ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Boy Or Girl?


__ADS_3

Hari-hari berikutnya usia kandungan Dianka sudah memasuki bulan keempat, dimana calon orang tua itu langsung melakukan pemeriksaan guna memastikan kondisi buah hati mereka, serta Darwin dan Dianka juga ingin tahu jenis kelamin dari jabang bayi tersebut.


Karna dokter bilang di usia empat bulan janin sudah bisa dilihat apakah dia perempuan atau laki-laki.


"Sayang, kau tunggu lah disini aku akan mengambil antrian dulu" Darwin memerintahkan Dianka untuk duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan dokter obgyn saat mereka baru saja sampai di rumah sakit.


"Iya mas" Dianka pun menurut dan menjatuhkan bokonggnya di atas kursi berwarna silver tersebut.


Dilihat sudah banyak sekali orang-orang yang berada disana, para Ibu hamil itu duduk persis seperti Dianka. Ada yang ditemani oleh suaminya ada juga yang tidak.


Satu persatu dari mereka keluar dan masuk ke dalam ruangan dokter, wajah senang dan tegang pun terpancar kan dari wanita-wanita itu.


Seorang wanita yang duduk di sebelah Dianka tiba-tiba saja bersuara dan bertanya padanya.


"Sudah berapa bulan, Nona?"


Dianka terlonjak dan menoleh pada wanita itu.


"Sudah empat bulan, Nona" jawab Dianka ramah.


"Empat bulan? Tapi kok sudah besar ya? Apa kembar?" serunya terkejut sambil memandang ke arah perut Dianka.


"Tidak, Nona" lantas Dianka pun bertanya balik.


"Kalau Nona sudah berapa bulan?"


"Sudah mau sembilan bulan, sebentar lagi melahirkan hehe... " tawanya.


"Wah... Semoga kelahirannya berjalan normal dan selamat ya"


"Iya Nona, terima kasih" Tak lama nama perempuan itu dipanggil oleh dokter, ia pun lantas berpamitan pada Dianka.


"Saya duluan, Nona"


"Ah iya, silahkan" Dianka pun kembali terdiam.


Sekitar lima belas menit Darwin datang dan duduk di samping istrinya.


"Sudah mas? Kita dapat antrian ke berapa?"


"Ke tujuh, sayang" Jawabnya dibalas oleh anggukan Dianka.


"Tadi kau mengobrol dengan siapa?" tanya Darwin penasaran, pasalnya pengambilan nomor antrian tidak jauh dari sini hingga Darwin bisa melihat gerak-gerik Dianka.


"Oh tadi aku mengobrol dengan salah satu Ibu hamil yang sedang cek kehamilan juga"

__ADS_1


"Oh... " jawabnya ber-oh ria.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya nama Dianka yang di sebut.


Sepasang suami-istri itu bangkit dan memasuki ruangan dokter kandungan, Dianka semakin erat menggengam tangan Darwin.


"Aku sangat gugup, mas" Bisiknya di telinga Darwin.


Darwin mengulas sedikit senyum dan menuntun istrinya.


"Tenanglah sayang, aku ada disini" Darwin mengecup tangan Dianka guna menenangkan kegelisahan sang istri.


"Selamat sore Bapak Ibu, silahkan langsung berbaring saja ya" Pinta wanita berjas putih.


Dan disini lah mereka sekarang, Dianka terbaring di atas brangkar ditemani oleh Darwin yang setia menggenggam tangannya.


Jantung Darwin dan Dianka sama-sama berdegup kencang, hal yang pasti selalu di alami oleh calon orang tua lainnya. Mereka pasti akan gelisah saat dokter memeriksa bayi yang ada di perut sang wanita, dan berdoa supaya buah hati mereka sehat dan berkembang.


Dokter berusia empat puluh tahun itu mulai memeriksa Dianka, dari mulai mengecek tekanan darah sampai dimana dokter tersebut mulai mengoleskan gel di atas perut Dianka.


dokter wanita yang memeriksa Dianka nampak sibuk dengan menatap sebuah layar USG didepannya.


"Bagaimana dok? Apa kondisi bayi kami baik-baik saja?" Tanya Darwin tidak sabaran.


"Dari hasil USG janinnya baik-baik saja, bayinya juga sehat dan tumbuh dengan cepat. Bagus! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan asalkan ibu tetap melakukan aktivasi yang baik untuk perkembangan janin" Ucap dokter tersebut.


"Tentu, karna usia kehamilannya sudah memasuki empat bulan jadi kita sudah bisa tau apa jenis kelaminnya.


Dari hasil yang saya lihat bayi kalian berjenis kelamin perempuan" Jelasnya.


"Apa?? Perempuan???" Darwin dan Dianka tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


Mendengar jenis kelamin sang buah hati mereka semakin bersemangat!


Apa katanya tadi? Perempuan? Bayi mereka perempuan?!!


Oh Tuhan... Sungguh dianka tidak mengira ia akan mempunyai seorang bayi perempuan nanti.


Sama halnya dengan Darwin, mendengar jenis kelamin anaknya ia pun sangat-sangat bahagia. Darwin langsung memeluk Dianka dan memberikan kecupan sebanyak-banyaknya pada wanita itu.


"Mas bayi kita perempuan, aku sangat senang mas.... " Ungkap Dianka.


"Aku juga sayang, kita akan memiliki malaikat kecil yang cantik... " Ucapnya.


"Saya turut senang atas Bapak dan Ibu sekalian, dan karna ini adalah kehamilan pertama maka saya mohon untuk tetap menjaga kesehatan meskipun janin sudah cukup kuat. Karna kehamilan pertama ini akan sangat berpengaruh pada kehamilan berikutnya" Seru sang dokter mengingatkan.

__ADS_1


"Tentu dok, saya akan selalu menjaga kesehatan saya" Balas Dianka antusias.


"Kalau begitu saya tulis dulu resep vitamin untuk kalian tebus"


"Baik dok, terimakasih" Ujar Darwin.


Setelah memeriksa kondisi bayi mereka, Dianka dan juga Darwin langsung pulang ke rumah.


Di dalam mobil mereka berdua mengobrol perihal sang buah hati, senyum pun sama sekali tak luntur di bibir keduanya.


"Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu hal ini pada kedua orang tua kita mas, mereka pasti akan senang" Suara Dianka memecahkan keheningan di mobil itu.


"Aku juga sayang, apalagi mamah dan mami pasti akan sangat heboh jika tau kalau bayi kita adalah perempuan"


Dianka terkekeh sembari mengangguk.


"Iya mas, kau benar!"


"Aku tidak menyangka jika bayi kita adalah perempuan sayang" Ujar Darwin sambil tetap menyetir.


"Oh ya? Kenapa begitu?"


"Karna di keluarga ku anak nomor satu selalu laki-laki, entah itu dari keluarga mamah ataupun papah" Ucapnya.


"Benar juga ya, berarti nanti anak kita akan menjadi wanita yang kuat. Karna Tuhan sudah mempercayai dia untuk lahir ke dunia terlebih dahulu" Sahut Dianka mengiyakan perkataan Darwin.


Satu tangan Darwin beralih mengelus perut istrinya dengan lembut.


"Itu pasti sayang, dia akan menjadi wanita kuat seperti ibunya"


Mendengar penuturan Darwin Dianka merasa terharu dan diagungkan, tangan Dianka pun mengenggam tangan Darwin yang berada di perutnya.


"Terimakasih mas"


"Sama-sama sayang" Balasnya.


Mobil terus melaju menembus jalanan, terik matahari yang panas membuat Darwin dan juga Dianka ingin cepat-cepat sampai ke rumah.


"Kau tak ingin mampir terlebih dahulu, mas?" Tanya Dianka tiba-tiba.


"Tidak, kenapa sayang? Kau ingin membeli sesuatu?"


"Tidak mas, hanya saja biasa kau selalu mampir untuk membeli makanan atau minuman sebelum pulang. Apakah mas sudah tidak mengalami ngidam lagi?"


"Emm.... Sebenarnya masih, tapi kali ini aku lebih bisa mengontrol nya. Dan lagi saat ini aku sedang tidak ingin apa-apa" Jawab Darwin.

__ADS_1


"Oh.. Baiklah, kalau begitu kita langsung pulang saja"


__ADS_2