ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Kelelahan


__ADS_3

Manik mata Dianka begitu berbinar saat memandang ke arah bangunan cantik yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Perempuan itu langsung keluar dari mobil dan memasuki butik dengan sangat bersemangat.


Darwin dibuat terkekeh melihat kelakuan istrinya tersebut, ia sampai menggeleng geleng kan kepalanya beberapa kali.


Dianka tersenyum senang kala melihat kondisi butik nya yang masih terawat sama seperti sebelum-sebelumnya, ia menyentuh manekin yang masih terpajang disana, rasa rindu akan butik ini semakin membuncah dan membuat Dianka tidak sabar ingin kembali beraktivitas.


"Ya ampun... Rasanya seperti sudah setahun aku tidak kesini"


Meskipun butik masih belum dibuka namun para pegawai sangat menjaga dan merawat kebersihan toko dengan rajin.


Setelah puas melihat-lihat, Dianka naik ke lantai dua tempat dimana ruangannya berada.


Ia membuka pintu ruangannya dan langsung disambut oleh harum ruangan yang begitu memanjakan indera penciuman.


"Wanginya...... " Seru Dianka saat mencium aroma menyegarkan itu.


Ia lantas masuk dan menjatuhkan tubuhnya di kursi kerja yang terasa empuk dan nyaman.


Darwin yang sedari tadi mengikuti kemana pun Dianka pergi ikut merasa senang melihat mood Dianka yang mendadak berubah membaik. Ia bersyukur Dianka tidak mengalami trauma yang bisa saja membuat wanita itu takut untuk menjalani sesuatu.


Darwin pun ikut menduduki tubuhnya di sofa yang berada disana, ruangan ini memang jauh berbeda dari ruang kerja miliknya yang berada di perusahaan. Ruangan Dianka jauh lebih kecil namun lebih terasa nyaman dan membuat seseorang seakan betah terus berada disana.


"Sesenang itukah kau berada disini?" Tanya Darwin.


"Tentu, aku sangat merindukan pekerjaan ku dan butik ini" Jawab Dianka cepat.


Wanita itu bangkit dari kursi kesayangannya dan berjalan ke arah Darwin.


Ia menjatuhkan tubuhnya di pangkuan sang suami dan memeluk erat badan kekar nan keras tersebut.


"Disini sepi... " Lirih dianka.


Darwin mengernyit alisnya tidak mengerti.


"Lalu?"


Dianka tertawa lucu mengetahui Darwin yang tidak memahami maksud dari ucapannya.


Ia pun melepas pelukan itu dan menatap wajah suaminya dari dekat, sedangkan tangannya sibuk mengelus dada bidang Darwin.


"Dari pada mencari hotel bukankah lebih baik disini saja??" Ucap Dianka dengan nada yang dibuat sensual.


Darwin diam mecoba mencerna kata-kata dianka.

__ADS_1


Sedetik kemudian mata Darwin membola saat pikirannya sudah mengerti kemana arah ucapan Dianka.


"Kau yakin?" Tanya Darwin.


Dianka tak menjawab pertanyaan dari suaminya, ia justru melepas dress yang dipakainya dan melempar pakaian itu begitu saja.


Darwin langsung menegang dan menelan saliva dengan susah payah. Nafasnya ikut memburu menimbulkan sesak di area paru-paru.


Dianka mengubah posisinya dengan menghadap ke arah Darwin, kini Dianka yang terlebih dahulu mencium bibir Darwin dengan sangat agresif.


Tangan Dianka pun tak tinggal diam, jari-jarinya melepaskan kancing kemeja Darwin satu persatu hingga pakaian mahal itu terlepas dari tubuh Darwin.


Tubuh Dianka terus menggeliat di pangkuan sang suami, Dianka juga menekan miliknya pada milik Darwin seolah sengaja agar lelaki tersebut terangsang walau nyatanya Darwin sudah terpancing sedari tadi.


Gairah Darwin pun kian meningkat, ciuman itu turun ke bagian leher jenjang sang istri sembari membuka ikatan braa hingga benda padat itu tak tertutup kain lagi.


Melihat kedua bukit kembar di depannya menyembul dengan sangat menantang Darwin seketika melahapnya dengan tidak sabaran.


Nafas Dianka mulai memendek bahkan sulit untuk menghirup oksigen di ruangan itu.


Ia mendesah tatkala Darwin menghisap pucuk merah muda tersebut dengan sangat keras.


Dianka melampiaskan rasa nikmatnya dengan meremaas rambut hitam Darwin sehingga dibuat berantakan.


"Emmh......!!"


Dianka kembali merubah posisinya, ia berjongkok di hadapan Darwin.


Dengan beraninya Dianka mengelus senjata milik Darwin yang masih tertutup kain hitam.


"Eughhh....!!"


Darwin mengerang saat ia merasakan sentuhan halus tangan Dianka.


Wanita itu menciumi benda tersebut dari setiap sudut, barulah ia membuka penghalang terakhir yang mana kini Darwin bertelanjaang di hadapannya.


Dengan sigap Dianka melakukan aksi yang membuat lelaki itu mendesah, mengerang, dan berceloteh menyebut namanya.


Mulut dan tangan Dianka saja sudah membuat Darwin tak berdaya, apalagi jika ia merasakan sensasi yang lebih dari ini.


"D-di...... Eughh.....!!"


Cukup lama Dianka bergulat dengan aktivitas akhirnya ia pun menyudahi kegiatan tersebut.


Saat Dianka berdiri saat itu juga darwin menurunkan celanaa ddalam Dianka dan membimbing wanita itu agar menungging di atas sofa.

__ADS_1


Darwin bersiap di belakang Dianka memposisikan tubuhnya.


Dan perlahan demi perlahan ia menyatukan miliknya hingga ke pusat terdalam.


"Sshhh.....!!"


Dengan tempo sedang Darwin mulai bergerak menggagahi Dianka.


Mereka terlihat begitu sangat menikmati kegiatan panas yang sudah beberapa bulan ini tidak mereka lakukan.


Rasanya mereka seperti pertama kali mencoba hal ini, surga dunia benar-benar mereka rasakan, saling memuaskan satu sama lain dengan cara yang berbeda-beda.


Gerakan Darwin semakin dipercepat, ia membuat Dianka mendesah tak karuan dan juga berkeringat.


Semakin cepat hingga mereka pun akhirnya mendapat pelepasan.


Darwin kembali membimbing Dianka dengan gaya yang berbeda, mereka melakukannya dengan posisi duduk.


Darwin membiarkan Dianka yang memimpin permainan.


Namun Dianka melakukannya dengan tempo yang sangat lambat seolah sengaja membuat Darwin tersiksa.


Ia menatap wajah Dianka yang tersenyum licik padanya.


"Lakukan dengan cepat, sayang" Pinta Darwin dengan mata yang sayu.


Merasa kasihan melihat Darwin yang memelas kepadanya Dianka akhirnya menuruti keinginan sang suami.


Mereka pun kembali mendesah.


Setengah jam berlalu...


Dianka sudah kehabisan tenaga jika terus mempimpin permainan mereka.


Darwin yang menyadari jika Dianka sudah lelah justru membawa tubuh istrinya ke arah meja kerja yang tak jauh dari sana.


Ia menduduki tubuh Dianka di atas meja, tangan Darwin lalu mengangkat kedua kaki Dianka agar dirinya bisa leluasa melakukan permainan.


Disela-sela kegiatan mereka Darwin meledakkan cairan putihnya yang sangat banyak hingga bercucuran ke bawah lantai.


Mereka pun saling pandang satu sama lain.


"Akan aku bersihkan, tenang saja" ucap Darwin dengan nafas yang terengah-engah.


Dianka hanya tersenyum letih mendengar kata-kata Darwin, ia sangat ingin tertawa namun tenaganya sudah terkuras habis saat ini juga.

__ADS_1


Biarlah mereka terus melakukannya hingga rasa rindu itu lenyap dan terbayarkan.


__ADS_2