ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Hampir Saja


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Dianka sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, Dianka sangat senang karna ia tidak akan berada di kamar yang membosankan itu.


Saat ia dan Darwin sudah sampai di rumah Dianka langsung memasuki kamarnya dan merebahkan tubuh seksi itu di atas ranjang empuk.


"Hahhh...... Akhirnya aku bisa kembali lagi ke rumah" Ungkap Dianka senang.


Dan disaat itu pula Darwin masuk sembari membawakan barang-barang dianka selama di rumah sakit.


"Mandilah terlebih dulu, kau harus membersihkan dirimu sepulang dari rumah sakit" Titah Darwin pada istrinya tersebut.


"Iya mas" Ia pun bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah Dianka menghilang dari balik pintu Darwin lalu keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur.


Ia ingin memasakkan makanan untuk istrinya karna Darwin ingat ucapan dokter agar Dianka selalu tepat waktu untuk makan dan meminum obat.


Ia melihat isi kulkas yang tidak terlalu penuh itu, ia lalu mengambil sayur-sayuran seperti wortel, kol, seledri, dan lainnya.


Darwin memutuskan untuk memasak sup karna memasak sup terbilang mudah dan baik untuk orang sakit.

__ADS_1


Darwin mulai mencuci sayuran itu terlebih dulu, kemudian memotong-motong sayuran tersebut dengan perlahan-lahan, setelah ia barulah ia memasukannya ke dalam panci yang sudah berisi air.


Pria itu terlihat sangat serius saat sedang memasak, tak dipungkiri Darwin sedikit lupa cara membuat sup, ia tidak mau jika nanti sup nya tidak enak dan malah membuat Dianka sakit kembali.


Sekitar 15 menit akhirnya sup pun jadi, Darwin membawakan mangkuk dan gelas yang sudah berisi minuman tersebut ke dalam kamar.


Ketika ia baru saja meletakkan mangkuk dan gelas di atas nakas saat itu juga Dianka keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya.


Lagi-lagi Darwin menelan ludahnya dengan susah payah, dianka begitu menggoda dengan air yang bercucuran di kulit putihnya. Bahkan rambutnya pun masih terlihat basah di padangan Darwin.


"Kau sedang apa mas?"


Darwin sedikit terlonjak kaget, ia tidak menyadari jika Dianka kini sudah berada di depannya.


Dianka mengerutkan dahinya, setahu nya tadi mereka tidak singgah dulu ke sebuah tempat makan.


"Kapan mas membelinya?"


"Aku tidak membelinya, aku yang memasak sup ini"

__ADS_1


Mata Dianka terbelalakkan tak percaya, ternyata selama ini suaminya itu bisa memasak?


"Benarkah?"


"Ya, aku tidak mau kau telat makan lagi" Ujar Darwin.


Dianka tersenyum melihat Darwin yang begitu perhatian padanya, ia pun mengalungkan tangannya di leher Darwin dan mencium lelaki itu.


"Terimakasih mas, aku jadi tidak sabar ingin mencicipi masakanmu" Ucap Dianka setelah ciuman itu terlepas.


"Tapi aku tidak tahu apakah rasanya enak atau tidak"


"Tidak apa mas, aku akan tetap memakannya" balas Dianka.


Ia lalu melangkahkan kakinya menuju lemari untuk memakai baju, tanpa rasa malu Dianka melepaskan handuknya begitu saja tanpa peduli jika Darwin yang berada di situ mematung melihat pemandangan di depan.


Nafas Darwin tercekat, darahnya seperti membeku dan mati rasa, sebagai seorang lelaki ia bisa merasakan aliran gairah yang menyebar ke seluruh tubuh.


Sekuat tenaga Darwin menahan hasratnya, ini bukan waktu yang tepat! Dianka masih sakit dan lagipula ia pun masih ragu untuk melakukan hubungan suami-istri dengan Dianka.

__ADS_1


Darwin menggeleng geleng kan kepalanya beberapa kali, mencoba mengusir pikiran liar nan kotor dari dalam otaknya.


"Ayo mas temani aku makan di sini" ajak Dianka yang seketika itu langsung dituruti oleh Darwin dan melupakan apa yang baru saja ia rasakan.


__ADS_2