
Di kantor Darwin memanggil seorang tukang untuk memasangkan pintu yang bisa dibuka dengan sebuah remote, bukan tanpa alasan Darwin melakukan itu, ia tidak ingin seseorang masuk begitu saja ke dalam ruangannya.
Jadi jika ada seseorang yang ingin masuk, Darwin hanya perlu menekan tombol yang ada di remote yang terhubung langsung dengan pintu otomatis tersebut.
Tak butuh waktu lama, Darwin memanggil empat orang tukang untuk memasangkan pintu otomatis di ruangannya dalam waktu lima belas menit saja.
"Sudah selesai Pak" Kata salah seorang tukang disana.
"Bagus, untuk biayanya sudah saya transfer melalui rekening. Kalian bisa pergi sekarang"
"Baik Pak, kami permisi" Keempat tukang itu pun pergi dari perusahaan Darwin.
Kini Darwin hanya tinggal menunggu seseorang untuk melihat apakah pintu itu berkerja dengan baik atau tidak.
Tiga puluh menit berlalu.
Suara ketukan pintu dari luar ruangan Darwin terdengar beberapa kali, Darwin lalu mengambil remote pintu dan menekannya.
Seketika pintu terbuka otomatis.
"Masuk"
Sudah Darwin duga jika orang tersebut adalah Adelia, wanita berjas itu masuk sembari melirik ke arah pintu ruangan Darwin.
"Darwin ada apa dengan pintumu?" Tanya Adelia yang kini berada di hadapan lelaki itu.
"Aku menggantinya" Jawab Darwin singkat.
"Tapi kenapa? Apa pintunya rusak?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya tidak mau ada yang masuk ke ruanganmu begitu saja" Balasnya.
Adelia mengernyit alisnya, ia masih mencoba mencerna ucapan Darwin.
"Maksudmu?"
"Mulai sekarang siapapun orang yang ingin masuk ke ruanganku harus mengetuk pintu terlebih dahulu" Ucap Darwin tanpa memandang ke arah Adelia.
"Termasuk dengan dirimu, aku tidak suka jika kau masuk tanpa mengetuk pintu" lanjut Darwin.
Adelia dibuat terkejut mendengar ucapan Darwin, ia bingung kenapa sikap Darwin tiba-tiba berubah? Padahal kemarin-kemarin Darwin sudah tidak bersikap dingin padanya. Tapi kenapa sekarang berubah lagi?
"Darwin ada apa denganmu? Selama ini kau tidak pernah melarang ku untuk masuk ke ruanganmu tanpa mengetuk pintu. Lagipula itu hal sepele, kenapa kau sampai mengganti pintunya segala?" Adelia terus memprotes sikap Darwin terhadap nya.
"Aku ingin sekarang kita lebih profesional lagi dalam bekerja, di kantor kita hanya rekan bisnis. Kau bawahan ku dan aku bos mu, tidak ada yang namanya teman" Jelas Darwin.
Darwin memijit pelipisnya pelan, ia merutuki dirinya sendiri yang sudah berbicara seperti itu pada Adelia hingga membuat wanita ini semakin melunjak.
"Kita memang berteman sekarang, tapi untuk menjadi teman dekat aku rasa aku tidak bisa. Kita harus menjaga jarak mulai saat ini"
"Darwin apa maksudmu!!!"
Adelia tak Terima dengan pernyataan Darwin, ia sudah sangat berangan-angan jika dirinya dan Darwin akan kembali seiring dengan pendekatan mereka. Tapi sekarang Darwin justru menyuruhnya untuk menjaga jarak!
"Dengar Adelia, istriku sudah tahu jika kau adalah mantan kekasihku. Aku tidak mau dia salah paham jika kita terlalu dekat"
Kata-kata Darwin langsung membuat Adelia mengepal kedua lengannya, matanya pun ikut memerah saat Darwin menyebut kata 'Istri'.
"Jadi istrimu yang menyuruh ini semua?!"
__ADS_1
"Tidak, istriku sama sekali tidak terlibat dalam semua ini. Semua ini adalah keinginanku sendiri"
Adelia semakin terbakar emosi, rasa cemburunya kian membuncah. Ingin sekali ia menangis dan memukul-mukul semua benda yang ada di ruangan ini.
"Darwin kau berubah!"
"Aku sudah beristri sekarang, wajar jika aku berubah" Ucap Darwin membela diri.
Air mata Adelia lolos begitu saja, ia tak menyangka jika Darwin melakukan ini semua hanya agar istrinya tidak salah paham.
"Jika tidak kau kesini bukan membahas soal bisnis sebaiknya kau keluar Adelia"
Adelia merapatkan giginya geram, bahkan Darwin seolah tidak peduli jika saat ini tengah menangis.
Adelia pun keluar sembari menghentak-hentakkan kakinya, ia harus memikirkan kembali cara agar Darwin berubah seperti dulu.
Wanita yang tengah di landa emosi tersebut masuk ke dalam ruangannya, ia mengambil ponsel di dalam tas dan mengetik nomor seseorang.
Adelia: Hallo.
X: Hallo Nona?
Adelia: Aku ingin kau melakukannya sekarang juga, terserah kau mau apakah dia yang penting jangan sampai lepas.
X: Siap Nona, laksanakan.
Adelia pun memutuskan sambungan telepon, ia tersenyum miring membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Llihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian" gumam Adelia.
__ADS_1