ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Butuh Penjelasan


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi mereka berempat masuk ke dalam bangunan ber cat abu itu.


Kedua polisi tersebut mengajak Darwin dan Dianka ke ruangan tempat mereka akan diwawancara.


Dari kejauhan Dianka juga Darwin melihat Alfred yang tengah duduk di depan meja salah satu polisi.


Entah sejak kapan pria itu ada disana tetapi sepertinya Alfred juga diperintahkan untuk diwawancarai seperti Darwin.


Mereka berjalan terus hingga polisi itu menyuruh Darwin duduk di sebelah Alfred sedangkan Dianka memilih untuk berdiri di belakang mereka.


Suasana nampak canggung, kedua pria tampan itu saling terdiam menunggu polisi mewawancarai mereka.


"Sebelumnya saya ingin memberikan surat ini pada Anda, Tuan Darwin" Ucap polisi sambil menyodorkan sebuah surat pada Darwin.


"Apa ini?" Tanya Darwin tanpa mengambil surat yang disodorkan oleh polisi.


"Kami mendapatkan surat itu didalam mobil Nona Adelia, dan maaf sebelumnya kami sudah membuka surat itu untuk mencari bukti. Isi surat itu ditunjukkan pada Anda"


Darwin pun akhirnya mengambil surat tersebut dan membaca isi didalamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Untuk Darwin.


Hatiku sakit mendengar saat kau mengatakan jika kau telah mencintai istri mu sendiri...


Bahkan aku masih menangis saat menulis surat ini...


Bagaimana cara agar aku tak merasakan sakit lagi, Darwin? Sedangkan sekarang kau sudah tidak bisa lagi memberi hatimu...


Menurutku mati lebih baik daripada melihatmu bahagia dengannya...


Kenapa kau begitu tega padaku??


Kenapa kau tidak memperjuangkan cinta mu?? Padahal selama ini aku selalu berharap agar kau kembali padaku dan membangun cinta kita.


Sebelum aku pergi aku ingin meminta maaf padamu walau aku tau kau tak akan bisa memaafkan kesalahan ku yang satu ini.


Maaf, karna aku telah mencoba mencelakai Dianka, akulah dalang yang menyuruh orang-orang itu untuk menculik istrimu agar kita bisa bersama.


Namun yang kudapatkan hanyalah debu halus yang kini bertebaran di wajahku sendiri.


Aku tau kau marah...


Namun aku tak mau mendapatkan hukuman, aku ingin pergi saja..


Aku tak ingin merasakan rasa sakit setelah semua yang aku alami...


Mungkin dengan aku mati kau bisa menoleh ke arah ku sedikit saja.

__ADS_1


Aku mencintaimu Darwin....


^^^-Adelia-^^^


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mata Darwin memanas dan memerah, ia meremass kertas tersebut sembari memejam mata kala mengetahui jika Adelia adalah dalang yang selama ini ia cari-cari.


Kenapa ia baru tau sekarang!!


Kenapa ia tidak menyadari jika Adelia lah yang mencoba mencelakai Dianka??? Kenapa!!


"Dan dari surat itu kami mendapatkan sebuah bukti yang tidak pernah kami duga. Ternyata Nona Adelia pernah mencoba mencelakai istri Anda"


Seketika Dianka dan Alfred membelalakkan matanya lebar-lebar.


Mereka menatap tak percaya dengan ucapan sang polisi barusan.


"A-apa maksud Anda? A-adelia mencelakai Dianka?" Tanya Alfred pada polisi, polisi itu mengangguk sebagai jawaban.


Alfred menatap wajah Darwin dengan tatapan yang masih dikelilingi rasa terkejut, matanya tertuju pada kertas yang di genggam oleh pria di sampingnya ini.


Lantas Alfred pun merebut kertas itu dan membacanya.


Beberapa detik kemudian tubuh Alfred terasa lemas, la tak menyangka jika semua yang pernah terjadi adalah perbuatan Adelia yang sama sekali tidak pernah ia curigai.


Darwin merebut kembali kertas itu dan merobeknya hingga hingga menjadi kepingan kertas kecil, hatinya berubah dan diselimuti perasaan marah.


Ingin rasanya ia melampiaskan rasa amarahnya ini, namun pada siapa??? Alfred?? Hah! Darwin bahkan sangat yakin jika lelaki itupun tak tau perbuatan istrinya sendiri.


Kini Adelia terlanjur mati dan pergi meninggalkan permasalahan yang dia buat.


"Sialaannnnnn..... " Desis Darwin sembari mencengkram rambutnya.


"Jadi menurut kami semua ini berasal dari masalah pribadi, dan kami ingin tau kenapa saat itu Nona Adelia keluar dari ruangan Anda dalam kondisi menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya polisi.


Darwin pun menceritakan kejadian di dalam ruang kerjanya, ia menceritakan dengan detail mengapa Adelia saat itu keluar dalam keadaan menangis dari ruangannya.


Dan dapat disimpulkan jika semua ini tidak berhubungan dengan kekerasan atau ancaman dari orang lain, meninggalnya Adelia murni karna keinginan wanita itu sendiri.


Darwin tidak bisa dikatakan bersalah karna apa yang lelaki itu lakukan memang sudah sewajarnya.


Alfred yang berada disana hanya bungkam tanpa mau mengeluarkan suara sedikitpun, ia sudah menyerahkan semua masalah kepada pihak kepolisian, dan mengenai kasus penculikan Dianka Alfred rasa itu bukanlah masalahnya. Ia tidak berhak ikut campur, lagipula pelaku sudah meninggal meski polisi mau menghukumnya dengan cara apapun.


"Baiklah, kami rasa kasus ini kami tutup sampai disini. Terimakasih kepada Tuan-tuan dan Nona sekalian atas kerjasamanya" Ucap polisi sambil berjabat tangan dengan mereka bertiga.


Alfred, Darwin, dan Dianka pun keluar dari kantor polisi dan masuk kedalam mobil mereka masing-masing tanpa berpamitan layaknya orang yang tak saling mengenal.


***

__ADS_1


Didalam mobil Darwin seperti masih terbawa suasana, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang agak cepat.


Jari-jarinya ikut memegang stir dengan kuat sampai membuat urat-urat lengannya terlihat.


Dianka sedikit dibuat takut melihat hal itu.


"Mas....


Kau baik-baik saja? "


"Aku masih tidak percaya Di, ternyata pelaku yang selama ini aku cari-cari tak lain adalah Adelia!


Aku benar-benar kesal mengetahui hal itu, aku sungguh tidak terima dia mencelakaimu seperti itu!" Ungkap Darwin dengan amarah yang menggebu-gebu.


Dianka mengelus lengan kekar Darwin mencoba meredakan amarah sang suami.


Ia bisa melihat betapa kesal dan kecewa nya lelaki ini, Darwin begitu terlihat menghawatirkan seseorang yang sangat ia cintai.


"Sudahlah mas, tidak baik marah apalagi dendam pada seseorang yang sudah meninggal dunia"


"Aku menyesal telah menangisinya! Aku sungguh tidak bisa terima"


"Sudah mas, ikhlaskan saja apa yang sudah terjadi. Lagipula aku sudah memaafkan Adelia" Sergah Dianka.


"Tapi Di... "


"Mas.... " Desis dianka memberi peringatan.


Darwin lagi-lagi hanya bisa menarik nafas panjang, tidak mudah memaafkan perlakuan Adelia meskipun wanita itu pernah ada dalam hatinya.


"Lagipula bukan hal sulit kan memaafkan seseorang yang pernah kita cintai?" ucap Dianka ditengah-tengah keheningan mereka.


Mendengar perkataan dianka Darwin langsung menepikan mobilnya di sisi jalan, dan itu membuat Dianka kebingungan dan bertanya-tanya.


Darwin menghadap ke arah sang istri dan menatap wajah perempuan tersebut dengan intens.


"Tapi sangat sulit memafkan seseorang yang sudah bertindak jahat pada orang yang kita cintai" ujar Darwin.


Dianka menatap lekat mata tajam dihadapannya, pikirannya mencerna kata-kata Darwin barusan.


Apa maksud perkataan Darwin? Dan kenapa jantungnya berdebar seperti sedang melakukan marathon seribu meter.


Siapa yang Darwin cintai?


Apa dirinya???


Dianka sungguh membutuhkan penjelasan dari perkataan Darwin, ia sungguh tidak mengerti.


"A-apa maksud mu mas?"

__ADS_1


__ADS_2