
Hari berikutnya Alfred, Darwin, dan Dianka datang juga ke kediaman orang tua Anna.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu sekaligus hari yang paling menegangkan bagi Alfred dan juga Anna.
Namun keduanya ingin menyelesaikan ini semua, mereka tidak bisa menunggu lama. Mereka ingin secepatnya terikat dengan yang namanya pernikahan, karna semakin lama ditunda akan semakin banyak juga masalah yang mereka hadapi.
Maka dari itu disinilah mereka berada, duduk di hadapan kedua pasangan paru baya yang menatap mereka dengan intens, berserta Anna yang juga duduk di salah satu kursi tunggal. Mata mereka tertuju ke arah Alfred, seakan-akan bertanya ada apa.
"Sudah lama kita tidak bertemu Alfred, semenjak adikmu meninggal aku tidak pernah melihat keberadaan mu lagi" Tutur lelaki tua disana.
Alfred mencoba memberanikan diri menatap wajah Ayah dari kekasihnya tersebut, ia menelan saliva nya kuat-kuat.
"Saat itu.... S-saya.... Su-sudah menikah Paman... " Lirih Alfred, sumpah Demi apapun jantungnya kini berdebar seperti tengah melakukan marathon. Keringat pun keluar dari sela-sela kulit kepalanya, namun yang berbeda Alfred mengeluarkan keringat dingin.
"Kami tahu kau sudah menikah semenjak pertunangan mu dengan putriku batal. Tapi Alfred, kami selalu membuka pintu selebar lebar nya untukmu... Kau adalah satu-satunya pengikat persahabatan keluarga kami dengan keluarga mu" Ucap ayah Anna panjang lebar, ia menatap anak sahabatnya tersebut dengan sayu.
Alfred tertegun! Rasa bersalah nya kian menjalar mendengar tutur kata dari lelaki yang ia sebut Paman ini. Keluarga Anna masih sama baiknya seperti dulu, ia merutuki tindakan konyol yang dirinya lakukan saat itu.
"Maaf paman... Saya hanya takut kalian kecewa, saya... Saya belum siap bertemu orang sebaik kalian" Ungkap Alfred lirih.
"Kenapa kami harus kecewa nak? Disini yang salah adalah Anna putri kami. Dia yang membatalkan pertunangan kalian... Seharusnya disini kami lah yang meminta maaf padamu" Serunya.
"Iya benar kata Paman mu ini nak, kami minta maaf atas kesalahan Putri kami" Sambung Ibu Anna pada Alfred.
Seketika Alfred langsung menatap ke arah sang kekasih yang juga berada disana, Anna cepat-cepat menunduk tak kuasa bersitatap dengan Alfred.
"Tapi Paman sebenarnya.... "
Alfred hendak berbicara namun Dianka lebih dulu menyela ucapan Alfred.
__ADS_1
"Tanpa kalian minta maaf Alfred pasti sudah memaafkan kesalahan Anna, Alfred juga akan meminta maaf jika selama ini dia menghilang begitu saja. Bukan begitu Alfred?" Kata Dianka, ia tau Alfred pasti akan mengucapkan kejadian yang sesungguhnya. Tapi Dianka ingat permintaan Anna yang menyuruhnya untuk menutupi peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Alfred dan Darwin menoleh pada Dianka dan memberi tatapan heran pada wanita itu.
"Alfred?" Seru Dianka membuyarkan lamunan laki-laki ini.
"Hah??? O-oh.. I-iya tentu...
Aku minta maaf Paman, Bibi, jika selama ini aku menghilang tanpa kabar sedikit pun. Tapi sekarang Tuhan mempertemukan aku dan Anna lagi, dan pertemuan ini membuat kami sadar jika kami sudah saling mencintai. Maka dari itu aku kesini... Untuk melamar Anna lagi" Ucap Alfred menjelaskan.
Kedua orang tua tersebut mendadak dibuat terkejut, pasangan suami istri itu saling pandang dan berbicara melalui tatapan mata.
"Melamar Anna?" Tanya ayah Anna memastikan.
"Benar Paman, jika Paman dan Bibi berkenan... Aku ingin melamar Anna lagi sebagai istriku... Bukan karna sebuah perjodohan melainkan karna kami sudah saling mencintai dan ingin menjalani hubungan ini ke jenjang pernikahan" Ungkap Alfred pada orang tua Anna.
"Benar Tuan dan Nyonya, maksud kedatangan kami kesini untuk melamar Putri Tuan dan Nyonya sekalian. Kami paham jika kedatangan kami ini sangat mendadak... Tapi kami bisa pastikan jika kedatangan kami kesini tidaklah main-main, selain ingin mengikat lagi hubungan persahabatan kami juga ingin mengikat tali persaudaraan dengan melamar Putri Anda" Darwin berbicara dengan lugas dan tegas, mencoba menyakinkan Ayah dan Ibu dari kekasih Alfred tersebut.
"Saya tau mendapat restu Paman dan Bibi tidaklah mudah, apalagi status saya yang sekarang bukanlah seorang lajang seperti dulu. Tapi sekarang saya benar-benar mencintai Anna... Anna adalah tujuan saya hidup didunia ini, setelah Ayah, Ibu, dan adik saya tiada kini Anna lah yang menjadi tujuan untuk saya bernafas...
Saya mohon kepada Paman dan Bibi... Tolong restui kami... " Ujar Alfred dengan suara bergetar, moment ini adalah moment yang penting baginya. Dimana ia berjuang untuk menikahi seorang wanita dengan hati dan keinginan sendiri.
Ayah beserta Ibunda Anna masih diam memikirkan kata-kata yang masih mengejutkan keduanya, hingga Ayah Anna pun mengeluarkan suaranya.
"Status tidaklah penting bagi kami, mau kau masih berstatus lanjang tau pun tidak sebenarnya tidak masalah.
Apa kau sungguh serius dengan Anna?" tanyanya.
"Saya serius Paman, sangat serius!"
__ADS_1
"Apa kau menikahinya karna kedua orang tuamu?"
"Tidak! Saya ingin menikahi Anna karna keinginan saya sendiri, karna rasa cinta saya yang sangat besar pada Putri Paman dan Bibi" Jawab Alfred tegas.
Ayah Anna terdiam sebentar, membuat semua yang berada disana mendadak tegang ingin mendengar ucapan selanjutnya.
Tapi sedetik kemudian Ayah Anna mengangguk sambil mengukir senyumnya, ia mencondongkan badannya dan menepuk bahu Alfred.
"Paman pegang kata-kata mu, tapi jangan sakit Anna! Dia putri kami satu-satunya"
Alfred langsung mendongak dan memandang kedua pasangan itu dengan tatapan tak percaya.
"Ka-kalian... Merestui kami???"
"Iya nak Alfred, kami merestui kalian" Sambung Ibunda Anna.
Anna tak kuasa menahan air matanya, ia pun seketika menangis haru. Sang Ibu pun dengan sigap memeluk putrinya itu.
Alfred pun langsung berdiri dan hendak bersujud di kaki Ayahanda sang kekasih, tetapi lebih dulu Ayah Anna melarang dan memeluk tubuh Alfred.
"Terimakasih Paman.... Terimakasih... Saya akan selalu melindungi Anna... Apapun itu saya akan tetap mencintai Anna.. Terimakasih Paman... Terimakasih atas restu kalian... "
Darwin dan Dianka yang melihat moment hangat di depannya ikut terbawa suasana, mereka senang melihat kedua orang tersebut akhirnya menemukan jalan hidup mereka.
Butuh waktu bertahun-tahun agar mereka bisa dipersatukan lagi, banyak rintangan yang datang namun Tuhan memilih mempersatukan lagi agar mereka melewati rintangan itu bersama-sama.
Darwin merangkul tubuh Dianka seolah membiarkan istrinya melampiaskan rasa kebahagiaan tersebut.
Satu hal yang pasti, jika kita mau berusaha kita akan menemukan jalan pintasnya. Meskipun menakutkan dan belum tentu dapat tetapi jika kita selalu berusaha Tuhan pun pasti senantiasa mempermudah jalan dan arahnya.
__ADS_1
Yang paling penting jangan pernah takut dan selalu percaya!