
Hari minggu adalah hari dimana seseorang menghabiskan waktunya untuk berlibur ataupun sekedar berkumpul bersama keluarga.
Sama hal nya dengan Dianka yang lebih memilih beraktivitas di rumah bersama sang suami.
Terlihat sepasang suami-istri itu tengah berada di halaman belakang, mereka berdua tengah berjemur di bawah teriknya matahari pagi.
Silau nya cahaya matahari membuat mereka menggunakan kacamata anti radiasi, kedua begitu terlihat serasi dari sudut mana pun.
Sampai akhirnya Dianka merasa tubuhnya sudah mulai tak tahan akibat panas matahari tersebut, ia lalu melepaskan kacamata hitamnya dan beranjak dari sana.
Dianka merenggangkan otot-otot nya di pinggir kolam renang, ia menoleh ke arah sang suami yang masih berjemur disana.
Dianka menyeringai tipis, tanpa Darwin duga Dianka melepas jubah kimono nya dan memperlihatkan Dianka yang hanya memakai bikini.
Mata lelaki itu langsung membola dengan sempurna, ini masih terlalu pagi untuk melihat pemandangan yang membangunkan gairah.
Setelah itu Dianka menceburkan dirinya ke dalam kolam renang, wanita itu terlihat begitu lihai berenang dengan gaya bebas.
Setelah puas dianka kembali berhenti di tepi kolam dimana dirinya berhadapan langsung dengan Darwin.
Wanita itu menampakkan wajahnya dengan gaya yang sangat terkesan seksi apalagi dihiasi dengan rambut panjangnya yang basah.
Darwin dibuat takjub dengan makhluk sempurna itu, ia memejamkan matanya kala menahan sesuatu yang membara didalam jiwa.
Dianka menatap Darwin dengan tatapan menggoda, ia bahkan menggigit jari telunjuknya dan membuat Darwin semakin terpancing.
Oh shittt!
Umpat Darwin dalam hati, Darwin melepas kacamata hitamnya lalu bangkit dan membuka pakaian serta celananya membiarkan tubuh itu hanya dilapisi boxer hitam.
Oh My God.
Dianka berdecak kala melihat Darwin yang nampak seksi dengan memperlihatkan dada telanjaangnya.
Darwin lantas ikut menceburkan tubuhnya ke dalam kolam renang, Dianka yang melihat pria itu berenang hanya bisa diam ditempat sembari menikmati moment langka ini.
Darwin berhenti tepat didepan Dianka, pria itu membiarkan rambut basahnya bercucuran dan semakin membasahi tubuhnya.
Mereka berdua saling memandang satu sama lain, hingga Dianka mengangkat tangan dan meletakkannya di atas dada bidang Darwin yang terbuka.
"you are very sexy" Ungkap Dianka dengan nada yang dibuat se sensual mungkin.
__ADS_1
Darwin hanya menatap datar wanita itu, tanpa banyak bicara ia pun mencium bibir Dianka yang sedari tadi sudah meruntuhkan imannya.
"Emhh...... "
Darwin melepaskan ciuman tersebut dengan kening mereka yang masih menempel.
Nafas mereka pun sama-sama memburu.
"Jangan menampakkan wajah seperti itu lagi"
Mendengar itu Dianka semakin dibuat tertantang, tangannya bahkan sudah turun dan menyentuh perut sixpack milik sang suami.
"Oh sayang jangan menyiksa dirimu" Kata Dianka dengan nada manjanya.
Merasa sudah tak tahan Darwin kembali menyambar bibir sang istri dengan begitu buas, tangannya pun tak tinggal diam, ia mencari tali bra yang Dianka pakai dan melepasnya dengan mudah.
Darwin melepaskan kain itu ke atas tanpa melepaskan ciuman mereka.
Sedangkan Dianka tersenyum saat Darwin sudah mulai terbawa suasana.
Ciuman Darwin turun ke leher jenjang Dianka, ia mengecup dan memberi tanda merah disana.
Dianka tak henti-hentinya meracau, tak dipungkiri jika ia sudah larut dalam nikmat yang Darwin suguhkan.
Ciuman itu terus turun hingga sampai di dua bukit sintal nan besar, Darwin menatap benda itu dengan tatapan liar. Tanpa menunggu lama ia melahap benda bulat itu dengan sangat rakus.
Dianka meremaas rambut Darwin dan menekan kepala Darwin membuat kecupan itu lebih dalam.
Darwin terus bermain disana, ia seperti tak puas untuk terus bermain menjelajahinya.
Plak!
Darwin menepuk benda itu beberapa kali hingga membuat kulit Dianka memerah, kemudian melahap nya kembali dan terus seperti itu.
"Sayang...... Emmm..... "
Mendengar desahan Dianka membuat Darwin semakin bergairah, ia lantas menggendong wanita itu layaknya koala dan membawanya menuju kamar.
Mereka terus berciuman sampai akhirnya kedua tiba di dalam kamar.
Darwin merebahkan tubuh dianka diatas ranjang, ia menatap wajah Dianka lekat-lekat mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kau yakin?" Tanya Darwin serius.
Dianka menangkup kan wajah Darwin dan tersenyum manis pada pria tersebut.
"I'm yours"
Setelah mendengarkan penuturan Dianka Darwin lalu bangkit dan melepas kain yang tersisa di tubuhnya.
Lagi-lagi Dianka menggigit bibirnya saat manik coklatnya melihat sebuah benda perkasa yang sudah berdiri dengan begitu gagah.
"Oh my god, i like it"
Dianka lantas bangkit dari ranjang dan berjongkok dihadapan Darwin.
Mata sayunya sudah tidak bisa dibohongi jika kini ia sedang menahan sebuah hasrat.
Dengan penuh keyakinan jari-jari lentiknya terangkat dan membelai keperkasaan sang suami.
Darwin mengerang dan tak kuasa memejamkan mata, perlakuan Dianka begitu memanjakannya.
Lima belas menit Dianka melakukan aktivitasnya ia pun mengakhiri kegiatan tersebut kala Darwin mengangkat tubuhnya dan membaringkan nya kembali di atas ranjang.
"Aku tak akan membiarkan mu lolos kali ini" Ucap Darwin.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu" Ujar Dianka meluruskan ucapan Darwin.
Dengan sekali tarik helaian kain yang menempel di tubuh dianka terlepas begitu saja.
Darwin lalu memposisikan tubuhnya dengan benar.
"Aku janji akan pelan"
Setelah berkata demikian Darwin lalu melakukan apa yang seharusnya dari dulu ia lakukan.
Disisi lain Dianka menahan rasa sakit yang ia rasakan untuk pertama kalinya, ia mencengkram bahu Darwin dengan kuat hingga memunculkan sebuah goresan.
"Aku mohon pelan-pelan" Pinta Dianka dengan suara yang tercekat.
Darwin semakin memelankan gerakannya, sampai dimana miliknya menancap dengan sempurna.
Dan dengan ritme yang lembut Darwin menggerakan pinggulnya hingga keduanya dibuat mendesah sampai siang menjelang.
__ADS_1