
Sesampainya di rumah, ketiga orang itu pun keluar dari mobil.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Akhirnya kita sampai juga, kalau begitu aku pamit pulang ya. Terimakasih atas waktu kalian, maaf telah merepotkan kalian berdua" Ujar Alfred.
"Tidak masalah Alfred, tapi apa kau tidak mau mampir terlebih dahulu?" Tawar Dianka.
Dan hal itu membuat Darwin menyenggol lengan sang istri.
"Sayang, kenapa kau menawarinya masuk? Biarkan saja dia pergi" Ucap Darwin ketus.
"Mass.....!" Desis Dianka memperingati, mau bagaimana pun mereka memang harus sopan pada orang lain.
Darwin pun langsung terdiam dengan wajah yang sedikit kesal.
"Tidak apa-apa Dianka, lagipula aku tidak mau berlama-lama dengan suamimu yang posesif itu. Bisa-bisanya alergi ku kambuh" Tolak Alfred tak kalah ketus.
"Baguslah.... Sana pergi!" Usir Darwin.
"Mas... Jangan seperti itu" Potong Dianka.
Wanita itu pun kembali berucap pada Alfred.
"Baiklah jika kau memang ingin pulang, hati-hati dijalan karna berbahaya jika berkendara pada malam hari" Tutur Dianka menasihati.
Lagi-lagi Darwin merasa cemburu dengan perhatian yang Dianka beri pada rubah nakal itu! Ia menarik lengan istrinya agar semakin berdempetan dengan Darwin.
Alfred yang melihat itu hanya berdecak malas.
"Ck, dasar pencemburu!" Umpat Alfred dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Pria itu pun masuk ke dalam mobil pribadinya dan keluar dari pekarangan rumah Darwin.
***
Di dalam kamar, Darwin masih nampak kesal karna sikap manis Dianka pada lelaki yang baru saja pergi tadi.
Sedangkan Dianka seperti tidak peka jika saat ini Darwin tengah merajuk padanya.
Perempuan itu terlihat berjalan santai ke arah lemari untuk mengambil baju tidur miliknya dan milik Darwin.
Tak lama dianka berbalik dan melangkah mendekati suaminya.
Menyadari jika Darwin menatapnya tidak biasa Dianka pun lantas bertanya.
__ADS_1
"Ada apa mas? Kenapa melihatku seperti itu?"
Darwin semakin menatap Dianka tajam, ia semakin kesal kala Dianka benar-benar tidak sadar dengan kelakuan yang baru saja perempuan tersebut lakukan.
"Aku tidak suka kau perhatian pada Alfred!" Jawab Darwin tegas.
Alis Dianka berkerut, menandakan jika ia bingung akan jawaban Darwin.
"Perhatian? Perhatian yang mana yang kau maksud, mas?" Tanya Dianka sekali lagi.
"Ck! Apa kau tak ingat?? Kau menawarinya masuk dan mengucapkan hati-hati saat dia akan pergi. Kau pikir itu bukanlah sebuah perhatian?!!" Ucap Darwin dengan rasa kesal yang menggebu-gebu, bagaimana tidak cemburu? Dianka berkata demikian pada lelaki yang penah mencintainya! Sungguh, tidak bisa dibiarkan.
Mendengar itu dianka justru tertawa kencang, ia lalu mencubit kedua pipi Darwin gemas.
"Uhh.... Lucu sekali sih suamiku ini jika sedang cemburu" Seru Dianka.
Ia pun melepaskan cubitan itu dan menangkup wajah suaminya seraya menatap intens bola mata hitam Darwin.
"Mas... Aku bicara begitu pada Alfred karna kita memang harus sopan pada orang lain, aku sama sekali tidak melibatkan perasaan saat bicara dengannya. Jadi jangan marah ya... " Bujuk Dianka menjelaskan.
Darwin mendesah berat, ia memalingkan pandangannya untuk meredam emosi yang masih bergejolak.
"Ya sudah...
Kalau begitu, bagaimana jika.... Kita bercinta?" Bisik Dianka dengan tangan yang sibuk melepas pengait kancing kemeja Darwin.
Dengan cepat Darwin menarik pinggul sang istri membuat tubuh mereka kini tak berjarak sedikit pun.
"Kau memang pintar mengalihkan perhatian, apa yang akan kau lakukan agar suamimu ini tidak marah lagi hmm?" Tanya Darwin dengan ujung hidung mereka yang sudah menempel.
Dianka tersenyum menggoda, dengan beraninya ia menyentuh benda pusaka sang suami yang masih terbungkus celana bahan.
Darwin terpekik hebat, bukannya takut Dianka justru malah semakin tertantang untuk melakukan hal yang sudah pasti akan terjadi selanjutnya.
"Aku akan memuaskan nya, sudah beberapa hari ini 'dia' tak merasakan kehangatan dariku" Ujar Dianka santai.
Dan detik itu juga Darwin langsung menyambar bibir istrinya dengan ganas, menjelajahi bagian luar dan dalam tanpa ada keinginan untuk berhenti sekejap.
Dianka mengalungkan tangannya dileher Darwin membuat ciuman mereka semakin menjadi-jadi, sampai dimana Darwin mengangkat tubuh Dianka layaknya seekor koala.
Di dudukan nya Dianka diatas ranjang, ciuman itu terlepas sebentar saat mereka melepaskan seluruh pakaian yang mereka pakai masing-masing.
Setelah itu bibir mereka pun berpangutan kembali hingga deru nafas keduanya kian memendek.
Bibir Darwin berpindah ke leher jenjang Dianka dan memberi beberapa stempel merah disana.
__ADS_1
"Emhh..... Mas.... " Desah Dianka saat merasakan lidah Darwin menjelajahi areaa tersebut.
Terus turun hingga bibir Darwin bertemu dengan kedua benda menyembul yang semakin membesar.
Dilahapnya salah satu buah dadaa Dianka dengan satu tangan meremass yang lainnya.
Suara desahann Dianka semakin bergema di ruangan tersebut, dan semakin liar pula Darwin menjelajahi seluruh tubuh Dianka.
Rasa nikmat tersebut Dianka lampiaskan dengan menjambak rambut Darwin sampai berantakan.
Setelah puas mengecup seluruh tubuh istrinya Darwin kembali mencium bibir Dianka lebih panas sembari mengelus lembut bagian bawah sang istri.
"M-mas... Aku... Sudah... Tidak... Kuat... Emh... !!" Dianka melenguh nikmat.
Mendengar permohonan Dianka, Darwin seketika membimbing wanita tersebut agar duduk di atas perutnya yang berbentuk.
"Lakukanlah sayang... Puaskan aku sesuai perkataan mu" Perintah Darwin dengan suara serak.
Tak menunggu lama Dianka lantas mempimpin permainan dan membuat Darwin mengerang beberapa kali sambil menyebut namanya.
"Dianka... Eughh... Lakukan lebih cepat sayang... " Pinta Darwin tak kuat.
Namun Dianka menggeleng lemah.
"Aku tidak bisa mas... Maaf... " lirih Dianka yang masih sibuk dengan kegiatannya.
Jujur Darwin merasa tersiksa dengan permainan seperti ini, Dianka bermain dengan lembut dan pelan membuat Darwin yang biasanya bermain kasar dan cepat jadi uring-uringan dibuatnya.
Bukan tanpa alasan Dianka menolak keinginan suaminya, ia tau permainan Darwin di atas ranjang memang berbeda, tetapi Dianka tak ingin membuat bayi di dalam perutnya ini kesakitan akibat percintaan mereka.
Dengan sekuat tenaga Darwin menahan hasratnya yang meronta-ronta.
Pipi Darwin sampai memerah karna pelepasan itu sangatlah lama dari biasanya.
Mengetahui jika permainannya tidak memuaskan sang suami Dianka lantas berhenti dan turun dari perut Darwin.
"Sayang kau kemana? Aku belum mencapai pelepasan" Tanya Darwin.
"Aku akan melakukannya dengan cara lain, mas"
Dianka lalu berpindah di kaki Darwin kemudian membungkukkan badannya. Dan detik itu juga Darwin mengerang hebat menikmati kegiatan Dianka yang sangat memuaskan dirinya.
Dalam hati Darwin ia sangat memuja sang istri yang sangat lihai membuatnya melayang sampai menembus langit ke tujuh..
Dalam keadaan apapun wanita ini selalu memberikan Darwin yang terbaik.
__ADS_1
"Oh Dianka... Aku mencintaimu"