ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Pergi Selama-lamanya


__ADS_3

Pagi ini tampak seperti pagi biasanya.


Darwin dan Dianka masih berbaring di bawah selimut yang menutupi tubuh dingin mereka.


Darwin menggeliat saat telinganya menangkap nada dering dari arah ponsel yang berada di atas nakas.


Matanya terbuka setengah, dengan pelan-pelan ia bangkit dan mengambil benda persegi itu.


Tertera nama sekertaris nya disana, ia mengernyitkan kedua alis saat melihat sang sekertaris menelpon di jam enam pagi, bahkan matahari pun belum muncul sepenuhnya.


Darwin pun lantas mengangkat telepon tersebut.


Darwin: Hallo?


Sekertaris: Selamat pagi Pak, maaf mengganggu istirahat Bapak.


Darwin: Hmm... Ada apa?


Sekertaris: Maaf Pak, saya hanya ingin menyampaikan berita duka. Bu manager meninggal.


Jedarrr!!


Seketika Darwin langsung berdiri dengan mata yang terbelalak.


Ia terkejut dengan ucapan sekertaris nya ini.


Apa maksud ucapan bawahannya tadi?


Apakah ia salah dengar karna kondisinya yang masih setengah sadar???


Darwin: A-apa maksudmu? Manager mana yang kau maksud?!


Sekertaris: Ibu Adelia Pak, manager keuangan perusahaan kita.


Deg!!


Kali ini Darwin benar-benar tidak salah dengar!


Jantungnya kian berpacu dengan cepat, ia mundur beberapa langkah saat kakinya tiba-tiba mendadak lemas tak bertenaga.


Dianka yang saat itu sedang tertidur merasa terganggu dengan suara Darwin yang tengah ber telepon dengan seseorang.


Namun ia merasa aneh saat melihat ekspresi Darwin yang seolah-olah mendengar kabar yang sangat mengejutkan.


Melihat Darwin yang semakin terkejut Dianka ikut bangun dan menghampiri suaminya.


"Mas ada apa?" Tanya Dianka.


Tetapi Darwin tak menjawab, ia menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang dengan tatapan yang kosong entah kemana.


Dianka yang tak mendapat jawaban dari sang suami lalu mengambil ponsel yang Darwin pegang.


Dianka: Hallo.


Sekertaris: Bu Dianka?


Dianka: Iya ini saya, maaf ada apa ya??


Sekertaris: Emm... Begini bu, saya baru mendapat kabar duka jika Ibu Adelia yang menjabat sebagai manager keuangan baru saja meninggal kemarin malam.


Dianka: APA??!

__ADS_1


Dianka pun tak kalah terkejutnya, ia menutup mulut dengan satu tangan saat mendengar kabar yang mencengangkan ini.


Dianka: A-adelia meninggal?? Ta-tapi kenapa?


Sekertaris: Untuk alasannya kami belum tau bu, tapi hari ini para petinggi akan berkunjung ke pemakanan. Saya hanya ingin menginformasikan itu saja bu.


Dianka terdiam sejenak, dan beberapa detik kemudian ia pun berkata kembali.


Dianka: Baiklah, kami juga akan berkunjung kesana. Terimakasih atas informasinya.


Sekertaris: Sama-sama Bu.


Tutt......


Dianka kembali menyimpan ponsel Darwin di atas nakas, lalu menghampiri suaminya yang tengah duduk disana


"Mas..... "


Darwin menoleh dan menatap Dianka sendu, semua kejadian ini membuatnya bingung harus melakukan apa.


Tangan Darwin menggengam lengan Dianka, lelaki itu meminta izin pada sang istri untuk pergi.


"Bolehkah aku menjenguknya?" lirih Darwin.


Dianka mengangguk pasti, ia paham jika Darwin merasa tidak enak padanya.


"Tentu mas, aku juga ingin ikut. Bagaimanapun aku pernah kenal dengan sosok Adelia" Ujar Dianka bijak.


Darwin pun mengiyakan keinginan Dianka.


Mereka lantas bersiap-siap untuk pergi ke pemakanan Adelia.


***


Darwin dan Dianka menatap prihatin ke arah gundukan tanah dihadapan mereka.


Tidak menyangka jika Adelia meninggal karna bunuh diri tadi malam.


Mereka syok saat mendengar alasan yang dijelaskan oleh beberapa orang yang juga berada disana.


Mereka tidak menyangkan Adelia pergi dengan cara yang sangat tidak layak.


Kenapa Adelia melakukan aksi bunuh diri itu? Apa alasan sebenarnya ia memilih mengakhiri hidupnya di usia yang masih terbilang muda.


Mata Darwin berkaca-kaca melihat tulisan kayu yang bernamakan Adelia.


Baru kemarin ia dan Adelia bertemu tapi sekarang Adelia telah pergi menghadap sang pemilik alam semesta.


Dianka mengelus lengan Darwin, ia tau suaminya tengah merasa sedih.


"Menangislah jika kau ingin menangis, mas"


Darwin menoleh ke arah sang istri, ia tersenyum manis dan menggeleng.


"Tidak, aku tidak apa-apa" ucap Darwin, pandangannya kembali menghadap ke tanah basah tersebut.


Dianka yang kala itu masih berdiri di depan makam Adelia mengedarkan pandangannya mencari sosok Alfred yang tak lain adalah suami dari Adelia.


Arah matanya berkeliaran kesegala arah.


Dan bola mata itu terhenti saat melihat sesosok pria berpakaian hitam tengah duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari tempatnya berada.

__ADS_1


Dianka melirik sebentar pada Darwin yang nampak melamun sambil menatap ke arah makam Adelia.


Dianka pun berlalu dari sana dan menghampiri Alfred yang tidak sadar akan kedatangannya.


Dianka berhenti tepat didepan Alfred, ia menghela nafas panjang kemudian berkata.


"Aku turut berdukacita atas kepergian istrimu" Ujar Dianka.


Alfred terperanjat saat menyadari kehadiran Dianka, ia langsung mendongak menatap wajah wanita itu.


"Dianka? Kau disini?" Tanya Alfred tak percaya.


"Iya, aku menemani suamiku kesini"


Seketika Alfred sadar diri, ia pun kembali menormalkan suasana yang terasa canggung ini.


"O-oh iya, terimakasih sudah datang" Lirih Alfred.


Dianka mengangguk, kakinya melangkah hendak pergi.


Namun Alfred menahan lengan Dianka.


Perempuan itu berbalik dan langsung melepaskan genggaman Alfred.


"Ada apa Alfred?"


"Aku.....


Aku minta maaf atas kejadian tempo lalu" Ucap Alfred dengan penuh rasa sesal.


Dianka tersenyum simpul mendengarnya.


"Ya, aku memaafkan mu" Setelah itu Dianka pun berlalu meninggalkan Alfred yang menatap sendu ke arahnya.


Saat Dianka dan Darwin berjalan meninggalkan makam tiba-tiba dua orang polisi menghampiri keduanya dan membuat pasangan suami-istri itu kebingungan.


"Selamat pagi Tuan dan Nona, apa benar anda Tuan Darwin atasan dari mendiang Nona Adelia?" Tanya polisi pada Darwin.


"Iya benar, saya bos nya"


"Begini Pak, saya ingin meminta anda untuk diwawancarai terkait kasus bunuh diri yang menimpa Nona Adelia. Kami harus mencari bukti yang akurat tentang kasus ini, apakah anda bersedia?"


Darwin menautkan alisnya, ia pun bertanya pada polisi tersebut.


"Tapi kenapa harus saya?"


"Karna dari CCTV yang kami dapat terakhir kali Nona Adelia keluar dari perusahaan Ed. Corp


Dan dari penuturan beberapa karyawan Nona Adelia menangis saat keluar dari ruangan anda. Jadi kami perlu mewawancarai anda terkait hal ini"


Dianka langsung menatap suaminya, begitupun Darwin yang menatap ke arah Dianka.


"Mas sebaiknya kau ikut mereka" Ucap Dianka.


"Tapi kau.... "


"Tidak apa mas, aku akan pulang sendiri"


"Tidak! Kau juga harus ikut" Ucap Darwin mencegah Dianka yang hendak pergi.


Darwin mengalihkan pandangannya pada polisi.

__ADS_1


"Saya akan ikut kalian asal istri saya juga ikut bersamaku" Ucap Darwin tegas.


Kedua polisi itu saling pandang dan mereka pun mengangguk membiarkan Dianka ikut bersama Darwin.


__ADS_2