ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Harapan


__ADS_3

Pagi pun menjelang, matahari sudah muncul di ufuk timur menyilaukan bumi yang sebelumnya gelap oleh sinar semu bulan.


Mata Dianka mengerjap setelah semalaman merapat dengan sempurna.


Tatapannya langsung tertuju pada Darwin yang masih setia memeluk dirinya sembari menyembunyikan wajah tampan itu di kedua belahan dadanya.


Dianka mengelus rambut Darwin dengan pelan dan mengecup kening sang suami.


Dengan hati-hati Dianka melepas tangan Darwin yang melingkar di pinggangnya, ia tidak mau sampai lelaki itu terbangun.


Setelah lepas Dianka beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi guna mencuci muka dan menggosok gigi.


Seusai itu Dianka berjalan ke arah dapur untuk memasak sarapannya dan juga Darwin.


Hari ini senyum Dianka terlihat begitu manis tak seperti sebelumnya, saat ia berusaha cuek dan dingin. Namun hari ini ia begitu bahagia, mungkin karna kejadian kemarin malam.


***


Pukul enam lebih Dianka masuk kembali ke dalam kamar setelah selesai memasak di dapur.


Saat Dianka membuka pintu Darwin masih belum bangun dan masih tertidur seperti posisi sebelumnya.


Dianka pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu baru ia akan membangunkan sang suami.


Pukul setengah tujuh Dianka keluar dengan menggunakan selembar handuk di tubuhnya, ia melangkah ke arah lemari untuk mengambil pakaian.


Ketika ia tengah sibuk memilih-milih pakaian tiba-tiba saja sebuah lengan kekar melingkar di pinggang ramping Dianka.


"Mas? Kau mengagetkan ku" Tutur Dianka.


"Hmm.... " Namun Darwin hanya berdehem sebagai tanggapan.


Tanpa Dianka duga tangan Darwin melepas handuk yang menutupi bagian tubuhnya dan kini membiarkan tubuh molek Dianka terpampang dengan jelas.


"Mas?" Dianka menoleh kebelakang melihat wajah Darwin yang datar dan sedang fokus pada tubuh indahnya.


Kedua tangan Darwin terangkat menyentuh kedua benda sintal milik Dianka, ia mer*mas gundukan tersebut dan memutar-mutar lingkaran merah muda dengan jari telunjuknya.


Dianka hanya bisa mengigit bibirnya seraya menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya sendiri.


Plakkk!

__ADS_1


Darwin menampar benda tersebut hingga membuatnya memerah.


Plakkk!


Plakkk!


Plakkk!


"Emm...... Mas..... Sshh.... "


Bibir Darwin tak tinggal diam, ia mencium leher Dianka dan membuat tanda merah di sekitaran leher bagian belakang.


Merasa tak tahan Darwin pun membalikkan tubuh Dianka agar menghadap ke arahnya.


Ia lalu melahap benda bulat yang semalaman ingin ia cicipi.


Dianka mendesah, ia tak mau munafik dengan dirinya sendiri, ia juga sangat menginginkan sentuhan Darwin setelah sekian lama tidak disentuh.


"Emmm..... Apa ini milikku?" Tanya Darwin di sela-sela kegiatannya.


Dianka menunduk dan tersenyum manis, kemudian menganggukkan kepalanya.


Darwin tersenyum dan mencium bibir Dianka dengan penuh nafsu, tangannya tak berhenti berkeliaran di tubuh sang istri.


Ciuman itu turun dan kembali singgah di kedua benda padat, Darwin menjilati dan menggigit benda pink disana hingga tertarik beberapa centimeter.


"Aauwhh... Mas, sakit!"


Tapi Darwin malah tersenyum dan melakukannya kembali.


Dianka segera mendorong bahu Darwin dan memegangi bagian tubuhnya yang memerah akibat ulah suaminya.


Benda pink itu nampak sedikit lecet, ia menatap ke arah Darwin sambil menyipitkan kedua matanya.


"Mas lihatlah, lecet!"


"Oh ya? Maafkan aku" Darwin mendekat dan mengusap bagian tubuh Dianka yang ia gigit tadi.


Namun tindakan Darwin justru membuat hasrat Dianka bangkit, ia pun cepat-cepat menyingkirkan lengan Darwin.


"Sudahlah mas, aku mau pakai baju kau mandilah ini sudah hampir jam tujuh pagi" Titah Dianka.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu aku jangan pergi ke ruang makan sendirian"


"Baik, aku akan menunggu disini" Darwin pun lantas berlalu dan Dianka kembali memakai pakaiannya yang sempat tertunda.


***


"Mas aku membawakan makan siang untukmu, ini bawalah" Dianka menyodorkan tempat makan pada Darwin saat mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi.


"Terimakasih Di" Darwin mengambil tempat makan tersebut.


"Nanti tinggal panaskan saja ke dalam microwave yang ada di ruanganmu "


"Tentu, nanti akan aku makan" dan dibalas anggukan oleh Dianka.


Mereka pun sama-sama keluar dari rumah untuk berangkat ke tempat kerja masing-masing.


"Kau yakin akan berangkat ke butik menggunakan mobilmu?" tanya Darwin.


"Iya mas, nanti aku pulang lebih awal jadi tidak perlu menunggumu"


Darwin diam mendengar penuturan Dianka, sejak kejadian di kantor dulu Dianka tidak pernah lagi menaiki mobilnya.


"Tapi... Kau tidak sedang marah kan?" ucap Darwin gugup.


Dianka mengerutkan keningnya tidak mengerti akan pertanyaan Darwin.


"Memangnya marah kenapa?"


"Emm.... Mungkin saja kau masih marah dan tidak mau semobil denganku" ucap Darwin.


Dianka pun terkekeh seketika.


"Tentu tidak mas, aku tidak sedang marah. tenanglah"


Darwin bisa bernafas lega sekarang.


Mereka pun saling memberi kecupan sebelum akhirnya kedua mobil tersebut keluar dari pekarangan rumah.


Pagi itu mereka menjalankan kehidupan seperti awal pernikahan, Dianka mempersiapkan semua kebutuhan Darwin, dari memasangkan dasi, sarapan bersama, hingga berciuman sebelum mereka bekerja.


Dianka berharap hal ini bisa mereka lakukan seterusnya tanpa ada lagi halangan yang mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2