
Setelah mendapatkan telpon dari Jordan, Darwin langsung bergegas keluar dari kamarnya.
Ia dan Jordan serta anak buahnya akan ke lokasi yang dituju malam ini juga!
Jordan menyuruhnya untuk bertemu di persimpangan jalan, mereka akan kesana bersama-sama.
Saat ia sudah berada di lantai bawah orang tua serta mertuanya bertanya saat mendapati Darwin yang turun dengan wajah yang panik.
"Ada apa Darwin?" Tanya Edison pada putranya tersebut.
"Barusan Jordan menelpon ku katanya kemungkinan Dianka diculik oleh mobil hitam itu ke sebuah hutan, dan sekarang aku dan yang lainnya akan kesana malam ini juga" Jelas Darwin dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Semua orang disana kembali dibuat terkejut, tak menyangka jika Dianka benar-benar diculik, Resa dan Elva bahkan sampai menutup mulut sangking terkejutnya.
"Kalau begitu papah ingin ikut mencari Dianka" Ucap Edison.
"Aku juga" Dilanjutkan oleh Tomlinson yang berada disana.
Namun Darwin menolak keinginan mereka berdua.
"Tidak, kalian disini saja menjaga mamah dan mami Resa. Aku akan kesana dengan polisi juga, jadi tenanglah dan do'akan kami saja" Tolak Darwin.
Mau tidak mau kedua lelaki tua itu pun mengiyakan keinginan sang anak, kini mereka hanya perlu berdoa untuk keselamatan mereka semua khususnya Dianka.
Mereka bedua pun kembali duduk, Tomlinson memeluk tubuh sang istri yang tak henti-hentinya menangis sedari tadi.
"Pah..... Anak kita... Hiks... "
"Percayalah Dianka akan baik-baik saja" Ucap Tomlinson yang berusaha menenangkan kekhawatiran istrinya.
***
Disisi lain, Alfred dan juga para bawahnya diam-diam tengah mengikuti kemana para bawahannya Darwin akan mencari Dianka.
Mobil mereka berjalan dibelakang mobil Darwin dan tim nya.
Karna tidak ada informasi yang pasti tentang keberadaan Dianka Alfred pun akhirnya memutuskan untuk mencari Dianka dengan mengikuti kemana tim Darwin akan pergi.
Tim Darwin membawa lima mobil sedangkan tim Alfred hanya membawa dua mobil saja, ia tidak ingin jika Darwin curiga.
"Ikuti mobil mereka, jangan sampai kita kehilangan jejak" Titah Alfred pada bawahannya.
"Siap, Tuan"
Mobil terus berjalan menembus gelapnya malam hari.
Alfred terus memantau kemana mobil Darwin melaju, sebisa mungkin ia harus menemukan Dianka terlebih dahulu.
Jika ia berhasil menemukan Dianka, maka itu adalah langkah awal yang bagus untuk mendekati si wanita.
Disisi lain Darwin terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cepat diikuti oleh mobil bawahannya di belakang.
__ADS_1
Ia sudah tidak sabar ingin mencari keberadaan Dianka yang Jordan bilang kemungkinan berada di tengah hutan.
Jika memang benar ada Darwin hanya bisa berdoa supaya istri nya itu tidak mengalami luka atau yang lainnya.
Malam yang dingin kini berusaha menjadi malam yang menegangkan, para mobil itu melaju di melewati jurang agar bisa sampai di lokasi tujuan.
Penerangan yang minim membuat mereka harus berhati-hati melintasi jalanan yang bisa saja buntu di tengah-tengah.
Butuh waktu berjam-jam untuk mereka sampai disana.
Darwin melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai.
Setengah jam berlalu, kini mobil Darwin sudah berada di hutan yang sangat terpelosok.
Darwin mulai kebingungan, mobilnya terus berjalan lurus tak tahu akan kemana.
Namun tiba-tiba ia melihat bangunan tua yang tak jauh dari sana. Dan akhirnya Darwin memutuskan untuk memberhentikan mobilnya di depan bangunan tua tersebut.
Ia keluar dari mobil diikuti oleh semua bawahannya dan juga polisi.
Sedangkan mobil Alfred berhenti agak jauh untuk tetap menjaga jarak.
"Apa mungkin Dianka ada disini? Tapi bangunan apa ini, kenapa banyak sekali? Bahkan ada lima gedung" Tutur Darwin.
"Sepertinya ini bangunan bekas penjara, Tuan. Bisa jadi Nona Dianka diculik dan dibawa ke sini" Pikir Jordan.
"Kalian benar, dilihat dari bangunannya ini adalah salah satu penjara di masa penjajahan" sambung salah satu polisi disana.
"Apa gedung ini menjadi salah satu tempat favorit para penculik?" tanya Jordan pada polisi tersebut.
"Kami para polisi memang belum pernah mendatangi bangunan yang satu ini, tapi kami pernah mengunjungi salah satu bekas penjara di tempat lain. biasanya bekas penjara memang sering dijadikan tempat untuk menyiksa korban para pelaku penculikan" jelas polisi itu panjang lebar.
Mereka semua mendengarkan penuturan polisi itu dengan seksama, hingga Jordan pun bertanya kembali.
"Apa yang biasanya para penculik itu lakukan di tempat seperti ini?"
Polisi itu terdiam sebentar, sebelum akhirnya berkata kembali.
"Membunuhnya"
Seketika nafas mereka pun tercekat mendengar penuturan sang polisi tadi.
Darwin mendadak semakin tak tenang, ia harus mencari Dianka secepatnya.
"Lebih baik kita cari di gedung ke satu saja"
Mereka semua mengangguk setuju.
"Baik Tuan"
__ADS_1
Mereka mulai menyalakan senter dan masuk ke dalam gedung pertama.
Dari jauh Alfred melihat tim Darwin yang sudah masuk ke dalam bangunan tua itu, lantas ia pun menyuruh pada bawahannya untuk mencari Dianka ke gedung yang lain.
"Sebaiknya kita mencari di gedung paling belakang, Tuan"
"Baiklah, ayo"
Tim Alfredmulai berjalan secara mengendap ngendap ke arah gedung.
Bangunan itu begitu gelap dan menakutkan, ia tak bisa membayangkan jika Dianka benar-benar berada di gedung itu sendirian. Tidak ada orang disini, meminta tolong pun rasanya akan percuma saja.
Perlahan namun pasti ia mencari Dianka di setiap sudut ruangan, dimulai dari lantai ke satu.
Sama halnya dengan Darwin, di gedung yang Darwin masuki ia terus mencari Dianka, namun sampai di lantai ketiga ia dan juga tim belum ada yang menemukan keberadaan sang istri.
"Biar aku dan Jordan yang mencari dilantai ini, yang lainnya carilah di lantai atas" titah Darwin.
"Siap, Tuan" ucap mereka serempak.
Mereka pun berbagi tugas untuk mencari Dianka di lantai yang berbeda, bangunan ini begitu luas hingga untuk mencari di satu lantai saja bisa memakan waktu yang cukup lama.
Di sudut lain Alfred yang kini berada di lantai paling atas melihat sebuah ruangan yang memantulkan cahaya semu.
Alfred mengernyit dahinya, ia bingung bagaimana bisa ditempat seperti terdapat ruangan yang disinari cahaya? Apa mungkin ada orang didalam sana?
"Apa mungkin bawahan ku yang berada disana, mungkin saja itu lampu senternya" pikir Alfred.
Ia pun hendak berbalik.
Namun seketika Alfred teringat jika tadi ia menyuruh para bawahannya untuk berpencar dan dilantai paling atas ini hanya ada dirinya sendiri.
Lantas di dalam sana siapa?
Alfred pun berbalik kembali.
Dengan pelan kaki Albert melangkah mendekati ruangan itu.
Tap
.
Tap
.
Tap
.
Alfred terus mendekat...
__ADS_1
Dan saat ia sudah berada didepan ruangan tersebut alangkah terkejutnya Alfred saat melihat seorang wanita yang terikat di dalam sana dengan lampu senter yang menyala di atas dinding.
"Dianka?!!"