
"DIANKAAAAAA............ "
Suara teriakkan yang sangat Dianka kenal membuat pasangan yang sedang berpelukan seketika melepaskan diri.
Mereka menatap ke arah sumber suara dan ternyata Mami Resa lah yang berteriak sambil berjalan cepat karna tak bisa lagi berlari.
Wanita paru baya itu langsung mendekap tubuh putrinya dengan sangat khawatir.
"Sayang Mami sangat terkejut mengetahui jika ada buronan yang masuk ke rumah kalian, untunglah polisi itu sudah menangkapnya lagi. Apa yang dia lakukan nak? Apa dia menyakiti mu???" Tanya Resa bertubi-tubi.
"Aku tidak apa-apa Mam, untunglah mas Darwin datang tepat waktu" Jawab Dianka mencoba menenangkan kekhawatiran sang Ibu.
"Begitukah? Lalu bagaimana keadaan mu nak Darwin? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Mami Resa pada menantunya yang duduk disebelah Dianka.
"Aku tidak apa-apa Mam" Jawabnya.
"Hah... Syukurlah kalau begitu, tapi untuk apa dia kesini?" Gumam Mami Resa.
Darwin dan Dianka saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya Dianka pun menjawab.
"Emm... Mu-mungkin dia hanya sedang mencari tempat persembunyian agar tidak ketahuan oleh para polisi" Ujar dianka berbohong, iya tidak mau Mami Resa sampai tau apa yang sebenarnya terjadi.
Jika ia menceritakan kebenarannya makan urusannya akan sangat panjang, biarlah mereka menduga-duga lagipun Kevin sudah ditangani oleh aparat keamanan.
"Lebih baik sekarang kita ngobrol-ngobrol saja yuk mam, Dianka sudah buat kue kesukaan Mami sebentar lagi pasti matang" Ajak Dianka mengalihkan obrolan mereka.
"Ya sudah, ayok" Mereka pun beranjak dari sana dan mengobrol banyak hal tentang apapun yang ingin mereka ceritakan.
***
Dua hari kemudian....
Peristiwa kedatangan Kevin membuat Dianka dilanda syok dan cemas, ucapan Kevin yang ingin membunuh Darwin membuat dianka benar-benar dilanda rasa takut yang berlebihan.
Entahlah, rasa takut itu kini seakan menjalar di otaknya setiap jam, menit, bahkan detik.
Untuk menghilangkan rasa takut Dianka butuh sebuah jaminan yang membuat dirinya yakin jika Kevin jera dan tak akan melakukan hal nekat seperti itu lagi.
Dengan demikian Dianka ingin menuntut tindakan Kevin dengan bantuan pengacara.
Dan hari ini Dianka sedang menunggu seorang pengacara terbaik di sebuah cafe, didampingi oleh suaminya mereka duduk berhadap-hadapan dengan santai.
Tak lama muncul seorang wanita berpakaian formal menghampiri Darwin dan Dianka.
"Selamat siang, dengan Nona Dianka?" Tanyanya pada Dianka sambil menebar senyum canggung.
Dianka menoleh dan langsung berdiri sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Ah iya benar, saya Dianka. Dan anda.... "
"Anna" Jawabnya menerima uluran dari Dianka.
"Ah iya maaf aku lupa, senang bisa bertemu dengan anda" Ujar Dianka canggung, setelah sekian lama mereka dipertemukan lagi dengan kasus yang berbeda.
__ADS_1
Dianka masih ingat dulu Anna yang menjadi pengacara untuk Alfred dalam kasus penculiknya, tapi kini Anna justru menjadi pengacaranya sendiri.
"Selamat siang, Nona Anna" Tutur Darwin, mereka pun bersalaman.
"Selamat siang juga, Tuan Darwin"
"Silahkan duduk Nona Anna" ucap dianka mempersilahkan.
Ketiga orang disana lalu duduk, dengan Anna dan Dianka yang duduk bersebelahan.
"Sebelumnya maaf telah membuat kalian menunggu"
"Tidak masalah, lagipula kami juga baru datang" Balas Dianka tenang.
"Jadi sebenarnya kasus apa yang ingin anda ajukan Nona?" Tanya Anna memulai pembicaraan.
"Aku ingin menggugat seseorang karna dia mengancam akan membunuh suamiku"
"Benarkah? Boleh anda ceritakan kronologi nya seperti apa?" Anna berujar dengan ekspresi yang terlihat kaget.
"Jadi begini... "
Ketika Dianka akan berbicara tiba-tiba saja seorang lelaki datang dan membuat pembicaraan mereka terhenti sejenak.
"Anna??? Kau di sini? Kau bilang kau tidak akan kemana-mana. Baru saja aku akan berkunjung ke apartemen mu" Seru lelaki tersebut yang langsung duduk begitu saja.
"Kau?!!!" Darwin yang melihat kedatangan lelaki yang duduk disebelahnya dibuat terkejut sekaligus kesal.
"Kau?!!!"
Kedua pria tampan itu saling menatap dengan tajam! Ada tatapan tidak suka dari pancaran mata mereka.
Sedangkan Dianka dan Anna hanya terdiam kebingungan.
"Sedang apa kau disini?!" Tanya pria tadi dengan nada ketus.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Mau apa kau disini?! Apa kau tidak bisa melihat aku sedang ada urusan!" Sentak Darwin kesal.
Anna yang melihat itu menjadi tidak enak hati.
"Alfred kau tidak boleh seperti itu! Sebaiknya kau pergi, aku sedang ada urusan" Sahut Anna.
"Emm... Kalian masih berhubungan?" Tanya Dianka melirik ke arah Alfred dan Anna bergantian.
Alfred yang menyadari keberadaan Dianka mendadak menjadi gugup, namun ia harus bersikap biasa-biasa saja. Walaupun mungkin perasaannya pada Dianka sudah berubah namun tetap saja bertemu dengan orang yang pernah terlibat masalah dengannya membuat ia canggung.
"T-tentu saja kami masih berhubungan! Bahkan kami berpacaran sekarang" Sahut Alfred.
Anna dibuat melongo mendengar pengakuan pria tersebut, sejak kapan mereka berpacaran? Pikirnya dalam hati.
Sedangkan Dianka dan Darwin sedikit terperangah, namun Dianka bersyukur karna sekarang Alfred sudah mempunyai tambatan hatinya. Sama halnya dengan Darwin pria itu pun merasa lega karna dengan begitu Alfred tidak akan menganggu istrinya lagi.
"Oh syukurlah jika begitu! Berarti kau tidak akan menganggu ketenangan rumah tangga orang lain lagi" Seru Darwin meledek.
__ADS_1
Alfred menelan ludah kasar, ternyata Darwin masih saja mengingat hal itu.
"Sudah-sudah... Lebih baik kalian diam, aku harus berbicara penting dengan pengacara ku" Sergah Dianka tegas.
Alfred mengernyit kan alisnya bingung, pengacara?
"Pengacara? Jadi kau menyewa pengacara?? Untuk kasus apa?" Tanya Alfred penasaran, ia menatap intens pada Dianka.
"Jika kau ingin tau lebih baik kau diam dan dengarkan aku bercerita" Dianka pun akhirnya menceritakan kronologis kejadian kemarin, Anna dan Alfred menyimak cerita tersebut dengan serius.
Mengetahui jika kasus ini melibatkan Kevin sontak saja Alfred menggebrak meja dengan spontan.
"APA?!!! JADI SI BEDEBAHH ITU KABUR????" Teriaknya.
Semua pengunjung di cafe seketika memandang ke arah meja mereka.
"Dasar bodohh!" Umpat Darwin melihat kelakuan Alfred.
Alfred tidak memperdulikan tatapan orang lain, ia hanya fokus pada kejadian yang Dianka ceritakan.
"Iya, maka itu aku ingin menuntut lelaki tersebut"
"Dasar Psikopat! Apa tidak ada kerjaan lain selain membunuh orang??? Kevin sialannn.... " Desis Alfred kesal.
Mereka begitu pun mengangkat bahunya tidak tau.
Dianka kembali melanjutkan ceritanya, di tengah-tengah perbincangan mereka entah kenapa Darwin mencium aroma yang membuat hidungnya seakan dimanjakan.
Ia mengendus aroma itu sambil menutup matanya, aroma itu semakin mendekat dan wanginya benar-benar membuat Darwin jatuh cinta.
"ISHHH.... APA YANG KAU LAKUKAN?!!"
Seketika Darwin membuka matanya.
Deg!
Wajahnya dan wajah Alfred berjarak sangat dekat!
Dengan segera Darwin kembali ke posisi semula, ia berdehem untuk menormalkan suasana. Alfred masih menatap jijik ke arahnya.
"Lanjutkan!" perintah Darwin, mereka pun kembali fokus pada obrolan Dianka dan Anna.
Darwin mengumpat dalam hati! Bisa-bisanya ia melakukan hal bodoh seperti tadi... Argghhh!!!!!
Tapi kenapa aroma rambut Alfred begitu wangi dan ia pun langsung menyukai harum shampoo yang dipakai lelaki itu.
Namun beberapa menit kemudian Darwin kembali melakukan hal yang sama, ia kembali mengendus aroma rambut Alfred sambil menutup mata menyimpan dalam-dalam harum shampoo Alfred di otaknya.
"KAU INI SEBENARNYA KENAPA HAH?!! DASAR GILAA.....! KENAPA KAU BEGITU INGIN DEKAT-DEKAT DENGANKU????" Alfred langsung menjauhkan kursinya dari jangkauan Darwin.
Lagi-lagi Darwin dia buat aneh oleh tingkahnya sendiri, ia pun menatap wajah sang istri seakan bertanya ada apa dengan dirinya.
"Mas???" tatap Dianka aneh.
__ADS_1