ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Kesempatan


__ADS_3

"Maka dari itu, aku akan mencoba ikhlas untuk melepaskan mu, mas"


Duarrrr!!


Mata Darwin terbelalak dengan lebarnya!


Degup jantungnya pun terasa berhenti berdetak mendengar perkataan keramat yang terucap dari bibir manis sang istri.


Melepaskan?


Apa maksudnya?


Dianka ingin mereka bercerai?


Begitu???


Tidak! Darwin tidak mau! Ia pasti salah dengar.


"Di a-apa maksud perkataanmu? Jangan seperti ini Di aku tidak mau.... " Tolak Darwin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.


"Aku rasa kita cukup sampai disini, mas"


"Tidak Dianka! Aku tidak mau!'


Darwin berlutut dan memegang erat kedua lengan Dianka, ia memohon pada wanita yang berstatus istrinya agar Dianka kembali menarik ucapannya barusan.


" Di aku mohon maafkan aku... Maafkan aku yang selama ini tidak becus menjadi suamimu.... Aku minta maaf Di.... Maafkan aku tolong tarik kata-kata mu barusan.... "


Dianka diam menatap lurus ke arah depan, sesungguhnya hatinya pun ikut sesak mendengar Darwin yang memohon, namun Dianka ingin tau sebesar apa Darwin menganggap pernikahan ini ada.


"Di.... Aku minta maaf.... Hiks...


Aku berdosa padamu.... Aku tau aku salah.... Aku tidak tegas padamu, tapi aku butuh waktu untuk menyakinkan perasaan ku Di... Hiks... " Darwin menunduk sambil menangis pedih, kenapa rasanya sakit sekali?

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksa mu untuk mencintai ku mas, tapi akan belajar ikhlas untuk merelakan mu jika kau ingin bersamanya" Ucap Dianka, hal itu semakin membuat Darwin menangis.


Darwin melepas genggaman tangannya dan memeluk kaki Dianka, ia menumpahkan air matanya disana. Darwin menyesali semua perbuatannya yang telah menyakiti hati Dianka, ia akan merasa sangat kehilangan jika harus berpisah dengan wanita ini.


Dianka berjuang untuk rumah tangganya seorang diri, sedangkan ia sama sekali tidak pernah memikirkan tentang hal itu.


"Aku mohon beri aku kesmpatan Di.... Aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu..... Aku janji.... "


"Apa yang kau suka dariku mas? Bukankah kau hanya menginginkan tubuhku?" Tanya Dianka dingin.


Darwin mendongak sembari mengernyitkan kedua alisnya.


"Dianka aku tidak sejahat itu, aku butuh perhatian mu bukan tubuhmu saja! Aku sudah terbiasa dengan perhatian yang kau berikan dan sekarang aku sangat kehilangan itu... Aku tidak ingin kehilangan mu Di.. " Jelas Darwin panjang lebar.


"Mas berdirilah, jangan merendahkan dirimu seperti ini"


"Aku tidak akan berdiri sebelum kau berjanji untuk memberiku kesempatan dan memperbaiki rumah tangga kita" Tolak Darwin bersikeras.


"Mas lepaskan aku"


"Aku tidak mau!"


Darwin terus dalam pendiriannya, dan dengan terpaksa Dianka pun mengiyakan permintaan pria tersebut.


"Baiklah, kali ini aku akan memberikan kesempatan untuk mu mas"


Mendengar itu Darwin langsung mendongak dan menatap Dianka.


"Kau serius? Kau sedang tidak berbohong kan?"


"Ya aku serius, tapi lepaskan kaki ku dulu"


Darwin pun cepat-cepat melepasnya dan berdiri kembali.

__ADS_1


Ia memeluk tubuh Dianka sampai wanita itu merasa sesak dan tidak bisa bernafas.


"Terimakasih Di.... Terimakasih.... "


Dianka mengangguk serta membalas pelukan Darwin, kini ia merasa sedikit lega. Kedepannya Dianka akan melihat sejauh apa Darwin memperjuangkan rumah tangga mereka nanti.


Setelah cukup lama mereka berpelukan Darwin pun melepaskan pelukan itu dan menangkup kedua pipi Dianka.


"Jangan pernah mengatakan hal yang seperti tadi lagi Di... Aku takut... " Ujar Darwin.


Dianka tersenyum manis menanggapinya.


"Asal kau menepati janjimu mas"


Darwin mengangguk pasti.


Tangan Dianka terangkat memegang wajah sang suami.


Ia mendekatkan wajah Darwin dengan wajahnya hingga bibir mereka pun bertemu satu sama lain.


Cup


Darwin memejamkan matanya dan memeluk pinggang Dianka sampai tak ada jarah sedikitpun.


Darwin sudah sangat rindu dengan bibir ini, ia ingin setiap pagi berciuman dengan Dianka seperti dulu.


Sama halnya dengan Dianka, ia pun sudah sangat lama memendam hasrat akan sentuhan Darwin, tapi sebisa mungkin ia tahan.


Darwin mel*mat bibir Dianka dengan lembut, ia menyapu bersih isi di dalam rongga mulut itu. Mengecap dan menjelajah semua yang ia ingin rasakan.


Mereka saling melepas rindu yang sekian lama tidak dirasakan, bahkan ciuman mereka semakin panas dan membara apalagi Dianka yang mengalungkan lengannya di leher Darwin.


Cukup lama mereka berciuman Darwin merasa reaksi tubuhnya sudah hampir tidak bisa dikendalikan, ia pun mengakhiri ciuman tersebut dan mencium kening Dianka dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2