
Kini Dianka dan juga Darwin sudah berada di dalam kamar, Darwin sedang membersihkan tubuhnya didalam kamar mandi sedangkan Dianka tengah berbaring di ranjang setelah memakai cream malam.
Saat Dianka baru saja membaringkan tubuhnya suara ponsel milik Dianka berbunyi dan dia pun mengambil benda tersebut.
Ternyata ada pesan masuk dari whatsapp nya, tapi pesan tersebut dikirim dari nomor yang tidak dikenal.
"Nomor siapa ini?" Gumam Dianka.
Ia lalu membuka isi pesan itu.
Temui aku besok pukul dua siang di cafe Nie.
Dianka mengangkat satu alisnya tanda bingung, pesan ini tidak mencantumkan nama atau inisial sang pengirim.
Ia pun membuka foto profil nomor tersebut, ketika ia sudah membukanya Dianka begitu terkejut melihat foto yang terpajang disana.
"Adelia?"
Dianka begitu bingung dengan semua ini, kenapa Adelia ingin bertemu dengan dirinya? Dan darimana Adelia tahu nomor ponselnya? Apa Darwin yang memberikan nomor ponsel Dianka?
Dianka melilih agar tidak membalas pesan dari Adelia, tapi ia sudah memutuskan untuk menemui wanita itu besok sesuai yang dia katakan dipesan tadi.
Disaat Dianka tengah sibuk dengan pikirannya saat itu juga Darwin keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di pinggang.
Air yang jatuh ber tetesan membuat Dianka menelan ludah dengan susah payah, apalagi dengan rambut yang dikibaskan ke belakang semakin menambah pesona lelaki disana.
"Di..... "
Ucapan Darwin langsung membuat Dianka terkesiap, dia menggeleng pelan kepalanya untuk mengusir rasa kagum pada suaminya sendiri.
"Dianka apa kau tidak menyiapkan pakaian untuk ku?"
__ADS_1
"O-oh iya, aku lupa" Dianka bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian Darwin.
ketika Dianka sedang memilih pakaian untuk suaminya tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkar di perut Dianka.
"Mas lepas" Titah Dianka.
"Kenapa?" Tanya Darwin, wajahnya begitu dengan dengan Dianka, harum rambut Dianka membuat indera penciuman Darwin tak kuasa untuk tidak menghirupnya.
Dianka berbalik dan melepas lengan Darwin yang melingkar di perutnya.
"Ini pakaianmu mas, setelah itu tidurlah karna malam semakin larut"
Setelah memberikan pakaian tidur untuk Darwin Dianka lalu naik ke atas ranjang dan tidur sambil membelakangi sang suami.
Darwin hanya bisa menelan rasa kecewa, padahal ia sangat ingin bercinta dengan sang istri, namun Dianka justru lebih memilih tidur. Sudah beberapa hari ini ia tak merasakan belaian Dianka, bahkan ia sering melakukan pemuasan dengan dirinya sendiri layaknya lelaki diluaran sana.
Jujur Darwin merasa jijik jika harus melakukan hal tersebut, tapi ia tak bisa menyiksa dirinya sendiri. ia juga terlalu malu untuk meminta duluan, biasanya Dianka selalu peka apa yang ia mau tanpa harus Darwin katakan, dan malam ini Dianka kembali melupakan ciuman sebelum mereka tidur.
Seusai memakai pakaian Darwin pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri, kali ini Darwin hanya bisa menatap punggung Dianka yang terbungkus oleh selimut tebal.
Darwin memainkan rambut Dianka tanpa menggangu tidur istrinya, ia tak mau Dianka terbangun karna ulahnya ini.
Hidung Darwin pun kembali menghirup wanginya rambut tebal Dianka, ia sangat rindu dengan harum seperti ini.
Entah hingga pukul berapa Darwin seperti ini, sampai akhirnya ia tertidur ke alam mimpi.
***
Sesuai permintaan Darwin pagi hari Dianka tidak langsung bekerja, ia mengurus suaminya terlebih dahulu.
Dari mulai membangunkan Darwin, memasangkan dasi, dan ikut sarapan bersama.
__ADS_1
Darwin juga terlihat lebih bersemangat dibanding kemarin, walaupun tidak ada percakapan diantara keduanya tapi hal ini sukses membuat Darwin nampak segar di pagi hari.
"Terimakasih Di sudah menuruti permintaan ku" Ucap Darwin saat mereka sudah berada di teras rumah untuk mengantar Darwin berangkat ke kantor.
"Tidak perlu berterima kasih, mas. Itu sudah menjadi tugas ku"
Darwin mengangguk sambil menampilkan senyum tipis.
"Kalau begitu aku berangkat dulu"
"Iya, hati-hati"
Darwin berbalik dan hendak melangkah menuju mobilnya, namun sesuatu membuat Darwin ingin berbalik dan berjalan ke arah Dianka.
Langkah Darwin terhenti, pria itu pun berbalik.
"Dianka.... "
Dianka yang baru saja akan masuk ke dalam rumah seketika mengurungkan niatnya.
"Ada apa mas?"
Darwin diam, ia terlalu gugup untuk mengatakan keinginannya, jantungnya pun berdegup kencang, tenggorokannya tercekat dan sulit mengeluarkan suara.
"Mas? Ada apa?"
"Emm.... Itu.... Aku.... Aku..... " Ujar Darwin terbata-bata.
"Kenapa mas?" Dianka pun bertanya lagi.
"Emm.... Aku.... Aku....."
__ADS_1
"Ah tidak, tidak ada apa-apa. Aku berangkat" Tanpa mengatakan apapun lagi Darwin lantas masuk ke dalam mobil dan berangkat bekerja.
Dianka menggeleng geleng kan kepalanya melihat kelakuan aneh Darwin.