
Pagi harinya Darwin yang tengah tertidur pulas nampak menepuk-nepuk ranjang disebelahnya seperti sedang mencari sesuatu dengan mata yang masih terpejam.
Ia terus menepuk-nepuk ranjang itu hingga Darwin menyadari jika sesuatu yang ia cari tidak ada, seketika matanya terbuka dan melihat ranjang disebelahnya kosong.
Dianka tidak ada disana.
Jantungnya kembali berdegup kencang, rasa panik dan cemas pun muncul kembali.
Darwin langsung bangkit dari ranjang, ia menatap jam yang masih menunjukkan pukul enam.
Di kamar mandi Dianka tidak ada, Darwin pun mencari wanita itu ke lantai bawah.
Namun Dianka juga tidak ada dimana pun, tiba-tiba pikirannya tertuju pada dapur. Mungkin saja Dianka tengah memasak.
Darwin lalu melangkahkan kakinya ke arah ruangan tersebut, tapi lagi-lagi ia tak menemukan Dianka, ia malah menemukan makanan yang sudah tersedia di atas meja.
Darwin yakin Dianka yang memasak makanan ini untuk sarapannya.
Dan di atas meja makan itu terdapat kertas kecil seperti kemarin, Darwin lantas membaca tulisan yang tertera.
Aku berangkat dulu, jangan mencariku.
Langsung lah bekerja.
"Kenapa dia berangkat sepagi ini? Bahkan butik pun dibuka pukul delapan" Gumam Darwin bingung.
Tak mau berprasangka buruk tentang istrinya Darwin pun kembali menuju kamar untuk mandi karna ia juga harus berangkat ke kantor.
Pukul tujuh pagi Darwin yang baru saja menyelesaikan sarapannya langsung keluar dari rumah dan menuju garasi mobil.
Saat Darwin membuka garasinya ternyata mobil Dianka memang sudah tidak ada disana, wanita itu benar-benar pergi.
Entah kenapa hari ini Darwin sedikit malas dan tak bersemangat, ia merasa hidup seperti sebelum dirinya menikah dengan Dianka. Dimana ia hanya fokus pada pekerjaan dan seakan tak memiliki tujuan.
Di kantor pun begitu, hari ini banyak sekali para karyawan yang terkena amarah dari boss nya. Padahal karyawan tersebut sudah melakukan yang terbaik, namun karna Darwin sendiri yang tidak fokus dalam bekerja maka seolah-olah yang salah ada para karyawannya.
"Huhh..... Ternyata aku juga dimarahi oleh Pak Darwin, padahal kan aku sudah mengerjakan laporan yang Pak Darwin minta" Keluh karyawan wanita.
"Iya aku juga begitu, sepertinya mood Pak Darwin sedang tidak bagus"
"Iya sepertinya begitu, tidak biasanya Pak Darwin seperti ini" Ucap salah satu dari empat karyawan yang berbisik disana.
"Mungkin saja pak Darwin tidak mendapat jatah malam dari istrinya jadi hari ini beliau tengah kesal" Kata karyawan pria.
Mereka semua pun tertawa mendengar candaan rekan kerjanya tadi.
"Hahaha... Kau benar"
__ADS_1
Mereka terus tertawa terbahak-bahak sampai tak menyadari jika Adelia masuk dan berdehem membuat ke empat orang itu seketika terdiam dan menunduk.
"Ekhemm.... "
"Kenapa kalian begitu ribut-ribut? Apa kalian tidak punya pekerjaan?" Sindir Adelia.
"Eh.. Ma-maaf bu, ka-kami hanya sedang mengobrol sebentar"
Adelia menatap mereka dengan sinis, ia juga melipat kedua lengannya di atas dada dan menampilkan kesan angkuh.
"Memangnya apa yang kalian bicarakan sampai tidak menyadari kehadiranku?" Tanya Adelia ketus.
Empat karyawan itu saling menyenggol satu sama lain untuk menyuruh salah satu temannya menjawab pertanyaan adelia.
"Jawab!!!" Bentak Adelia saat itu juga.
"Ka-kami hanya membicarakan tentang Pak Darwin bu, ta-tapi kami tidak membicarakan hal yang aneh-aneh kok" Jawab karyawan berkacamata.
Adelia mengerutkan keningnya, mendengar nama Darwin disebut ia menjadi penasaran dibuatnya.
"Memang ada apa dengannya?"
"Emm... Hari ini Pak Darwin memarahi kami karna laporan yang kami ajukan, pa-padahal kami sudah membuat laporan sesuai permintaan beliau, tapi beliau tidak mau menerimanya dan memarahi kami" Jelasnya dan diangguki oleh ketiga temanya itu.
Adelia merasa heran dengan penjelasan mereka, tidak biasanya Darwin marah pada semua pegawai, biasanya Darwin hanya menegur saja.
"Ini bu"
Adelia membaca laporan tersebut dengan seksama, laporan yang dibuat karyawan ini sama sekali tidak ada yang salah, tidak ada yang harus di revisi apalagi diganti.
Ada apa dengannya?
"Ya sudah biar aku saja yang berbicara langsung padanya"
"Tapi bu, ka-kami mohon jangan beritahu jika kami membicarakan Pak Darwin tadi"
"Hhmm" Ucap Adelia sebagai tanggapan.
Ia pun pergi menuju ruangan Presdir guna bertemu dengan Darwin dan menanyakan ada apa dia sebenarnya.
Seperti biasanya Adelia langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia melangkahkan kaki ke arah meja kerja Darwin.
"Darwin aku ingin bicara denganmu!"
Sontak saja Darwin mendongakkan kepalanya.
"Ada apa Adelia?"
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menerima laporan yang diajukan para karyawan?"
Pertanyaan Adelia membuat Darwin memijit pelipisnya, sejujurnya ia sedang tidak mau membahas hal ini.
"Semua laporan yang mereka ajukan jelek! Aku ingin semuanya diubah!"
"Apa?!! Darwin asal kau tahu tidak ada yang salah dari laporan mereka, kenapa mesti diubah?!!" Protes Adelia pada sang atasan.
"Aku tidak mau tahu aku ingin semuanya diubah!"
Adelia menggelengkan kepalanya beberapa kali, darwin benar-benar berbeda hari ini.
"Darwin ada apa denganmu?"
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahas hal ini lebih baik kau kembali bekerja"
Darwin bangkit dari duduknya dan memasuki sebuah ruangan tempat dimana Darwin beristirahat.
Adelia hanya bisa mematung, ia sendiri tak tau apa yang membuat Darwin seperti saat ini.
"Ada apa dengannya? gumam Adelia.
Ia pun memutuskan untuk keluar, namun saat ia hendak berlalu tanpa sengaja Adelia melihat ponsel Darwin yang tergeletak di atas meja kerja, matanya melirik kembali pada pintu yang tadi Darwin masuki.
Setelah dirasa aman, dengan hati-hati Adelia mengambil ponsel tersebut.
"Semoga tidak dikunci"
Dan saat ia menyalakan ponselnya ternyata benar, Darwin tidak memakai kode pengaman didalam ponselnya.
"Yess"
Dengan cepat Adelia membuka whatsapp Darwin dan mencari nama Dianka.
Namun tidak ada nama Dianka didalam ponsel itu.
"Kenapa tidak ada? Apa sebenarnya nama kontak Dianka di ponsel Darwin?"
Adelia terus menelusuri setiap nama di kontak whatsapp itu, sampai dimana ada sebuah nama membuatnya tercengang.
"Istri kesayangan ku? Darwin memberikan nama ini untuk istrinya?!"
"Argghh... Kurang aja!!" Desis Adelia.
Rasa geram itu muncul kembali di benak Adelia, ia membuka kontak tersebut dan tidak ada percakapan penting disana.
Dan tanpa diduga Adelia mengetik nomor Dianka di ponsel miliknya sendiri, dan setelah itu ia pun meletakkan kembali ponsel Darwin di posisi semula lalu berjalan pergi dari ruangan Darwin.
__ADS_1