
Sebulan sudah semua berjalan begitu saja seperti tak terjadi apa-apa, semuanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Kejadian bulan lalu tak membuat siapapun berhenti untuk terus melangkah, masa depan harus terus digapai walau tak ada satu orang pun yang tau rintangan apa yang akan muncul di depan mata.
Begitupun dengan kehidupan Darwin dan Dianka.
Mereka kembali beraktivitas seperti hari hari biasa, dan beberapa minggu yang lalu Dianka sudah mendapat izin dari Darwin untuk bekerja kembali di butik.
Wanita berumur 28 tahun tersebut tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya tatkala dirinya akan kembali melakukan suatu hal yang sudah menjadi hobinya dari dulu hingga sekarang.
Butik pun menjadi ramai dan bahkan lebih banyak pengunjung akhir-akhir ini, desain rancangan yang Dianka buat selama berada dirumah laris dan banyak diminati para calon pengantin dari berbagai daerah yang berbeda.
Para pengusaha dan selebritis pun ikut tertarik dengan koleksi-koleksi model yang ditawari oleh butik Tomlinson tersebut.
Meski begitu dianka akan selalu membagi waktunya, ia tidak mau karna pekerjaan yang bertumpuk ini membuat Dianka lupa akan tugas utamanya.
Siang itu Dianka yang baru selesai ber telponan dengan salah satu klien dikejutkan oleh kedatangan Darwin yang masuk ke dalam ruangannya.
Padahal sebelumnya Darwin bilang ia sangat sibuk dan tidak akan bisa makan siang bersama Dianka, namun kini lelaki itu justru datang ke butik Dianka dengan senyuman yang entah apa maksudnya.
"Mas? Kau kemari? Ada apa?" Dianka langsung berdiri dari kursi dan menghampiri Darwin.
"Suprise.....!! Aku berbohong padamu. Sebenarnya aku tidak sibuk, aku hanya ingin memberimu kejutan" Jawab Darwin sambil menampilkan deretan giginya.
Dianka terkekeh akan kelakuan Darwin, ia pun mencium bibir sang suami dengan gemas. Tangan Darwin refleks menarik pinggang Dianka membuat tubuh mereka merapat.
"Sepertinya kau berhasil, aku memang terkejut akan kedatangan mu mas"
"Benarkah??"
"Ya, tentu"
Dianka lalu mengajak Darwin untuk duduk di sofa, lelaki itu menyimpan sekantung kresek di atas meja.
"Aku membawakan makan siang untuk kita, bukalah"
__ADS_1
Dianka lantas membuka kantung kresek itu dan mengeluarkan makanan yang Darwin beli.
"Apa ini? Bakso lagi?" Tanya Dianka dengan kening yang mengkerut.
"Iya, tadi salah satu karyawan ku bilang jika ada bakso yang enak disekitar perkantoran. Jadi aku membelinya"
"Tapi bukankah kemarin dan lusa kau sudah membeli bakso? Apa kau tidak bosan mas?"
Darwin menyandarkan tubuhnya ke sofa sembari melonggarkan ikatan dasi yang terasa mencekik.
"Entahlah sayang, belakang ini bakso seperti menjadi makanan favorit ku.
Aku sangat suka makanan bulat itu apalagi ditambah saus sambal yang pedas" Ungkap Darwin sambil membayangkan betapa enaknya makanan itu.
"Mas kau tidak boleh mengkonsumsi makanan seperti ini terlalu sering, nanti perutmu sakit.
Biar aku suruh pegawai ku untuk membelikan makanan yang lain, oke?"
"Tidak sayang! Aku tidak mau.
Aku sedang ingin makanan itu lagipula aku sudah membelinya sampai mengantri" Mohon Darwin dengan wajah memelas.
Darwin makan sangat lahap seolah-olah bakso itu adalah makanan terlezat sedunia, Dianka pun dibuat tak percaya sampai menggeleng-geleng kan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Apa begitu lezat menurut mu?" Tanya Dianka, ia yang sedang memakanan bakso yang sama merasa biasa-biasa saja berbeda dengan Darwin yang memakan bakso itu dengan tergesa-gesa.
"Tentu! Ternyata karyawan ku tidak berbohong. Bakso ini memang sangat enak" Tuturnya kemudian melahap makanan bulat itu lagi.
***
Setelah selesai makan siang Darwin tidak langsung pergi ke kantor, ia ingin ber mesra-mesraan terlebih dahulu dengan istrinya.
Pakaian Dianka sudah tidak terkondisikan, kancing kemeja bagian atasnya sudah terbuka hingga menampilkan benda berharga yang masih di tutupi oleh kain hitam berrenda.
Rok nya pun terangkat dan memamerkan paha mulus Dianka.
__ADS_1
Darwin tak membiarkan Dianka lepas dari pangkuan, ia terus mencium ranum merah Dianka dan beberapa kali turun ke leher jenjang istrinya.
"Mas... Kau... Harus... Kembali... Ke... Kantor... Emmh..... " Ucap dianka terbata-bata.
Darwin melepas kecupan di leher Dianka yang sudah memerah, ia menjawab perkataan sang istri namun matanya justru menatap kedua gundukkan besar dihadapannya.
"Nanti saja sayang, aku ingin bersamamu dulu... "
Tangan Darwin dengan lihai menurunkan braa Dianka tanpa melepasnya.
Dan kini kedua benda bulat itu menyembul ke depan seakan menantang seseorang yang sedang menatap liar padanya.
Melihat tatapan Darwin yang berubah satu Dianka lantas mengarahkan kepala Darwin ke dadanya, seketika Dianka bisa merasakan lembutnya bibir Darwin yang menempel di pucuk merah muda yang kian membusung.
Namun tak lama suara pintu memecahkan kegiatan mereka berdua.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi bu.... Ini saya Mitha, ada klien yang mau menemui ibu" Ujar Mitha di balik pintu.
Sontak saja Dianka dibuat terkejut, namun Darwin sama sekali tidak menghentikan kesibukannya.
"Mas.... " desisnya.
"Hmm..... " gumam Darwin.
"Bu Dianka? Ibu ada didalam kan?" tanya Mitha yang tak mendengar jawaban dari boss nya didalam sana.
"Iya Mitha.... Tolong tunggu sebentar lagi nanti aku akan turun ke bawah....!!!" Teriak Dianka. Sedangkan Darwin masih asik memangut buahh dadaa sang istri.
"Baik bu" Mitha pun pergi dari depan ruang kerja Dianka.
"Mas sudah dulu, aku harus bertemu klien" Dengan terpaksa akhirnya Darwin mengakhiri aktivitasnya.
"Baiklah kita bisa lanjutkan dirumah"
__ADS_1
Dianka langsung turun dari pangkuan Darwin dan merapikan kembali pakaiannya yang berantakan.
Setelah itu mereka pun keluar berbarengan dengan Darwin yang masuk ke dalam mobil meninggalkan butik Tomlinson.