ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Membantu


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu, semua orang sibuk berlibur saat weekend menikmati kebersamaan bersama sanak keluarga.


Tapi tidak dengan Dianka dan Darwin, mereka kini justru tengah membahas kasus terkait Kevin karna sebentar lagi akan diadakan sidang mediasi maka penggugat dan pengacara itu harus mempersiapkan apa-apa saja yang akan di sampaikan saat nanti di persidangan.


Tak hanya Anna, Alfred pun ikut berada disana untuk memberikan barang yang sedari kemarin Darwin minta.


Namun hingga kini Darwin sama sekali belum menagih shampoo tersebut pada Alfred, melihat Alfred yang diam saja seperti tengah mempunyai masalah Darwin pun menjadi tidak enak hati meminta barang itu pada si pemilik.


Alfred duduk disamping Anna dengan pandangan kosong ke depan, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Alfred tapi pria berkemeja hitam itu seperti sedang memiliki masalah yang besar.


"Tapi Anna seperti nya aku tidak bisa datang ke persidangan, suamiku tidak mengizinkan aku berpergian saat sedang hamil" Ungkap Dianka.


"Ah.. Tidak apa-apa Nona, saya mengerti. Serahkan saja semuanya pada saya, saya pastikan Kevin akan diberi sanksi sesuai dengan perbuatannya" Jawab Anna meyakinkan.


"Baiklah terima kasih Anna, emm.... Tapi, bisakah kau tidak memanggilku Nona??" Kata Dianka pada perempuan cantik di depannya.


Anna menatap Dianka dengan pikiran yang bertanya-tanya, ia pun akhirnya berkata.


"Lalu... Saya harus memanggil apa?"


"Panggil saja Dianka, jangan terlalu formal Anna... Aku ingin kita bersikap layaknya teman" Tutur Dianka ramah, jujur saja ia merasa senang jika bercerita apapun pada Anna. Walaupun mereka membahas masalah Kevin tapi Anna benar-benar wanita yang cocok menjadi temannya. Dianka sangat ingin berteman dengan pengacara nya ini apalagi di negara ia tinggal sekarang dianka belum memiliki banyak teman.


Anna membalas ucapan Dianka tak kalah ramah, jujur saja tadinya ia pikir Dianka seperti orang-orang sosialita yang ber pilih-pilih dalam hal berteman. Dan sekarang melihat Dianka yang tidak seperti dugaannya membuat Anna terkesan.


"Baiklah.... Dianka" Ucap Anna.


Dianka tersenyum senang mendengarnya.


"Jadi... Sekarang kita berteman??" Tanya Dianka ragu.


Anna mengangguk cepat membenarkan pertanyaan dianka.


"Ya... Kita berteman!"


Kedua wanita tersebut sama-sama tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan mereka, tetapi kedua lelaki yang berada disana sama sekali tidak menghiraukan kedua wanita nya.


Alfred sibuk dengan pikirannya, sedangkan Darwin sibuk memikirkan cara bagaimana menagih shampoo yang ia minta.


"Ekhemmm.... !!" Darwin berdehem cukup keras, membuat Dianka dan Anna menoleh pada lelaki tersebut.


Lamunan Alfred pun terbuyarkan oleh deheman Darwin, kedua pria tersebut sama-sama saling menatap.

__ADS_1


"Emm... Aku... Aku hanya ingin menanyakan perihal barang yang aku minta.


A-apa kau membawanya?" Tanya Darwin pada Alfred.


Seketika Alfred ingat akan tujuannya kesini.


"Iya, sebentar aku bawa dulu di mobil" Alfred pun bangkit dan berjalan keluar dengan langkah gontai.


"A-aku juga mau keluar sebentar, kalian berbincang-bincang saja dulu" Darwin berdiri dan melangkah keluar mengikuti Alfred.


Ketika sudah di luar rumah Darwin berjalan mendekati Alfred yang baru saja akan membuka pintu mobilnya.


"Ada apa denganmu?" Seru Darwin tiba-tiba.


Gerakan Alfred terhenti saat itu juga, ia berbalik dan melihat Darwin yang berdiri di belakangnya. Alfred mengernyit bingung.


"Aku? Memangnya aku kenapa?"


Darwin menghela nafas sebelum ia berbicara.


"Sepertinya kau sedang ada masalah, ekspresi mu terlihat sedang tidak baik-baik saja" Ungkap Darwin penasaran.


Mendengar itu mata Alfred berubah sendu, ia menyandarkan tubuhnya di badan mobil seperti orang putus asa.


"Maksudmu?" Heran Darwin.


"Aku... Aku bingung bagaimana caranya menikahi seseorang" Lirih Alfred.


"Menikah? Apa seseorang yang kau maksud adalah anna?"


Alfred mengangguk.


"Kenapa bingung? Aku lihat kalian saling mencintai, lalu masalahnya dimana?"


Alfred memalingkan pandangannya ke arah lain, menatap burung-burung yang sedang berterbangan di udara.


"Dulu aku dan Anna dijodohkan karna orang tua kami, tapi aku memutuskan perjodohan itu karna ingin balas dendam pada Kevin dengan menikahi Adelia. Sekarang aku bingung harus bilang apa pada kedua orang tua Anna nanti, pasti tidak akan mudah bagi mereka merelakan anaknya menikah dengan seorang duda" Ucap Alfred bercerita.


Darwin bisa melihat kebingungan yang dialami Alfred, ia tahu sebenarnya dari awal Alfred juga menjadi korban dari kebejatan yang kevin lakukan.


"Dan lagi... Jika aku menikah siapa yang akan menjadi wali untukku? Aku bahkan tidak punya keluarga" Sambungnya.

__ADS_1


Darwin tertegun! Ternyata beginilah kehidupan Alfred sesungguhnya, banyak alasan kenapa Alfred menjadi seorang yang egois dan dingin.


"Aku harus apa sekarang? Kalau saja kedua orang tua ku masih ada pasti mereka akan mendukung dan membantuku. Tapi sekarang aku sendiri... Aku tidak punya siapa-siapa"


Alfred memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba kuat walau rasanya begitu sakit dan amat perih. Baru saja kebahagiaan itu muncul kini ia harus dibebani dengan permasalahan yang dulu ia lakukan.


Ia sangat ingin menikahi Anna, sangattt..... Ingin. Tapi bisakah Anna menjadi istri dari seorang duda yang tak memiliki keluarga??


Apa yang harus ia lakukan??


"Ada aku!"


Suara bariton yang masuk ke dalam indera pendengar Alfred membuat di empu membuka matanya dan memandang ke arah Darwin dengan terkejut.


"Apa maksudmu?" Tanya Alfred berusaha meyakinkan kembali pendengaran nya.


"Aku akan membantu mu... Aku akan membantu mu berbicara pada orang tua Anna, meyakinkan keduanya jika kau pantas menjadi suami dari putri mereka"


Deg!!!


Alfred seolah tertampar dengan pernyataan Darwin.


Tubuhnya membeku disertai dengan tatapan tak percaya.


Benarkah Darwin mau membantunya? Apakah ia tidak salah dengar???


"Jika kau butuh wali aku akan meminta kedua orang tuaku untuk menjadi walimu. Mereka pasti mau, kau tenang saja... "


Alfred masih terperangah dibuatnya, ia masih terkejut dengan perkataan Darwin dan kali ini ia semakin terkejut mendengar ucapan kedua Darwin.


Darwin yang menyadari jika Alfred kini tengah terkejut pun melanjutkan perkataannya.


"Jangan geer dulu! A-aku begini bukan berarti aku peduli padamu....!!


Hanya saja... A-aku ingin berbalas budi karna kau telah berbaik hati menolongku saat aku pingsan kemarin dan juga memberiku shampoo milikmu" Ujar Darwin beralasan.


Tetapi sayang, Alfred sama sekali tidak mendengarkan perkataan Darwin yang satu ini, dirinya masih dibuat terharu pada Darwin.


"Hei...! Kenapa kau diam saja??!!


Mana shampoo yang aku minta????" tagih Darwin.

__ADS_1


"Ah... Iya iya iya, akan aku ambilkan... Sebentar" Alfred pun membuka pintu mobil dan mengambil shampoo yang Darwin pinta dengan penuh semangat.


__ADS_2