ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Masih Mencintaimu


__ADS_3

"Anna tunggu Anna...!! Jangan tinggalkan aku dulu.... Anna......!!" Alfred berteriak sambil berlari mengejar wanita yang akan memasuki gedung apartemen.


Lelaki itu menarik lengan Anna membuat si pemilik tangan berhenti tepat di depan pintu masuk.


"Alfred lepaskan aku! Sebaiknya kau pergi... Bukankah seharusnya kau bekerja???" Ucap Anna mencoba mengusir Alfred dari sana.


"Anna apa kau marah karna aku mengaku jika kita berpacaran?" Tebak Albert mencari tau alasan perempuan ini tidak mau berdekatan dengannya.


"Alfred aku tidak peduli tentang itu, terserah kau mau berkata apapun. Tapi tolong jangan mengikuti ku terus... " Pinta Anna tegas.


Namun sepertinya Alfred tidak pantang menyerah, Anna membuatnya ingin selalu mengejar wanita tersebut. Nampaknya kejadian malam di club kemarin membuat Alfred ingin Anna terikat dengannya.


"Anna kenapa kau menghindari ku? Apa... Apa kau marah karna malam itu?" Tanya Alfred dengan sendu.


Anna membisu mendengar pertanyaan Alfred, bukan karna malam itu sikapnya jadi seperti ini. Tapi karna berdekatan dengan Alfred membuat Anna seakan gila dan terus memikirkan lelaki di hadapannya sekarang.


"Alfred bukankah kau berjanji akan menjauhiku setelah permintaan mu terkabulkan, dan aku sudah mengabulkan keinginan saat itu juga. Kau harus menepati janjimu" Lirih Anna.


Alfred membeku, ia ingat jelas janjinya!


Tapi ia sungguh menyesal telah berkata seperti demikian. Bolehkan ia mengingkari janjinya kali ini saja?


"Maaf Anna... Tapi...


Aku... Aku tidak bisa... " Ungkapnya.


"Jangan begini Alfred, aku tidak tau lagi harus bersikap bagaimana. Tolong.... "


Alfred menggengam kedua lengan Anna dan menatap lekat manik hitam kecoklatan yang juga mengarah kepadanya.


"Aku serius Anna! Lihat mataku....!


Apa menurutmu aku sedang bergurau?? Kau jelas tau bagaimana sifatku, aku bukan orang yang suka main-main. Beri aku kesempatan Anna, kau tujuan untuk aku hidup saat ini"


Anna terhenyak oleh perkataan Alfred, apa katanya tadi? Tujuan hidupnya?


Tapi...


Akhhh.....!! Ini seperti tidak mungkin!


"Aku tidak tau apa tujuanku hidup di dunia ini, aku sudah kehilangan tujuanku semenjak Meisya meninggal. Dan aku hanya bertahan untuk balas dendam dan setelahnya aku tidak tau lagi harus berjalan ke mana.


Tapi saat aku kembali bertemu denganmu aku jadi tau kemana aku harus melangkah dan apa alasanku memilih untuk bernafas di dunia"


Hati Anna berubah hangat, perkataan Alfred seolah melelehkan jiwanya yang sudah ia bekukan sekuat mungkin.


Dan kini, ia kembali dibuat luluh oleh lelaki yang ia cintai.


"Jika kau hanya merasa bersalah karna telah merenggut kesucian ku aku tidak masalah Alfred, tidak perlu bertanggungjawab aku akan baik-baik saja percayalah" Ujar Anna pelan.


Alfred diam mencerna kata-kata Anna, ternyata wanita itu belum juga percaya padanya. Anna masih menganggap sikapnya hanya sebagai tanggung jawab semata.

__ADS_1


"Jadi kau menolak ku? Kau... Tidak memberi ku kesempatan?"


Anna diam.


Alfred menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia mengangguk paham.


"Baiklah, jika itu mau mu...


Apapun akan aku lakukan untuk orang yang berarti dalam hidupku, termasuk keinginan mu yang satu ini... Jika itu membuat mu bahagia maka akan aku lakukan" Perlahan Alfred berbalik dan melangkahkan kakinya dari sana.


Baru beberapa langkah ia menampakkan kakinya tiba-tiba saja suara Anna membuat Alfred berhenti.


"Aku mencintaimu Alfred"


Deg!


"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri!


Aku tidak bisa berpura-pura tegar dihadapan mu terus Alfred.... Hiks....!!!


Nyatanya cinta ku justru bertambah setiap melihat wajahmu... Hiks.... Maaf.... "


Saat itu juga Alfred berbalik dan berlari memeluk tubuh Anna dengan erat.


Pengakuan Anna membuat Alfred bahagia seakan di hujani ribuan bunga-bunga.


Anna masih mencintainya!


Ya Tuhan... Tolong buat umurnya panjang mulai sekarang!!!


"Terimakasih Anna....


Cintai aku karna aku pun mulai merasakan hal yang sama"


Anna melonggarkan pelukan mereka dan mendongak melihat wajah pria pujaannya.


Tatapan terkejut terpancar dari mata bulat Anna.


"K-kau... Serius??"


Alfred mengangguk cepat.


"I love you Anna" Bisik Alfred di telinga Anna.


Anna tersenyum lebar, ia hendak memeluk Alfred lagi.


Tetapi Alfred justru membopong tubuhnya layaknya sepasang pengantin yang baru melaksanakan pernikahan.


Mereka masuk ke dalam apartemen di iringi tawa dari bibir keduanya, semua orang yang melintas dibuat melongo dan berkomentar terhadap kelakuan sepasang manusia yang tengah dimabuk cinta.


***

__ADS_1


"Sayang menurutmu anak kita perempuan apa laki-laki?" Seru Darwin yang kini tengah menyetir mobil dengan satu tangan yang mengelus lembut perut Dianka.


"Emm... Apa ya? Entahlah, aku masih syok hingga tidak bisa berpikir" Ungkap Dianka yang ikut mengelus perut ratanya.


"Kalau mas ingin bayinya berjenis kelamin apa?" Tanya Dianka penasaran.


"Apapun sebenarnya aku boleh-boleh saja, mau itu laki-laki ataupun perempuan" Tutur Darwin.


"Aku juga, kalau banyinya perempuan pasti akan sangat lucu dan secantik Ibunya" Ucap Dianka mencoba bergurau.


"Tapi kalau bayinya laki-laki pasti akan setampan ayahnya! Dia akan sangat beruntung terlahir dari sperm* ku" Seloroh Darwin.


Dianka tergelak dan refleks memukul lengan suaminya.


"Ishh... Kau ini mas! Ada-ada saja kau bicara" Cebik Dianka.


"Hahaha.... Aku hanya bercanda sayang. Dia akan lebih beruntung karna terlahir dari rahimmu" Ujar Darwin mengusap sayang rambut istrinya.


Dianka tersenyum manis, hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk mereka berdua. Ia akan menjadi seorang Ibu, inilah yang Dianka tunggu-tunggu.


"Aku senang akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan mamah, dari dulu mamah ingin sekali mempunyai seorang cucu" Kata Darwin.


"Jadi sebenarnya mas senang karna telah mewujudkan impian mamah saja? kalau mamah tidak pernah memiliki impian seperti itu kau tidak akan senang, begitu?" Goda Dianka pada Darwin.


Darwin yang mendengar ucapan istrinya langsung menggenggam lengan Dianka dengan satu tangan.


"Tentu tidak sayang, aku sangat bahagia karna telah memiliki calon buah hati bersamamu! Impian mamah sebagai bonus dari kebahagiaan ku" Jelas Darwin mencoba memberi pengertian.


Dianka dibuat cekikikan oleh tingkah panik Darwin, padahal dirinya hanya menggoda sang suami namun Darwin justru terlihat sangat cemas.


"Iya iya, aku paham mas"


"Kau tidak marah?"


Dianka menggeleng sambil menampilkan senyum, menandakan ia baik-baik saja.


"Hahh.... Syukurlah! Maaf sayang telah membuatmu sedih" Ucapnya sambil mengecup lembut punggung tangan Dianka.


"Tidak kok mas, aku tidak apa-apa"


Darwin pun kembali melajukan mobilnya dengan tenang.


Namun saat di tengah perjalanan Darwin tiba-tiba menepikan mobilnya, hal itu membuat Dianka menoleh bingung.


" Kenapa berhenti mas?"


"Aku ingin beli es cendol itu sayang, sepertinya enak jika diminum panas-panas begini" Jawab Darwin menunjukkan penjual es cendol yang berjualan menggunakan grobak.


Dianka melihat ke arah yang ditunjuk Darwin, namun ia sama sekali tidak berselera.


"Tidak mas, kau saja yang beli jika memang ingin"

__ADS_1


Dengan segera Darwin keluar dari mobil dan berlari ke arah penjual es cendol yang banyak digandrungi para pembeli, membuat Dianka merasa lucu dengan tingkah suaminya.


__ADS_2