
Selepas dari rumah Darwin Alfred melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mewah tersebut.
Antara kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa Alfred dengan terpaksa mengiyakan permintaan Darwin untuk membawakan shampoo miliknya nanti.
Lagipula bisa-bisa Darwin mengidam aroma shampoo yang ia pakai, biasanya orang akan mengidam makanan seperti yang sering Alfred lihat di film-film.
Jika tidak melihat Dianka mungkin saja Alfred sudah membiarkan Darwin mencari sendiri merk shampoo yang ia pakai.
Permohonan Dianka yang meminta Alfred menuruti keinginan Darwin membuat lelaki itu tidak bisa menolak, kehamilan Dianka membuat Alfred merasa kasihan dan akhirnya menuruti keinginan sepasang suami-istri tersebut.
Di rumah Darwin, Darwin yang sedang sakit kini berbaring sambil memeluk tubuh istrinya, Dianka mengelus lembut rambut Darwin membuat suaminya merasa nyaman dengan sentuhannya.
Darwin memeluk Dianka layaknya anak kecil, pelukan Dianka menghangatkan tubuhnya, Darwin memejamkan mata walau sebenarnya ia tidak sedang tidur, tapi Darwin mencoba menghilangkan rasa pusingnya.
"Mas... " Seru Dianka.
"Hmm... " Darwin bergumam.
"Kenapa kau sangat menyukai aroma rambut Alfred?" Tanya Dianka penasaran.
"Entahlah... Coba tanyakan pada bayinya kenapa membuat papahnya ini begitu menyukai harum rambut pria tadi" Ujar Darwin mengalihkan pertanyaan Dianka.
Tangan Darwin mengusap pelan perut sang istri yang masih rata, wajar saja usia kandungan Dianka masih empat minggu belum terbentuknya sempurna.
"Tapi aku bersyukur, setidaknya bukan dirimu yang mengidam. Bahaya jika sampai kau yang menyukai aroma rambut Alfred" Cebik Darwin kesal membayangkan hal tersebut.
Dianka terkekeh lucu, memang benar bahaya jika sampai ia yang mengidam. Bisa saja Alfred kembali terbawa perasaan akan tingkah lakunya.
"Besok aku ada pertemuan lagi dengan Anna, kami harus membahas lagi kasus tentang Kevin" Tutur Dianka memperingatkan.
"Kau masih ingin melanjutkan kasus itu? Tapi aku takut kau kecapean dan malah stress memikirkannya. Sudahlah jangan dilanjutkan saja" Tawar Darwin, ia tidak mau sampai masalah ini membuat Dianka sakit dan berakibat buruk terhadap kandungannya.
"Tidak bisa mas, aku harus tetap melanjutkan kasus ini. Mas tenaga saja, kami membahas nya di rumah kok tidak di cafe seperti kemarin jadi aku tidak akan kecapean" Kata Dianka dengan yakin.
Tak ada jawaban dari Darwin, ia seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Bukankah Anna adalah kekasih Alfred?"
"Iya benar"
"Apa besok Alfred akan datang juga kesini?" Tanyanya.
Dianka mengernyit heran, kenapa suaminya ini malah menanyakan Alfred.
"Aku tidak tau, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Emm... Sayang bisakah kau telepon pengacara mu itu dan suruh dia untuk mengajak kekasihnya kesini besok" Pinta Darwin.
"Tapi untuk apa, mas?"
"Tentu untuk menagih barang yang aku minta, dia kan sudah berjanji mau memberikan shampoo nya untukku"
Dianka membelalakkan matanya sedikit, ternyata Darwin masih saja membahas masalah shampoo yang menjadi salah satu barang yang ia inginkan. Ada-ada saja!
"Emm... Ya baiklah, nanti aku telpon Anna untuk mengajak Alfred kemari untuk membawa shampoo yang kau minta"
Seketika senyum pun terbit di bibir Darwin.
"Terimakasih sayang" Ucap Darwin senang.
***
Sore hari Alfred yang baru pulang dari kantornya langsung menuju ke apartemen Anna, tetapi sampai malam pukul tujuh wanita yang dicari sama sekali belum muncul juga.
Alfred masih setia berdiri di pintu apartemen Anna berharap kekasihnya segera datang.
Jam terus berdetak hingga menujukkan pukul delapan malam, Alfred mendesah berat mengetahui Anna belum juga pulang ke apartemen, nomor ponselnya pun tidak aktif sedari tadi.
Mungkin Anna sedang sibuk hari ini, lebih baik ia pulang saja ke rumah. Ya mungkin malam ini ia tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
Dan saat lift itu terbuka Alfred berpapasan dengan Anna yang berada di dalam lift tersebut.
Badan Alfred menegak kembali dengan mata yang berbinar binar, tak bisa membohongi jika Alfred benar-benar senang melihat Anna disana.
"Anna kau sudah pulang??" Ucap Alfred gembira.
"Alfred kau disini?" Ujar Anna balik bertanya saat ia sudah keluar dari lift.
"Iya, aku menunggu tadi"
"Benarkah? Sudah berapa lama?"
"Emm.. Hampir dua jam, tapi tidak apa-apa aku senang kau sudah pulang" Anna memandang tak enak hati pada Alfred, ia tidak tau kekasihnya akan berkunjung malam ini. jika ia tau pasti Anna akan pulang lebih cepat.
"Maafkan aku Alfred, tadi ponselku juga mati... Maaf telah membuatmu menunggu lama" Sesalnya.
Buru-buru Alfred menggeleng.
"Tidak tidak, tidak perlu minta maaf. Lebih baik kita masuk ya aku ingin segera duduk" Ucap Alfred cengegesan.
"Oh tentu, ayo kita masuk"
__ADS_1
Mereka pun memasuki kamar apartemen Anna, Alfred langsung merebahkan bokonggnya di atas sofa empuk.
"Tunggu sebentar aku akan ganti baju dulu" perintahnya pada Alfred.
Alfred hanya mengangguk sebagai tanggapan, tapi matanya terus melihat ke arah Anna yang sudah memasuki kamar tidur wanita itu.
Alfred terus memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di dalam kamar wanita cantik tersebut membuka seluruh pakaian kerjanya dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju salin. Karna sudah malam dan ada Alfred Anna memutuskan untuk tidak mandi sebab memang tidak baik jika mandi di jam-jam seperti ini.
Ketika ia tengah fokus mencari pakaian untuk dipakai tiba-tiba saja tangan seseorang memeluk tubuh Anna yang hanya memakai baju dalam.
Anna terlonjak kaget, ia pun menoleh dan mendapati keberadaan kekasihnya. Anna memberontak berusaha melepaskan tangan Alfred yang melilit di pinggang nya.
"Alfred lepaskan dulu! Aku mau.... "
Belum sempat Anna meneruskan perkataannya Alfred sudah memotong kata-kata yang akan terlontar dari bibir Anna.
"Aku juga mau" Seru Alfred.
Saat itu juga Anna mematung, entah kenapa Anna merasa ada hawa hawa yang tidak beres dengan perkataan ambigu yang Alfred ucapkan, ia menelan saliva nya kuat-kuat.
"M-mau apa?" tanya Anna gugup.
"Mau ini" Ujar Alfred dengan tangan yang meremass buah dada Anna.
"Alfred...!!" Anna berteriak sangking terkejut, tubuhnya seolah disengat aliran listrik.
"Bolehkah aku melakukannya?" Tanya Alfred yang sudah kembali meletakkan tangannya di posisi semula.
Anna berpikir dengan keras, apakah ia harus menerima keinginan Alfred yang satu ini atau tidak. Jujur Anna juga ingin tapi....
Suasana menjadi henti sesaat, Alfred masih menunggu jawaban Anna. Namun Anna masih berpikir dengan keras.
"Anna... " sahut Alfred.
"Y-ya???"
"Bolehkah?" Tanyanya lagi.
Anna membalikkan badannya guna menatap wajah Alfred, ia harus membicarakan hal ini pada kekasihnya itu.
"Bukannya aku tidak mau Alfred, tapi.... Bagaimana.... Bagaimana jika aku hamil kalau kita terus melakukannya?" pikir Anna.
"Ha-hamil?"
__ADS_1