
Kali ini Dianka pulang lebih awal, ia segera memasak makan malam untuknya dan darwin nanti.
Dianka tau ia memang sedang memberi pelajaran pada suaminya tersebut, namun sebagai seorang istri ia juga tidak boleh melepas tanggu jawabnya begitu saja.
Dianka juga tau jika darwin sudah mulai kesulitan melakukan berbagai hal tanpa dirinya. Dan karna itu pula Dianka sedikit memberi keringanan atas hukuman yang ia buat.
Walaupun terkadang rasa sakit hatinya kembali muncul disaat ia tengah sendiri atau melamunkan sesuatu, bayang-bayang Darwin yang membentak nya membuat Dianka harus menahan rasa ingin memeluk, mencium, dan menyentuh sang suami.
Sebagai wanita dewasa Dianka juga harus mempunyai pemikiran yang dewasa pula, ia tidak mau terlalu mengabaikan Darwin apalagi jika Darwin merasa bebas dan lebih memilih wanita lain dari pada dirinya.
Namun, jika Dianka bisa membuat lelaki itu berpaling kepadanya kenapa tidak? Meskin pada akhirnya Dianka tidak akan memaksa jika suatu saat Darwin lebih memilih untuk melepaskan dirinya.
Dianka kembali masuk kedalam kamar ketika acara masak memasak tadi selesai, ia pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum Darwin pulang ke rumah.
***
Pukul tujuh malam suara mesin mobil Darwin terdengar masuk ke halaman rumah, lelaki berusia tiga puluh tahun tersebut baru saja tiba dari kantor.
Hari ini ia ketiduran sangat lama hingga beberapa laporan yang belum dikerjakan harus ia selesaikan hingga larut malam.
Ketika Darwin hendak naik ke atas tangga ia mendengar suara berisik di dalam dapur.
Ia pun berbalik dan berjalan ke arah ruang makan sekaligus dapur.
Disana ia melihat Dianka yang sedang meletakkan masakan di atas meja makan, melihat itu hati Darwin menghangat kala melihat Dianka yang sudah pulang ke rumah.
Ia pun masuk ke ruangan tersebut.
"Di..... "
__ADS_1
Dianka menoleh ke arah sumber suara, indera penglihatannya langsung tertuju pada Darwin yang berjalan mendekat.
"Maaf aku baru pulang" Ucap Darwin pada Dianka.
Namun, Dianka hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Darwin.
"Tidak perlu minta maaf, mas. Duduklah" Ujar Dianka.
Darwin bergeming saat Dianka menyuruhnya duduk, Darwin berpikir apa Dianka lupa sesuatu? Bukankah biasanya Dianka akan menciumnya saat ia pulang? Apa Dianka kembali lupa seperti kemarin?
Bukankah wanita itu juga bilang hal tersebut adalah peraturan yang wajib dilakukan? Lantas kemana peraturan tersebut? Kenapa Dianka tidak melakukannya?
Ia sangat ingin menanyakan hal ini pada Dianka, tapi ia terlalu malu untuk mengungkapkannya.
"Mas?"
Suara Dianka membuat Darwin terkejut dan tersadar dari lamunan.
"Kenapa berdiri disana? Duduklah"
Darwin lantas duduk si kursi makan, mereka pun makan malam dengan tenang. Tapi hawa canggung diantara mereka begitu terasa bagi Darwin.
"Ekhm..... " Darwin berdehem untuk membuat suasana kembali normal walaupun itu tidak berpengaruh sama sekali.
"Di.... Emm..... Aku ingin bicara sesuatu padamu" Ujar Darwin.
"Bicara saja mas" Kata Dianka tanpa menghentikan aktivitas makannya.
Darwin menghela nafas berat, ia sedikit gugup untuk berbicara pada Dianka.
__ADS_1
"Emm... Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan bisakah kau tidak pergi bekerja sebelum aku berangkat ke kantor?"
Seketika Dianka menghentikan suapan nya.
"Sejujurnya aku agak kesulitan jika kau tidak ada" Ungkap Darwin.
"Bukankah aku sudah menyiapkan sarapan dan pakaian untukmu ke kantor, mas?" Tanya Dianka heran.
"I-iya, tapi aku akan bangun kesiangan jika tidak dibangunkan" Jawab Darwin beralasan.
"Kalau begitu akan aku siapkan alarm malam ini"
Sontak saja Darwin dibuat tak percaya, ia sama sekali tidak terpikirkan tentang itu. Dan sekarang ia tidak tahu harus beralasan apa lagi supaya Dianka menuruti kemauannya.
"Tapi Dianka, itu tidak akan mempan bagiku. Tolong untuk kali ini saja turuti permintaan ku" Darwin memohon dengan wajah memelas, ia berharap Dianka akan menyetujui keinginannya yang satu ini.
Dianka tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak. Jika ia menyetujui permintaan Darwin lantas bagaimana dengan hukum yang ia rencanakan?
"Dianka.... Kau mau kan?"
Dianka tetap diam, ia tak bisa berkata apa-apa, mungkin saja Darwin memang sangat membutuhkan kehadirannya.
Dengan berat hati Dianka pun menganggukkan kepalanya.
Dan itu membuat Darwin berbinar dan berbunga-bunga.
"Benarkah Di?" Tanya Darwin memastikan.
"Ya"
__ADS_1
"Akhirnya..... Terimakasih Di" Darwin pun melanjutkan makan malamnya dengan bersemangat, bahkan ia menambah porsi makannya. Darwin bagaikan rindu memakan masakan Dianka sambil ditemani oleh yang memasaknya langsung.
Sedangkan Dianka hanya tersenyum dalam hati melihat tingkah laku Darwin.