ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Sulit Dihubungi


__ADS_3

"Honey... Tidak bisakah kita menikah besok? Aku ingin cepat-cepat menjadikan mu istriku" Rengek Alfred yang kini tengah berada di apartemen sang kekasih.


Tetapi Anna justru membeku saat mendengar ucapan Alfred yang memanggilnya dengan kata-kata 'honey'


"Honey?? Sejak kapan kau memanggilku seperti itu?" Tanya Anna.


Seketika Alfred menegakkan tubuhnya.


"Kenapa? Kau tidak suka aku memanggilmu seperti itu?" Ucap Alfred yang malah bertanya balik.


"Bukan begitu, hanya saja aku baru dengar" Jawab Anna.


Alfred pun kembali memeluk Anna dengan air muka yang merajuk bagaikan anak-anak.


"Mulai hari ini aku akan memanggilmu seperti itu honey" Ujar Alfred.


Mendengar itu Anna hanya bisa pasrah dan membiarkan kekasihnya ini melakukan keinginannya.


"Ya, baiklah"


"Honey menurut mu perlukah kita mempercepat tanggal pernikahan kita? Aku sudah tidak tahan ingin menjadikanmu milikku" Rengek Alfred lagi.


"Tidak bisa Alfred, menikah itu butuh persiapan matang. Kita bahkan baru memesan busana untuk lamaran... Tidak bisa jika langsung menikah besok maupun lusa" Ucap Anna menjelaskan.


"Kalau begitu setelah lamaran kita langsung menikah saja besoknya" Kata Alfred.


"Tetap tidak bisa Alfred, setelah lamaran kita harus menyiapkan WO dan masih banyak lagi" Jawab Anna memberitahu.


"Kenapa harus banyak seperti itu sih honey....!! Aku sudah tidak sabar serumah denganmu, tidur bersamamu, memiliki anak-anak yang lucu dari rahimmu, dan masih banyak lagi" Ucap Alfred panjang lebar membayangkan pernikahannya nanti.


Anna yang mendengarnya ikut terbawa suasana, ia membalas pelukan calon tunangannya dengan perasaan haru.


"Jangan berkata seperti itu Alfred, aku jadi ingin cepat-cepat menikah kalau begini" Ucap Anna.


Seketika mata Alfred berbinar dibuatnya, secelah harapan muncul kali ini.


"Kalau begitu ayo kita majukan tanggal pernikahan kita" Tawarnya bersemangat.


"Tidak bisa Alfred.... " Tolak Anna.


Semangat Alfred yang sedang di atas awan mendadak jatuh saat mendapat penolakan Anna. Tubuhnya menjadi lemas seakan tulang-tulang nya berubah menjadi jelly.

__ADS_1


"Ya Tuhan.... Kasihanilah aku... " Ujar Alfred lesu.


"Memangnya kenapa sih harus buru-buru? Kan lebih baik perlahan-lahan tapi semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikit pun"


"Ya... Tapi kan aku sudah bosan tinggal sendirian, setiap malam aku hanya bisa memeluk guling sambil membayangi jika yang aku peluk adalah dirimu" tutur Alfred yang bercerita kegiatan setiap malam, jika saja Anna mengijinkannya untuk tinggal di apartemen wanita ini pasti dirinya tidak akan kesepian lagi.


namun sayang, Anna tidak ingin Alfred tidur di apartemen nya sebelum mereka menikah.


Sedangkan Anna dibuat tertawa dengan kelakuan Alfred, itu terasa lucu baginya.


"Kau ini ada-ada saja" ucap Anna malu, pipinya bahkan sudah memerah bak tomat yang baru matang.


Alfred yang tadinya lesu kini justru merasa gemas saat melihat wajah Anna yang nampak malu mendengar perkataannya.


Alfred pun mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Anna layaknya mencium pipi anak kecil. Sungguh, Anna benar-benar membuat suasana hatinya cerah lagi seperti sedia kala.


***


Malam harinya Dianka tidur di kamar seorang diri, meski ada pembantu yang menemani tetapi pembantu tersebut tidur di kamar yang berada di lantai satu.


Sudah satu hari terlewatkan, dirinya dan sang suami tidak bertemu.


Siang tadi pun mereka belum sempat berkomunikasi, Darwin yang susah dihubungi membuat Dianka memilih untuk menghubungi suaminya ketika malam hari.


Dan kini malam hari sudah tiba, setelah membersihkan tubuhnya Dianka berbaring di atas ranjang sambil menatap layar ponsel guna mencari nomor telepon Darwin.


Wanita itu mengklik tombol telpon, didekatkan nya benda pipih tersebut pada telinga Dianka.


Namun yang muncul justru suara operator yang menandakan jika nomor Darwin sedang tidak aktif.


Dianka pun lantas mencoba menghubungi Darwin sekali lagi.


Akan tetapi yang didapatkan nya pun masih sama, hal itu membuat alis Dianka berkerut.


"Kenapa dari pagi nomor mas Darwin tidak aktif ya??"


Masih belum menyerah, Dianka kembali menelpon sang suami berharap kali ini nomor Darwin dapat terhubung dan bukanlah suara operator yang muncul.


Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Mohon hubungi beberapa saat lagi, Tutttt......


Dianka menghembuskan nafas berat, pertanyaan-pertanyaan kian menelusup ke dalam pikirannya.

__ADS_1


"Masih tidak aktif juga... Sesibuk itukah pekerjaannya sampai nomornya pun tidak bisa aku hubungi??" Pikir Dianka menebak-nebak.


Dianka masih mencari cara agar dapat mengubungi sang suami, Dianka meng-scroll semua nomor di handphone nya yang ia anggap bisa memberitahu nya keberadaan Darwin.


Dan sampai dimana matanya tertuju pada nama asisten Darwin, tak menunggu lama Dianka pun langsung menelpon nomor tersebut.


Beberapa detik kemudian nomor itu pun akhirnya tersambung.


Dianka: Hallo??


Asisten Darwin: Hallo... Dengan siapa ini??


Dianka diam sebentar, suara dentuman dibalik telpon itu begitu terdengar di telinga Dianka. Hingga dirinya bisa menebak jika kini asisten Darwin sedang berada di sebuah club malam.


Dianka: Hallo, ini saya Dianka. Maaf menganggu waktumu, saya hanya ingin menanyakan keberadaan suami saya. Apakah dia bersamamu?


Namun yang didapat oleh Dianka bukanlah jawaban, melainkan telepon itu langsung diputus begitu saja.


Dianka dibuat tekejut, ia pun langsung menatap layar ponselnya.


"Kenapa malah ditutup? Sebenarnya ada apa? Aku kan hanya menanyakan keberadaan suamiku" Gumam Dianka heran.


Seketika ingatannya tentang suara dentuman itu muncul di benaknya, jika asisten Darwin sedang berada di sebuah club apakah Darwin juga sedang berada di sana??


Dan mungkinkah alasan asisten Darwin langsung menutup telepon karna takut jika Dianka mengetahui keberadaan Darwin yang sedang berada di tempat itu?? Benarkah begitu???


Pikiran-pikiran aneh mulai berkeliaran di otak Dianka, ia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali mencoba mengusir pikiran buruk terhadap suaminya.


"Dianka jangan berpikir aneh-aneh, lagipula belum tentu Darwin berada disana kan!" Seru Dianka menasihati dirinya sendiri.


Perasaan Ibu hamil itu mendadak tak karuan, ia mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.


Jangan sampai karna pikiran negatifnya kondisi sang buah hati jadi tebawa, ia harus tetap berpikir positif.


"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja. Mungkin mas Darwin akan pulang cepat besok dan menjelaskan semuanya" Dianka meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian berbaring kembali.


Matanya memandang langit-langit kamar sembari menerawang tentang Darwin yang hari ini sangat sulit dihubungi.


Dianka tau suaminya itu memang pergi untuk urusan pekerjaan, namun tidak adanya kabar dari Darwin membuat dianka berpikir kesana kemari.


Dan kini ia hanya bisa berdoa agar Darwin baik-baik saja dan pulang dengan selamat, dalam kondisi Dianka yang tengah mengandung membuatnya tak bisa berlama-lama jauh dari sang suami.

__ADS_1


"Tuhan... Lindungilah suami ku di manapun dia berada" Doanya.


__ADS_2