriku sendiri, aku menyiksanya dan membuat hidupnya kacau balau. Aku pria jahat yang tidak pernah mengenal kata cinta yang sesungguhnya" Lirih Alfred yang terdengar menyakitkan.


Anna bergeming disana, matanya terus menatap Alfred dengan tatapan tak percaya.


Ternyata seperti inikah pernikahan yang Alfred lalui?


"Kau menikahinya hanya untuk menyiksanya?"


Alfred diam tak kuasa untuk menjawab.


"Kau gila Alfred!!!"


Lagi-lagi Alfred hanya bisa diam membisu mendapat bentakkan dari Anna, Alfred akui memang ia sudah dibutakan oleh rasa dendam yang membuat hatinya gelap.


"Aku tidak percaya kau melakukan ini Alfred! Dulu kau tidak seperti ini... "


"Aku yang dulu berbeda dengan aku yang sekarang Anna!


Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya jadi aku, adikku satu-satunya yang ku miliki pergi dengan cara yang tragis.


Kini aku sendirian... Aku selalu berharap untuk menyusul keluarga ku setelah aku puas menyiksanya" Jelas Alfred bercerita sembari menundukkan kepalanya.


Tatapan Anna melemah, kenapa rasanya sesak mendengar cerita Alfred barusan??


Kenapa sekarang ia malah ingin memeluk lelaki itu dan membiarkan Alfred menangis di pundaknya.


"Apa kau selalu merasa sendirian?" Tanya Anna.


"Ya"


Anna tersenyum kecut, pandangannya beralih ke arah jendela menatap keramaian kota.


"Padahal dulu aku selalu ada untukmu" Lirih Anna dengan suara yang sedikit bergetar.


Sontak saja Alfred mendongak dan melihat wajah Anna.


Wanita cantik di depannya masih sama seperti dulu, wanita yang selalu terlihat tegar dalam kondisi apapun.


Namun kenapa Alfred tidak bisa mencintai gadis sebaik Anna?

__ADS_1


"Maaf... " Hanya itu yang bisa Alfred ucapkan sekarang.


Anna mengambil tasnya dan membereskan beberapa berkas yang ia bawa.


Wanita tersebut beranjak dari kursi.


"Pikirkanlah baik-baik, jika keputusan mu memang sudah bulat kau bisa menghubungi ku kembali.


Aku permisi... "


Alfred memejamkan mata kala Anna sudah keluar dari dalam cafe, kini Alfred dirundung rasa bingung tentang keputusannya yang tiba-tiba muncul begitu saja.


***


Di pagi hari yang cerah sepasang suami istri yang kini masih tertidur di atas ranjang nampak sangat nyenyak berkelana di alam mimpi mereka.


Darwin yang semalaman memeluk Dianka dari belakang membuat sang wanita merasa nyaman hingga ia pun larut dalam alam bawah sadarnya.


Dianka yang kala itu tengah tidur dengan sangat pulas merasa perutnya tiba-tiba mual dan bergejolak, hal tersebut memaksa Dianka untuk bangun dari tidurnya.


Dianka perlahan menyingkirkan lengan Darwin dan beranjak dari sana.


Ia berjalan ke arah kamar mandi sambil menutup mulutnya yang serasa ingin mengeluarkan sesuatu.


Saat tiba di kamar mandi Dianka langsung memuntahkan semua yang ada didalam perut.


"Hoek.... Hoek.... Hoek.... "


"Hoek... Hoek.... Hoek.... "


Darwin yang masih terbaring di atas kasur seketika membuka kelopak matanya saat ia mendengar suara dari dalam kamar mandi.


Menyadari Dianka tidak ada disampingnya Darwin segera bangkit dan berlari ke arah sumber suara.


Ia melihat Dianka yang sedang muntah hingga membuat wajah cantik istrinya pucat pasih.


Darwin mendekat dan menepuk-nepuk punggung Dianka mencoba membantu sang istri sebisa mungkin.


Saat merasa sudah mendingan Dianka lalu menggosok giginya seperti yang selalu ia lakukan di pagi hari.


"Ada apa denganmu Di? Kau sakit?" Tanya Darwin khawatir.


"Tiba-tiba saja aku mual, sepertinya asam lambung ku kambuh lagi" Jawab Dianka.


Darwin lantas menggendong tubuh Dianka dan dibaringkan nya di atas kasur.


Dianka tidak menolak perlakuan Darwin karna memang tubuhnya begitu lemas.


Lelaki itu berjalan ke arah tempat obat dan mengambil minyak hangat.


Darwin menyikap pakaian Dianka dan mengoleskan minyak hangat tersebut di perut istrinya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah melihatmu seperti ini Di, nanti kita pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaan mu" Ucap Darwin.


"Tidak perlu sampai ke dokter mas, tolong belikan saja obat untuk ku ke apotik"


"Tapi bagaimana jika kau masih seperti ini terus?" Tanya Darwin yang masih terlihat mengkhawatirkan kondisi Dianka.


"Aku yakin setelah minum obat nanti sakit ku pasti akan hilang" Ujar Dianka yakin.


Dengan berat hati Darwin pun akhirnya membiarkan Dianka untuk tidak pergi ke dokter, ia pun bangun dari duduknya dan bersiap untuk membeli obat.


"Aku akan ke apotik sekarang, jika ada apa-apa segera hubungi aku"


"Iya mas, terima kasih" Jawab Dianka lemas.


Darwin lalu keluar dari sana dan menaiki mobilnya.


Sepanjang perjalanan ia hanya memikirkan keadaan Dianka yang tidak seperti biasanya, dengan cepat Darwin mengemudikan mobil itu agar segera sampai di tempat tujuan.


Lima menit kemudian...


Darwin yang sudah berada di apotik lantas keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam bangunan tersebut.


Disana petugas apotik langsung menyapa Darwin.


"Selamat pagi Pak, ada yang bisa dibantu?" Tanyanya ramah.


"Emm... Saya mau membeli obat untuk istri saya, obat untuk mual" Jawab Darwin.


"Obat mual?"


"Iya"


"Obat mual untuk Ibu hamil atau bukan, Pak?" Tanyanya memastikan.


Seketika Darwin terdiam mendapat pertanyaan seperti itu, ia bingung harus menjawab apa, setaunya Dianka tidak hamil tapi bagaimana jika...


Melihat Darwin yang diam saja akhirnya petugas itu pun mengambil beberapa obat dan sebuah alat yang tak lain adalah testpack.


"Lebih baik tes dulu saja pak menggunakan testpack ini, nanti jika sudah ada hasilnya baru bisa diberi obat yang sesuai. Saya akan berikan kedua obatnya saja ya Pak" Ujar wanita berambut pendek itu.


"O-oh... Iya, baiklah"


"Ini ya Pak, ini obat mual untuk Ibu hamilnya dan ini obat mual biasa. Dan ini testpack nya juga, totalnya jadi seratus ribu"


Darwin lalu membayar biaya obat tersebut dan pulang ke rumah.


Kini pikiran di penuhi oleh pertanyaan apakah Dianka hamil atau tidak, jantungnya mendadak berdebar tak karuan.


Entah kenapa Darwin merasa sedikit yakin jika istrinya tersebut tengah mengandung seorang bayi.


Jika memang benar Dianka hamil maka ia akan menjadi sosok Ayah dan impian untuk memberi kedua orangnya cucu akan terwujud.

__ADS_1


Tanpa Darwin sadari ia terus tersenyum sampai mobil itu berhenti di pekarangan rumah.


__ADS_2