ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Kelakuan Darwin


__ADS_3

Darwin dan Alfred kembali masuk ke dalam rumah, Darwin yang sudah mendapatkan shampoo milik Alfred tak henti-hentinya menghirup aroma dari botol berwarna kuning keemasan tersebut.


Aroma shampoo ini memang berbeda, wajar saja shampoo milik Alfred sangatlah mahal, dari penampilannya saja sudah berdesain mewah dan elegan. Pasti isinya pun tak kalah bagus!


Mereka masuk ke dalam dan mendapati kedua wanita cantik sedang berada di dapur sekaligus ruang makan.


Dianka terlihat sedang memasak di meja dapur sedangkan Anna sedang menata piring di meja makan.


Darwin langsung mendekat ke arah sang istri dan memeluk tubuh Dianka dari samping, membuat pemilik tubuh itu terlonjak kaget.


"Sayang coba cium aroma shampoo ini, sangat harum bukan?" Pinta Darwin menyodorkan botol tersebut untuk Dianka hirup.


Dianka mencium aroma pencuci rambut itu, wanginya memang sangat menyegarkan. Tapi ia lebih suka aroma shampoo miliknya sendiri.


"Iya, ini sangat harum" Ujar Dianka.


Darwin kembali menutup botol itu dan berfokus pada kegiatan istrinya.


"Kau memasak sebanyak ini untuk siapa sayang?" Tanya Darwin.


"Tentu saja untuk Anna dan Alfred, aku menawarkan mereka untuk makan siang disini. Tidak apa-apa kan mas?" Ucap Dianka sambil mengiris-iris bahan makanan.


"Hmm.... Terserah kau saja" Darwin semakin memeluk Dianka dengan erat, mereka seolah lupa bahwa ada dua manusia yang juga berada di ruang yang sama.


Dianka terlihat seksi saat sedang memasak seperti sekarang, ditambah tubuh Dianka yang agak berisi karna faktor kehamilan membuat lekukan tubuh wanita yang berada di pelukannya ini semakin terbentuk.


Darwin mulai mencium cium pipi Dianka sembari mengendus-endus ke area leher jenjang sang istri.


Dianka menggeliat geli, ia jadi tidak fokus pada kegiatannya.


"Muach... Muach... Muach....!!"


"Mas... Hentikan.... Hahaha..... "


"Kau sangat seksi sayang" Bisik Darwin sambil mengigit kecil telinga Dianka.


"Aww...!! Mas hentikan... Hahaha..... " tawanya saat Darwin kembali menjilat leher jenjang Dianka.

__ADS_1


Namun Darwin seperti sengaja melakukan hal tersebut pada Dianka, karna merasa tak kuat dengan kelakuan sang suami akhirnya Dianka pun menoleh dan mencium bibir Darwin agar lelaki itu berhenti menelusuri wajahnya.


Cup!


Pasangan suami-suami tersebut saling menyatukan bibirnya dan sesekali menggigit bibir bawah dan membuat yang satunya berdesis kesakitan. Namun mereka berdua justru tertawa dibuatnya.


Anna dan Alfred yang sedang duduk di meja makan seketika melotot melihat kegiatan manusia berbeda jenis kelamin di depannya. Apakah Darwin dan dianka lupa keberadaan mereka? Ataukah memang beginilah kelakuan keduanya menunjukkan kemesraan di hadapan orang-orang.


Situasi tersebut membuat Anna dan Alfred menjadi canggung satu sama lain, mereka malah merasa malu melihat adegan intim itu.


Anna menundukkan kepala sedangkan Alfred membuang pandangannya ke arah lain, ada perasaan iri melihat kemesraan Darwin dan Dianka.


Bisakah mereka seperti pasangan tersebut? Percintaan Darwin dan dianka juga berawal dari perjodohan, mungkin saja jika dulu perjodohan Anna dan Alfred masih berlanjut bisa saja mereka sudah sebahagia Darwin serta dianka.


"Sudah mas, ada orang disini" Bisik Dianka saat pangutan mereka terlepas. Wajah cantik Dianka memerah karna malu telah melupakan keberadaan Alfred dan juga Anna.


Darwin hanya tersenyum sambil mengusap bibir Dianka yang sedikit basah, lalu berlalu dari sana dan duduk di meja makan.


Wajah Darwin terlihat datar seakan tidak terjadi apa-apa, pria kekar itu tidak terlihat merasa malu ataupun merasa bersalah karna telah bermesraan di hadapan dua orang yang masalah percintaannya masih belum jelas.


"Sepertinya matamu bermasalah hingga tidak bisa melihat keberadaan kami disini" Ejek Alfred pada Darwin.


"Anggap saja tadi itu pembelajaran untukmu kedepannya" Balas Darwin membuat Alfred diam dan mengumpat dalam hati.


***


Sore harinya Dianka dan Darwin baru saja menyelesaikan kegiatan mereka di kamar mandi.


Eitss....!! Bukan kegiatan panas seperti yang ada dipikirkan kalian.


Mereka berdua baru saja selesai mandi dengan berkeramas menggunakan shampoo yang diberikan Alfred.


Darwin memaksa Dianka menggunakan sampo tersebut dengan modus agar mereka bisa mandi bersama, padahal sebelumnya Dianka sudah membersihkan diri terlebih dahulu.


Berbagai alasan Darwin ajukan hingga membuat Dianka akhirnya menuruti keinginan Darwin.


Setelah selesai menggunakan pakaian dan merapikan diri Darwin langsung merebahkan dirinya di atas kasur diikuti Dianka yang baru saja menyisir rambut panjangnya.

__ADS_1


Dianka menyembunyikan wajah cantik tersebut di dada bidang Darwin, membiarkan sang suami mencium aroma rambutnya.


"Rambutmu sangat wangi sayang, sepertinya shampoo Alfred cocok dipakai di rambutmu" Ujar Darwin menghirup rambut Dianka.


"Sepertinya begitu, tapi aku tidak boleh sering menggunakan shampoo tadi. Shampoo itu kan khusus untuk laki-laki" Balasnya.


"Emm... Ya baiklah"


Suasana hening kembali, sampai dimana Dianka mengingat suatu keanehan yang terjadi akhir-akhir ini.


"Oh ya mas, tadi aku lihat hubungan mu dan Alfred sudah mulai membaik. Bukankah tadi kalian juga mengobrol di luar rumah?" Tanya Dianka.


"Entahlah, sebenarnya aku merasa kasihan dengan lelaki itu" Jawab Darwin.


Dianka mengerutkan alisnya bingung, ia mendongak sedikit untuk melihat wajah sang suami.


"Kenapa?"


Darwin pun menceritakan kisah Alfred pada Dianka, dari mulai Alfred yang sudah tidak memiliki keluarga sampai kebingungan Alfred untuk menikahi Anna yang ternyata adalah mantan tunangan Alfred dulu.


"Aku tidak tau kenapa disaat mendengar ceritanya aku malah spontan menawarinya bantuan, padahal sebelumnya tidak pernah terbesit didalam benakku untuk ikut campur urusan lelaki itu" Sambung Darwin dengan pandangan menerawang.


Dianka tersenyum haru, ia senang jika Darwin berniat membantu orang. Apalagi tidak mudah membantu Alfred yang notabennya adalah musuh Darwin saat dulu memperebutkan cinta Dianka.


"Aku senang jika mas memang memiliki niat baik untuk membantu sesama, aku mendukung apapun yang mas lakukan asalkan hal tersebut bersifat positif dan tidak merugikan orang lain" Ungkap Dianka.


Darwin membalas ucapan istrinya dengan senyuman.


"Terimakasih sayang, aku banyak belajar kebaikan darimu juga"


"Benarkah??" Tanya Dianka.


"Iya, kau tidak pernah membenci siapapun kau selalu memaafkan orang itu sebesar apapun kesalahannya. Sama seperti kau yang selalu memaafkan aku yang sering menyakitimu dulu" Lirih Darwin, hatinya terasa tercubit ketika mengingat tingkah laku nya yang sering menyakiti hati Dianka.


"Karna dibalik kesalahan seseorang pasti ada alasan tersendiri yang membuat seseorang tersebut melakukan tindakan seperti itu.


Kita tidak boleh membenci siapapun, karna bisa saja orang yang kita benci itu justru orang yang menolong kita dari suatu masalah" Ucap Dianka bijak.

__ADS_1


Darwin berkaca-kaca mendengar penuturan dewasa yang terlontar dari mulut istrinya, ia bersyukur bisa memiliki wanita sebaik dianka. Baginya tidak ada wanita yang sekuat Dianka melebihi siapapun.


__ADS_2