
Esok harinya Dianka nampak lesu dan tidak bersemangat, hingga siang ini Darwin masih belum bisa dihubungi.
Sudah beberapa kali Dianka mencoba menelpon suaminya namun nomor lelaki itu sama sekali tidak aktif.
Pertanyaan-pertanyaan tentang dimana Darwin sekarang, sedang apa dia, dan kenapa tidak ada kabar pun selalu berputar di otak Dianka.
Sudah hampir dua hari ia tak mendengar suara dari pemilik hatinya tersebut, rasanya sudah seperti sebulan ia ditinggalkan oleh sang suami.
Apakah dirinya terlalu berlebihan? Tapi mau bagaimana pun ia harus tau kabar dari Darwin meskipun hanya satu kali dalam sehari.
Kehamilannya membuat Dianka cemas berkali-kali lipat, ia takut Darwin pergi meninggalkan dirinya dengan sang buah hati layaknya cerita-cerita dalam adegan film.
Bagaimana jika benar demikian?
Darwin tidak mungkin begitu kan? Darwin tidak mungkin setega itu pergi meninggalkan dirinya dalam kondisi hamil.
Akhhh.....!!! Ia sudah benar-benar lebay sekarang, hanya ditinggal beberapa hari tanpa kabar pun Dianka sudah kalang kabut seperti ini.
Tidak biasanya dianka berlebihan mengatasi masalah kecil seperti sekarang, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi rasa khawatir itu.
Para pegawai pun dibuat kebingungan dengan sikap Dianka, Dianka hanya menjawab 'iya' atau 'tidak' tanpa memberi saran pada pekerjaan mereka.
Itu bukan seperti Dianka yang biasanya selalu gesit mengenai pekerjaan butik.
Tetapi meski begitu para pegawai tersebut tidak mau lancang menanyakan penyebab mood Dianka yang tengah buruk.
Mereka memaklumi atasannya yang juga pasti memiliki masalah masing-masing.
"Bu, mengenai busana lamaran Nona Anna bagaimana jika di padu dengan kain yang berbeda karna stok kain yang diminta sedang kosong di pabriknya" Tanya Mitha meminta saran.
"Iya, lakukan bagaimana bagusnya" Ucap Dianka sambil melamun menatap layar ponselnya.
Mitha yang awalnya kebingungan lantas mengangguk-angguk pelan.
"Oh iya bu, untuk hiasannya kami menambahkan pernak pernik di bagian tali pinggang supaya terlihat lebih elegan. Bagaimana bu?"
"Hmm.... Boleh" Jawab Dianka singkat.
Suasana hening kembali, Mitha yang merasa boss nya sedang dilanda suatu masalah pun menduga jika atasan nya ini sedang tidak ingin berkutat dengan pekerjaan.
Lantas Mitha pun pamit dari sana.
"Kalau begitu saya pamit keluar bu" Dianka hanya mengangguk membiarkan Mitha keluar dari ruangan.
Mata dianka tak lepas dari layar gadget miliknya, memantau nomor Darwin sampai nomor itu aktif nanti.
"Apakah mas Darwin jadi pulang hari ini? Seharusnya mas Darwin sudah di bandara bukan?"
Lagi-lagi Dianka hanya bisa menghela nafas, sekuat apapun ia berusaha untuk tidak kepikiran namun yang ada justru otaknya selalu terngiang-ngiang tentang hal ini.
__ADS_1
Sampai sore hari menjelang tak ada tanda-tanda jika Darwin menghubungi Dianka.
Lelaki itu masih saja asyik membuat pikiran Dianka bergelayut dalam kecemasan.
Dianka tidak langsung pulang dari butik, ia ingin menyendiri dulu disana. Jika di rumah kekhawatiran Dianka semakin menjadi-jadi.
Detik demi detik terlewatkan, hari sudah mulai gelap. Matahari pun sudah tertutup awan hitam tanda jika seseorang harus pulang setelah menjalani aktivitas nya.
Dilihatnya jam tangan yang menunjuk ke arah enam, ini sudah lebih dari waktu biasa Dianka pulang.
Dengan terpaksa wanita itu beranjak dari kursi besarnya dan keluar dari sana.
Dianka mulai mengendarai kendaraan dengan pelan, ia tak mau terburu-buru sampai ke rumah.
Banyaknya orang lalu lalang mungkin saja bisa sedikit meramaikan suasana hati Dianka yang tengah sepi.
Sesampainya di halaman rumah Dianka turun dari mobil dengan langkah gontai, satu persatu kakinya menyentuh teras rumah.
Dianka lalu mengambil kunci rumah untuk membuka pintu besar didepannya.
Dibukakan nya pintu besar itu dan....
Seketika bola mata Dianka membesar saat mendapati rumahnya dipenuhi oleh lilin dan beberapa rangkaian bunga.
Semerbak aroma menyengat dari kedua benda tersebut langsung memanjakan indera penciuman Dianka.
"A-ada apa ini? Apa yang terjadi pada rumahku?" Gumam Dianka berpikir dengan keadaan rumahnya yang tiba-tiba saja berubah.
Dengan refleks Dianka berjalan mengikuti arah bunga tersebut.
Matanya pun sibuk memandang beberapa foto dirinya yang dipajang di sana.
Hingga sesampainya di taman belakang, seseorang berdiri tepat di depan Dianka sembari membawa seikat bunga.
Pria yang seharian ini mengacaukan pikirannya kini tengah tersenyum manis pada Dianka.
"M-mas Darwin?"
"Selamat malam cantik, bagaimana kabarmu hari ini?" Ucap Darwin pada Dianka.
Dianka yang masih merasa syok tak langsung menjawab pertanyaan dari suaminya.
Ia justru melontarkan pertanyaan pada Darwin.
"Mas sebenarnya ada apa ini? Kenapa dari kemarin mas tidak ada kabar? Dan... Kenapa rumah kita jadi seperti ini?" Sembur Dianka pada Darwin.
Darwin tertawa kecil, ia mendekat dan menuntun Dianka ke sebuah meja yang sudah di hiasi hiasan seromantis mungkin.
"Kemarin lah sayang, duduklah disini" Darwin menarik kursi untuk Dianka dan menduduki sang istri di kursi tersebut.
__ADS_1
Tak cukup sampai disitu, Dianka lagi-lagi dibuat terkejut sekaligus terpana saat matanya menangkap area kolam renang yang ditaburi oleh macam-macam bunga hingga tertulis nama
'Darwin ❤ Dianka'
"M-mas.... Kau... Membuatkan ini untukku?" Tanya Dianka tak percaya.
Darwin dengan cepat mengangguk sebagai jawaban.
Dianka seketika menutup mulutnya dengan tangan sangking tak percaya dengan apa yang suaminya lakukan.
"T-tapi kenapa mas?"
Darwin mengambil kedua lengan istrinya sambil menatap mata Dianka dengan lekat.
Namun sebelum Darwin berbicara, ia menarik nafas terlebih dahulu mencoba menormalkan detak jantungnya.
"Dianka....
Mungkin ini memang belum seberapa...
Tapi aku ingin melakukan sesuatu yang belum pernah aku berikan padamu...
Maaf jika tidak sesuai dengan harapanmu selama ini, tapi ini semua adalah bukti jika aku benar-benar serius mencintaimu" Ungkap Darwin.
Pria itu berjalan mendekat lalu berlutut tepat di hadapan Dianka dan mengeluarkan sebuah kotak merah yang berisikan sebuah cincin berlian yang sangat indah.
"Dianka... Mungkin pertemuan kita memang tidak pernah terduga, dan kita menikah bukan atas dasar cinta.
Namun perlahan... Kasih sayang yang selalu kau torehkan memberikan ku ruang untuk membuka hatiku padamu, namun tanpa sadar aku sudah sangat-sangat terikat padamu. Aku tidak akan pernah bisa lepas dari setengah tulang rusuk ku"
"Dan malam ini, aku ingin melamar mu...
Aku ingin kita merasakan apa yang seharusnya kita lalui dulu..."
"Dianka... Apakah kau ingin menjadi teman hidupku dan menua bersama ku?" Ucap Darwin sambil menyodorkan kontak kecil itu pada Dianka.
Tanpa bisa dibendung lagi air mata Dianka sudah jatuh dengan deras.
Ia begitu bahagia mendengar kata-kata indah yang keluar dari bibir suaminya.
Beginikah rasanya dilamar oleh seseorang yang kita cintai??? Hati Dianka serasa dibawa terbang menuju surga, benar-benar indah!
"Iya... Aku mau mas"
Mendengar jawaban Dianka senyum Darwin mengembang lebar, ia langsung menyematkan cincin berlian tersebut di jari manis Dianka dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Aku mencintaimu Dianka... Selalu dan akan terus mencintaimu"
"Aku pun mas, aku lebih mencintaimu.... "
__ADS_1