
Setelah drama permintaan restu kepada kedua orang tua Anna, kini mereka berenam tengah mengobrol bersama.
Alfred, Darwin, dan ayah Anna mengobrol di taman belakang. Sedangkan Dianka, Anna, dan Ibundanya berbincang di ruang keluarga membahas apapun yang menurut mereka menarik untuk dibahas.
"Sudah berapa bulan nak kandungannya?" tanya Ibunda Anna sembari mengusap pelan perut Dianka.
"Tiga bulan Nyonya, sebentar lagi menuju empat bulan" jawab Dianka ramah.
"Oh ya?? Wah... Masih sangat muda ternyata, kalau sudah lahiran jangan sungkan sungkan ajak kemari" ucap pemilik rumah tersebut.
Dianka tersenyum manis sambil menganggukkan kepala.
"Tentu Nyonya, dengan senang hati. Sepertinya Nyonya sudah berkeinginan mempunyai seorang cucu ya?" ucap Dianka bermaksud menggoda Anna.
"Iya nih, kami kan sudah tua sudah sepatutnya memliki seorang cucu supaya tidak kesepian" jawab Ibu Anna yang mencoba mengkode Putrinya
Namun Anna justru cemberut dan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Ishh... Memangnya aku tidak tau jika kalian sedang mengejekku!" cebik Anna, tetapi kedua wanita itu malah dibuat tertawa.
"Hahaha... Maaf maaf, kami hanya menggodamu saja. Lagipula sebentar lagi juga kau akan menikah dan orang tuamu akan segera memiliki cucu" tutur Dianka.
Ekspresi Anna berubah pasrah, ia tau perkataan mereka hanya sebuah candaan namun entah kenapa ia kesal dengan pembahasan itu. Karna ia sudah sangat sering mendengar kedua orang tuanya membahas masalah keturunan yang mana dulu Anna belum mempunyai pasangan membuatnya malas mendengar hal tentang anak.
"Hmm... Baiklah, kali ini aku maafkan" sahut Anna.
***
Di taman belakang ketiga pria berbeda generasi itu saling mengeluarkan suara membahas sesuatu yang biasanya dibahas oleh para pria mapan.
Sembari menyesap kopi disore hari dimana matahari sudah berwarna oranye kekuningan.
Ketiganya nampak terlihat akrab jika dari kejauhan, meskipun Alfred agak sedikit canggung mengobrol dengan calon mertuanya tersebut. Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang dan biasa.
"Paman sangat bangga padamu Alfred, kau bisa menjalankan bisnis keluargamu. Dulu Paman masih ingat saat Ayahmu berjuang keras membangun perusahaan Fred Corp. Kau tau kenapa Ayahmu begitu bekerja keras membangun perusahaan itu?" Tanyanya pada sang calon menantu.
Tetapi Alfred menggeleng lemah, ia memang tidak tau latar belakang dibangunnya perusahaan yang kini menjadi milikinya. Dan lagi ia tidak pernah bertanya.
Ayah Anna tertawa renyah, ia menyesap kopinya kemudian melanjutkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Tentu karna Ibumu.. "
"Ibuku?" Gumam Alfred.
"Ya, dia berusaha keras untuk bisa membangun perusahaan besar supaya bisa menikahi Ibumu. Dulu kehidupan Ayah dan Ibumu berbeda, Ibumu berasal dari kalangan atas sedangkan Ayahmu dan aku hanya lelaki biasa yang dilahirkan dari keluarga sederhana.
Karna dia tidak mau mempermalukan keluarga Ibumu maka ia bertekad membangun perusahaan dari nol hingga bisa sukses sampai di hari kematiannya bahkan sekarang" Ucap Ayah Anna.
"Dan kini, aku bisa melihat dirinya di dalam jiwamu. Kalian selalu memperjuangkan apa yang seharusnya kalian perjuangkan, baik itu masa depan ataupun wanita" Lanjutnya.
Alfred dan Darwin hanya bisa tersenyum simpul, tapi di dalam lubuk hati Alfred ia bertanya akan ucapan pamannya barusan. Apakah benar ia dan Ayahnya memiliki sifat yang sama? Jujur saja Alfred tidak pernah merasakan hal itu lagi semenjak kematian adiknya.
Sifat dan sikapnya seolah berubah drastis, namun ketika bertemu dengan Anna ia pun merasa jika ia menemukan jati diri yang sebenarnya.
"Hahh........... Paman jadi merindukan sahabat paman itu"
Drt.... Drt.... Drt....
Suara telpon terdengar nyaring dari balik kantung celana pria baru paya tersebut, lelaki itu pun lantas mengeluarkan ponselnya.
"Emm... Alfred Darwin kalian berbincang dulu saja. Paman ada urusan sebentar, tidak apa-apa kan?"
"Tentu Tuan, Anda tenang saja" Ujar Darwin.
Ayah Anna pun bangkit dan berlalu dari sana meninggalkan dua manusia yang kini sedang duduk di kursi sembari menikmati dinginnya senja.
Tak ada satu orang pun yang mengeluarkan suara, hanya hembusan angin yang memenuhi keduanya.
Matahari yang sebentar lagi tenggelam menjadi satu-satunya objek bagi Darwin dan juga Alfred.
Keduanya sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, situasi seperti ini tidak pernah Darwin maupun Alfred bayangkan.
"Terimakasih.... " Lirih Alfred tiba-tiba.
Darwin melirik sedikit ke arah pria di sampingnya ini, merasa heran dengan ucapan Alfred. Darwin pun memilih menunggu Alfred melanjutkan kata-katanya.
"Jika bukan karna kau dan Dianka, mungkin aku tidak akan pendapat restu dari orang tua Anna.
Aku tidak menyangkan mereka akan membuka restu untuk hubungan ku dan Anna" Ucap Alfred lagi.
__ADS_1
Namun Darwin masih diam belum menanggapi perkataan orang disebelah nya ini.
"Maaf.... J-jika selama ini aku selalu berbuat salah padamu....
Jujur, aku sangat menyesal... Dan maaf aku belum sempat meminta maaf kemarin, aku... Aku masih belum siap, tapi sekarang aku sudah siap! Aku ingin minta maaf atas perbuatan ku waktu itu... " Ungkap Alfred.
Darwin tercenung mendengarnya! Ia membeku sampai tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun, tenggorokannya terasa tercekat begitu saja.
Alfred menoleh menatap Darwin yang sama sekali tidak merespon ucapan permintaan maafnya, padahal ia benar-benar sedang meminta maaf dengan tulus tetapi malah tidak ada jawaban dari pria itu.
"Hei...! Kenapa kau diam saja?!!!" Sentak Alfred dengan alis yang saling bertautan.
Darwin langsung terkejut mendapat sentakan dari Alfred, matanya beradu tatap dengan mata Alfred.
"Kenapa kau marah??? Baru saja tadi kau meminta maaf sekarang kau sudah kumat lagi!" Celetuk Darwin.
Tatapan Alfred melemah, "Maaf... Habisnya kau diam saja! Aku kan sedang serius...!!"
Tetapi situasi sekarang malah menjadi lebih canggung dibanding saat ada Ayah Anna.
"Kalau aku boleh jujur... Aku sangat bahagia hari ini, aku seperti mempunyai keluarga lagi. Kalau dulu aku tidak tau harus meminta bantuan pada siapa, tapi sekarang aku tau kemana aku harus mencari bantuan itu"
"Kau sudah seperti seorang kakak bagiku... "
Perkataan Alfred sukses membuat Darwin melongo, apa katanya tadi?? Kakak??
"Jangan menatapku seperti itu! Aku tau kau pasti terkejut" Seru Alfred.
Darwin kembali membuang pandangannya ke arah lain saat dirinya ketahuan memandang Alfred.
"Kau ini bicara apa sih..?! Aku tau kau terharu dengan kebaikanku tapi jangan membuat aku takut seperti ini" Ucap Darwin.
Tetapi Alfred justru tertawa keras sampai sudut matanya mengeluarkan cairan bening.
"Hahaha..... Kau takut padaku??? Sudahku duga kau memang penakut" Ejek Darwin dengan tawanya.
Merasa terfitnahkan dengan ucapan lelaki menyebalkan ini, tangan Darwin dengan sigap menjewer telinga Alfred membuat si empu berteriak kesakitan.
"Aaaaa..........!!!! Lepaskan..!!!"
__ADS_1
"Dasar anak nakal..! Memangnya kau siapa hah berani mengatai ku seperti itu?!! Akan kupastikan di ruangan gelap pun kau akan merengek rengek memanggil namaku...!" Balas Darwin kesal.
"Haha.... Ampun..... "