
Hari semakin siang, matahari begitu terasa panas nan terik.
Dianka yang kini sedang berada di butik sudah siap untuk menemui wanita yang mengajaknya bertemu.
Ia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua siang.
Sebentar lagi adalah pertemuannya dengan Adelia, Dianka sudah tidak sabar untuk mengetahui apa maksud Adelia ingin bertemu dengannya.
Ia pun keluar dari ruang kerja dan pamit kepada para pegawainya.
"Aku akan keluar dulu sebentar, tolong jaga butik"
"Baik bu" Balas salah satu pegawai Dianka.
Dianka lalu masuk ke dalam mobil dan keluar dari pekarangan butik.
***
Di tempat lain, tepatnya di salah satu cafe yang berada di ibukota tampak seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Sebentar lagi dia pasti akan datang" Gumam wanita itu yang tak lain adalah Adelia.
Adelia terus melihat-lihat ke arah jam tangan, dirinya tampak gugup untuk bertemu dengan Dianka. Tapi sebisa mungkin ia harus bersifat biasa-biasa saja saat bertemu dengan Dianka nanti.
Sesekali Adelia memandang ke arah luar memastikan jika seseorang yang ia cari muncul.
Sekitar sepuluh menit Adelia menunggu tampaklah Dianka yang masuk ke dalam cafe.
Beberapa detik Adelia merasa terpesona akan kecantikan wanita yang ia benci ini, Dianka begitu cantik jika dilihat dari dekat, pakaian yang Dianka pakai juga selalu modis dan yang pasti mahal tentunya.
Perempuan itu kian mendekat dan duduk di hadapan Adelia, jujur jika dilihat berhadap-hadapan seperti ini Dianka tampak seperti boneka hidup rasanya.
"Langsung ke intinya saja, apa yang ingin kau katakan padaku? Aku tidak punya banyak waktu" Ujar Dianka setelah ia duduk di kursi.
Adelia langsung tersadar dari lamunannya, ia merutuki dirinya yang malah mengagumi Dianka tanpa sadar.
Adelia pun berdehem dan memasang wajah angkuh.
__ADS_1
"Baiklah, aku juga tidak suka basa-basi"
Dianka melipat ke dua tangannya di atas perut, menatap intens perempuan di depannya.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Dianka.
"Mungkin kau bertanya-tanya siapa aku ini" Kata Adelia yang membuka pembicaraan diantara mereka berdua.
"Tidak! Aku sudah tau siapa kau. Kau yang bernama Adelia dan kau adalah mantan kekasih suamiku. Dan sekarang kau bekerja di perusahaan suamiku sebagai manager keuangan" Jelas Dianka panjang lebar.
Adelia tertegun dengan penjelasan Dianka, tanpa ia duga ternyata Dianka sudah mengetahui siapa dirinya.
Sedetik kemudian Adelia tersenyum miring sambil menatap wajah Dianka.
"Oh ternyata kau sudah rupanya, apa Darwin menceritakan tentang ku kepadamu?" Tanya Adelia dengan senyum mengejek.
Mendengar perkataan Adelia Dianka justru tersenyum manis.
"Tentu tidak, suamiku tidak pernah membahas masa lalunya. Mungkin karna ia tidak ingin mengingat-ingat tentang pengkhiatan yang dulu kau lakukan" Balas Dianka sengit.
Adelia mengepalkan kedua lengannya di bawah meja, pertanyaan yang ia ajukan malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Sungguh menyebalkan!
Adelia berusaha mengontrol emosinya yang hampir meledak, ternyata Dianka bukanlah wanita lemah lembut seperti yang ia pikirkan, Dianka juga ternyata wanita yang sombong dan penuh keangkuhan.
"Cepat katakan! Jika kau tidak mengatakannya maka aku akan pergi dari sini" Ancam Dianka.
"Jauhi Darwin!"
Dianka langsung menoleh dengan mata yang terbelalak, ia jelas terkejut dengan permintaan perempuan di depannya ini.
"Apa maksudmu?!"
"Jauhi Darwin! Aku tahu dia tidak pernah mencintaimu"
Mendengar itu Dianka tersenyum sinis, bisa-bisanya Adelia memintanya untuk menjadi Darwin, memangnya siapa dia?
"Kau menyuruhku untuk menjauhi suamiku sendiri?"
__ADS_1
"Ya"
Dianka menggeleng sembari terkekeh, ini sangat lucu jika dipikir-pikir.
"Apa kau sadar dengan yang kau katakan?"
"Aku sangat sadar Dianka, aku tahu Darwin tidak pernah mencintaimu dan aku juga tahu kalau Darwin masih mencintaiku seperti dulu" ucapnya penuh percaya diri.
Dianka makin tertawa mendengar itu.
"Oh ya? Apa kau punya buktinya?"
"Tentu, apa kau ingat kejadian saat aku masuk ke dalam ruangan Darwin ketika kau berada di sana? Saat kau pergi Darwin langsung menyusulku dan meminta maaf atas apa yang kalian lakukan di ruangan Darwin. Dan apa kau juga tau jika Darwin mengajak ku untuk menjadi teman dekat? Aku rasa itu hanya alasannya saja agar bisa dekat denganku" Jelas Adelia, padahal dia sendiri yang meminta Darwin agar mereka dekat seperti dulu.
Penjelasan Adelia membuat hati Dianka seakan tergores oleh sayatan pisau tajam. Kenapa Darwin begitu tega padanya? Suaminya malah meminta maaf kepada wanita lain sedangkan dia sendiri justru dibentak dan dimaki.
"Apa sekarang kau sudah percaya?" Adelia begitu puas dengan perubahan raut wajah Dianka.
"Lalu kau mau apa? Kau sudah memiliki suami, kau ingat?"
Adelia menegang! Ia tidak ingat akan hal itu sebelumnya. Apa yang harus ia katakan sekarang?
"Itu..... Aku dan suamiku dijodohkan. Aku tidak mencintai nya" Ungkap Adelia gugup.
Dan kini Dianka mengerti kemana arah pembicaraan Adelia.
"Memangnya kenapa jika kalian menikah karna perjodohan? Itu bukan berarti kau bebas mendekati pria manapun termasuk mantan kekasihmu sendiri! Seharusnya kau berusaha untuk mempertahankan rumah tanggamu meski kau menjalaninya tanpa dasar cinta"
"Jangan mencoba menasihati Dianka! Kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan" Gertak Adelia geram.
"Berusahalah Adelia, dengan begitu kau bisa tau mana yang Darwin pilih. Aku atau dirimu"
Dianka bangkit dan keluar dari area cafe meninggalkan Adelia yang masih duduk disana dengan wajah yang memerah.
Di dalam mobil Dianka berusaha menahan rasa kesal akibat hasutan Adelia tadi, benarkah Darwin meminta Adelia untuk menjadi teman dekat? apa Darwin memberi harapan kembali pada wanita itu?
Lalu bagaimana dengan dirinya? apa dimata Darwin pernikahan ini hanya sebatas status saja?
__ADS_1
Oh Tuhan ini sangat menyakitkan...
air mata Dianka pun lolos begitu saja, hatinya sakit! ia kira saat Darwin meminta maaf padanya lelaki itu benar-benar tulus, tapi ternyata? dia juga meminta maaf pada Adelia. apa begitu besarnya Darwin menjaga perasaan Adelia?