
Adelia berlari keluar areaa perkantoran, ia berlari sambil menangis tersedu-sedu.
Para karyawan yang melintas menatap heran pada Adelia dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Bukankah itu Ibu Adelia?" Tanya resepsionis pada rekan kerjanya.
"Iya betul, itu Ibu manager. Kenapa dia menangis seperti itu ya?" Gumamnya.
"Entahlah" Ucap resepsionis sembari mengangkat kedua bahunya.
Perempuan itu keluar dan memasuki mobilnya, ia langsung melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh.
Di dalam mobil Adelia terus menangis dan berteriak mengumpat nama Darwin yang telah membuatnya kecewa dan sakit hati.
"ARRGGHHHH......!!!! KAU JAHAT DARWINNN...... BRENGSEKK KAUU....!!"
Adelia memukul stir beberapa kali, ia semakin mempercepat laju kendaraannya tanpa arah tujuan yang jelas.
***
Sore hari Darwin pulang dari kantor, ia berjalan gontai memasuki rumah.
Kejadian tadi siang masih berkelana di pikirannya walau Darwin sendiri sudah mencoba untuk melupakan hal itu.
Setelah berdiskusi sebentar dengan para pengawal yang ada di sana Darwin lantas menekan bell pintu rumahnya yang terkunci dari dalam.
Tak lama pintu itu terbuka dan menampakkan wajah cantik yang sudah Darwin rindukan sedari tadi.
"Mas, kau sudah pulang?" Tanya Dianka gembira.
"Iya" Jawab Darwin tersenyum simpul.
Dianka langsung mencium bibir sang suami seperti biasanya.
Darwin membalas ciuman itu tanpa memperdulikan pengawal yang bisa saja melihat adegan romantis tersebut.
Mereka pun menyudahi penyatuan bibir itu.
Dianka menatap wajah suaminya yang terlihat lesu seperti orang yang sedang memiliki masalah.
__ADS_1
"Ada apa dengan wajahmu mas? Sepertinya ada yang membebani pikiranmu" Ucap Dianka menebak.
Darwin menggeleng, tangannya terangkat mengelus pipi Dianka dengan lembut.
"Tidak ada, aku hanya kelelahan saja. Hari ini pekerjaan ku banyak sekali" Ujar Darwin berbohong, ia tidak mau Dianka merasa curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Begitukah? Kasihan sekali suamiku ini. Kalau begitu ayo kita masuk" Dianka menggandeng lengan Darwin sembari melangkah ke dalam kamar.
Didalam kamar Dianka tak henti-hentinya menempel pada Darwin, ia terus memeluk dan menciumi wajah sang suami.
Hal itu membuat Darwin gemas dan perlahan-lahan pikirannya tentang Adelia hilang tergantikan oleh wanita cantik yang sedang bersama dengan dirinya ini.
Darwin yang melihat tingkah manja Dianka dengan senang hati menerima perlakuan istrinya yang sedari tadi tak ingin berjauhan dengan Darwin.
"Di... Aku mau mandi, berhenti dulu sebentar" Ucap Darwin saat Dianka terus menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Aku ingin ikut!" Sahut Dianka.
"Hah???" Darwin ternganga mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dianka.
Matanya pun membola saat itu juga.
"Aku ingin ikut mandi bersama mu, ayo kita mandi bersama" Seru Dianka.
Lagi-lagi Darwin hanya bisa pasrah menuruti kemauan Dianka yang satu ini.
***
Pukul sepuluh malam Alfred baru saja pulang dari pekerjaannya yang melelahkan.
Mobilnya memasuki pekarangan rumah, disana Alfred membuka garasi mobil terlebih dahulu.
Saat garasi itu sudah terbuka alisnya mengkerut kala ia tak melihat keberadaan mobil Adelia.
"Kemana mobil wanita itu?" Decak Alfred.
Namun ia tetap memasukkan kendaraannya ke dalam garasi mobil kemudian barulah ia masuk ke dalam rumah.
Saat ia masuk ke dalam bangunan mewah itu semua ruangan nampak gelap gulita, tak ada lampu yang menyala sedikitpun.
__ADS_1
Alfred lalu mencari sakral lampu dan menyalakannya.
"Kemana Adelia? Apa dia belum pulang?" Tanya Alfred pada dirinya sendiri.
Rasa kantuk yang sedari tadi sudah menjalar kian terasa di tubuh lelah lelaki tersebut, Alfred menguap beberapa kali.
Ia pun melangkah memasuki kamar tanpa mempedulikan keberadaan Adelia yang entah dimana dan sedang apa.
***
Jam dua dini hari...
Bunyi bell rumah Alfred terdengar beberapa kali membuat tidur si pemilik rumah terganggu dan memaksakan Alfred untuk membuka matanya.
Alfred menggeliat sambil mengucek matanya, ia melirik ke arah jam dinding yang berada di dalam kamar.
"Jam dua pagi? Siapa yang menekan bell di jam seperti ini, ck"
Ting Tong! Ting Tong!
Dengan setengah sadar Alfred bangkit dan berjalan ke arah pintu utama.
setelah sampai di lantai bawah Alfred lantas membuka pintu itu dengan malas, namun seketika matanya terbuka sempurna saat melihat beberapa anggota kepolisian berdiri disana.
"Selamat malam Tuan, apakah benar ini rumah dari Nona Adelia?"
"I-iya benar, saya suaminya.
Ada apa?" Tanya Alfred terbata-bata.
"Anda harus ikut kami sekarang juga ke rumah sakit" Kata salah satu polisi disana.
Alfred semakin mengerutkan alisnya, tidak mengerti kenapa para polisi ini menyuruhnya untuk pergi ke sebuah rumah sakit.
"Rumah sakit? Ta-tapi kenapa?"
"Kami menemukan jasad istri anda di sungai dekat jembatan hitam tadi sekitar jam sebelas malam, sekarang jasadnya sedang di tangani di rumah sakit Purnama"
DEG!!!
__ADS_1
"Apa?!!"
Seketika Alfred langsung berlari ke dalam rumah menganti pakaiannya, setelah itu ia ikut ke rumah sakit bersama para polisi.