
Sore harinya Dianka yang masih berada di butik kini memutuskan untuk pulang karna waktu sudah menunjukkan pukul 16.00
Dianka sudah bertekad jika mulai sekarang ia akan berada di rumah sebelum Darwin datang, ia ingin menyambut kepulangan suaminya saat pulang dari kantor layaknya istri yang berprofesi sebagai Ibu rumah rangga, ia tidak ingin karna mereka sama-sama bekerja Dianka lupa akan kewajiban utamanya.
Dianka pun keluar dari ruangannya dan turun ke lantai bawah.
Disana para pegawainya masih terlihat sibuk mengurusi pesanan butik.
Dianka lalu mendekat untuk berpamitan pada semua bawahannya.
"Kalian... Saya pulang dulu ya, jika sudah tidak ada pengunjung lagi tutup saja tokonya" Ucap Dianka.
"Baik bu"
"Siap bu, hati-hati dijalan"
"Tentu, kalian juga" Setelah itu Dianka pun lantas keluar memasuki mobil untuk pulang.
Karna ini adalah hari Sabtu jalanan terlihat lebih ramai dari biasanya, mungkin orang-orang ingin menikmati malam Minggu yang indah bersama orang terkasih.
Sama halnya dengan Dianka, wanita itu juga ingin sekali menghabiskan malam bersama Darwin ke luar rumah. Jika dipikir-pikir mereka belum pernah menikmati waktu untuk sekedar jalan-jalan.
Mungkin ini saat yang tepat untuk mengajak Darwin berkencan layaknya sepasang remaja yang baru menjalin kasih.
Memikirkan itu Dianka semakin tidak sabar untuk cepat-cepat mengajak sang suami, sepertinya akan seru dilakukan.
Yah... Sebut saja mereka berpacaran setelah menikah.
Disaat Dianka tengah melajukan mobilnya ia melihat jalanan yang sedang macet, dengan terpaksa wanita cantik tersebut menghentikan mobilnya.
"Sepertinya macetnya akan parah, apa sebaiknya aku lewat jalan lain saja ya?" Gumam Dianka.
Setelah beberapa menit berpikir Dianka pun memutuskan untuk melewati jalan pintas.
Mobil putih tersebut pun akhirnya bisa melaju lagi.
Walaupun jalan yang Dianka lewati memang lebih jauh dan sepi namun setidaknya ia tidak akan terjebak di dalam kemacetan yang tidak tau sampai berapa lama.
Daerah tersebut lebih banyak di kelilingi oleh persawahan dan beberapa rumah kecil yang tidak terlalu banyak.
Saat Dianka tengah melaju dengan nyaman tiba-tiba saja dua buah mobil hitam di belakangnya menghadang mobil dianka di pertengahan jalan.
Dianka dibuat tekejut!
Dengan cepat Dianka mengerem mobilnya secara mendadak.
Citttt......
__ADS_1
Hatinya merasa ada yang tidak beres, ia mulai sedikit panik kala melihat beberapa orang berbadan besar keluar dari mobil hitam tersebut.
Dua orang pria mengetuk pintu kaca mobil Dianka dari arah kanan dan kiri.
"Siapa mereka?" Gumam Dianka.
"BUKA PINTUNYA!" Titah pria itu.
Dianka tidak langsung menuruti keinginan pria tersebut, ia memikirkan cara agar dapat lolos dari sana.
Dan alhasil pria tersebut semakin menggedor gedor kaca mobil Dianka dan membuat orang didalamnya ketakutan.
"BUKA PINTUNYA ATAU KAMI PECAHKAN!!" Ancamnya.
Dianka pun tak punya pilihan lain, ia membuka kaca mobilnya dan melihat kebingungan pada semua lelaki di depannya.
Setelah kaca mobil Dianka terbuka tanpa diduga tangan pria itu terulur menekan tombol pembuka pintu mobil.
Dengan cepat orang tersebut membuka pintu mobil dan menarik Dianka keluar.
"Hey ada apa ini?!! Apa-apaan kalian!!" Dianka semakin panik saat lelaki tadi memaksa dirinya keluar.
"DIAM!!' Sentaknya pada Dianka.
"LEPASKAN AKU..!! APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH..?!!" Dianka memberontak berusaha terlepas dari segerombolan orang di sekelilingnya.
"TIDAK MAU! LEPAS AKU.... TOLONGG....!!! TOLONG....!!!" Dianka akhirnya berteriak meminta tolong, namun sayang mereka berada di tengah persawahan yang tidak ada satu orang pun disana.
"TOLONGG....!! SIAPAPUN TOLONGG...!! TOLONGG... Mmpphh...."
Seketika mulut Dianka langsung dibekap oleh sapu tangan yang sudah di semprot oleh cairan yang bisa membuat orang tak sadarkan diri saat menghirupnya.
Tubuh Dianka perlahan melemah dan ia pun tak sadarkan diri.
Segera pria disana mengangkat tubuh Dianka dan memasukkannya ke dalam mobil.
Sedangkan satu pria masuk ke dalam mobil Dianka dan membawanya ke suatu tempat.
Setelah setengah jam lebih orang yang membawa mobil Dianka sampai di sebuah jurang tinggi yang berada di suatu pelosok.
Pria tersebut turun dari mobil, ia melihat ke kanan dan ke kiri mewaspadai agar tidak ada seorang pun yang melihat tindakannya.
Setelah di rasa aman pria kekar tersebut sekuat tenaga mendorong mobil hingga mobil Dianka jatuh ke dalam jurang yang lumayan dalam.
Beberapa detik kemudian mobil Dianka meledak dan beberapa api membakar bagian mobil putih itu.
Pria itu tersenyum licik saat melihat tugasnya sudah terselesaikan.
__ADS_1
Tak lama sebuah mobil datang, pria berbaju hitam yang membawa mobil Dianka pun masuk ke dalam mobil tersebut yang sepertinya adalah rekannya sendiri.
"Sudah selesai?" tanya rekan yang membawa mobil hitam disana.
"Sudah, aku yakin tidak akan ada yang tau jika tindakan ini disengaja"
"Bagus!" ia pun membawa mobilnya menjauh dari tempat itu.
***
Di sisi lain Adelia yang masih berada di ruangannya nampak begitu cemas memikirkan tindakan dirinya yang nekat ini.
Tapi ia merasa tidak punya pilihan lain untuk menjauhkan Dianka dari Darwin, Darwin harus menjadi miliknya kembali!
Sedari tadi Adelia menggengam ponselnya, ia ingin tau sampai dimana aksi para pesuruh nya untuk menangkap Dianka.
Dan tak lama sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Adelia.
Dengan sekejap perempuan itu mengangkat telepon dari salah satu bawahannya.
Adelia: Bagaimana? Apa kalian sudah berhasil membawa wanita itu?
X: Sudah Nona, sekarang wanita yang anda maksud sudah bersama kami.
Adelia diam sejenak, tak di pungkiri jika ia sedikit takut melakukan aksinya yang satu ini.
Adelia: Apa yang akan kalian lakukan padanya?
X: Kami belum tau Nona, tapi jika Nona ingin kami membunuhnya kami akan melakukan hal tersebut sesuai keinginan Anda.
Adelia mer*mas pakaian yang ia pakai, mendengar kata 'membunuh' membuat tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Apa ia benar-benar harus menyuruh bawahannya untuk membunuh Dianka?
Adelia: A-aku tidak tau, pokoknya kalian bawa dia jauh-jauh hingga tidak ada satu pun orang yang tau.
X: Baik Nona, kami akan lakukan dan tentunya sesuai dengan upah kami.
Adelia berdecak kesal, jika bukan karna ingin mendapatkan Darwin kembali ia tidak perlu mengeluarkan uang yang ia cari dari hasil jerih payahnya sendiri untuk melakukan ini semua.
Adelia: Ck, kau tenang saja urusan uang akan aku kirim jika kalian sudah menyelesaikan misi yang aku perintahkan.
X: Baik Nona, kalau begitu kami akan menghubungi Anda lagi nanti.
Dan telepon pun akhirnya terputus.
Adelia masih melamun memikirkan hal ini, bagaimana pun tidak boleh ada yang tau jika dirinya lah yang berusaha untuk mencelakai Dianka.
__ADS_1
Tidak satu pun!