
Di dalam mobil Dianka tak henti-hentinya menjerit kesakitan, Darwin yang berada disana pun bingung harus berbuat apa untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dialami oleh istrinya ini.
Jika saja ia bisa menggantikan rasa sakit itu pasti sudah dari dulu ia gantikan layaknya pada masa dirinya mengalami ngidam.
Darwin benar-benar tidak tega melihat Dianka begini.
Ditambah lagi jalanan yang macet akibat tahun baru membuat kendaraan mereka tak sampai-sampai di rumah sakit.
"Ya Tuhan.... Akhhhh.... Sakit sekali.... "
"Tenang sayang sebentar lagi kita sampai ya" Bujuk Darwin.
"Sshhhh.... Aku sudah tidak kuat mas.... " Jerit Dianka.
"Sabar sayang..." Pandangan Darwin beralih pada Alfred didepannya.
"Hey kau, kenapa mobilnya tidak maju-maju sih..!!!" Pekik Darwin kesal.
"Apa matamu buta hah?!! Lihatlah sendiri jalanannya macet bagaimana bisa aku melajukan kendaraannya?? Dengan terbang ke atas awan???" Balas Alfred tak kalah kesal.
Menyadari kondisi sekitar membuat Darwin berdecak, ia sampai tak fokus pada situasi jalanan yang sedang ramai.
Sekitar tiga puluh menit barulah mereka sampai di halaman rumah sakit.
Anna langsung turun dan meminta para perawat membawakan brangkar untuk Dianka.
Setelah itu barulah Darwin merebahkan tubuh sang istri di atas kasur pasien itu.
Mereka semua masuk ke dalam rumah sakit sambil mengikuti kemana Dianka akan dibawa.
Orang-orang sekitar yang berada disana terbelalak saat melihat seorang wanita yang berlari-lari dengan menggunakan pakaian pengantin dan juga pria yang membantu mendorong brangkar sambil menggunakan tuxedo.
Namun sang empu sama sekali tidak memperdulikan tatapan orang-orang, mereka hanya fokus pada Dianka yang kini sudah masuk ke dalam UGD.
"Dimohon agar suaminya saja yang menemani Nona ini ya" Pinta salah satu perawat.
"Saya Sus, saya suaminya" Jawab Darwin.
"Kalau begitu kita berdua akan menunggu di luar sekaligus menghubungi orang tua kalian jika Dianka berada di rumah sakit" Ucap Anna.
"Iya benar, katakan saja pada kami jika ada apa-apa" Sambung Alfred.
Darwin pun mengangguk dan membiarkan sepasang pengantin itu berlalu dari sana.
***
Pukul sebelas malam kedua orang tua Darwin dan juga Dianka akhirnya tiba di rumah sakit.
Mereka langsung masuk ke ruang tunggu dimana Anna dan Alfred berada disana.
"Anna Alfred? Kalian masih disini?" Tanya Resa saat melihat keberadaan dari sahabat anaknya.
Kedua insan itu langsung berdiri dari duduknya.
"Iya tante, Dianka dan Darwin ada di dalam sana" Tunjuk nya ke arah ruang bersalin.
"Ya Tuhan... Lantas bagaimana kondisi Dianka sekarang?" Tanya Elva kali ini.
"Tadi kata dokter sudah pembukaan empat" Seru Anna.
__ADS_1
"Apa??!! Pembukaan empat?" Semua yang berada disana dibuat terkejut dan syok, pasalnya minggu lalu Dianka bilang kemungkinan ia melahirkan bukan minggu-minggu sekarang, tapi saat ini justru sudah pembukaan empat.
"Aduh bagaimana ini? Pasti mereka belum menyiapkan apa-apa" Ujar Elva panik.
"Kalian tenang saja, pihak rumah sakit sudah menyiapkan candagan untuk persalinan Dianka"
"Benarkah?? Ahh... Syukurlah"
"Ya sudah lebih baik kita tunggu dan sama-sama berdoa semoga proses kelahirannya berjalan dengan lancar" Kata papah Edison.
Mereka pun duduk dan berdoa untuk keselamatan Ibu dan bayi tersebut.
Sedangkan di dalam ruang bersalin dokter beserta para perawat sudah memasangkan Dianka alat infus dan mempersiapkan kelahiran Dianka.
Darwin yang berdiri di samping istrinya terus menyemangati Dianka agar membuat wanita tersebut tenang sembari menggengam tangannya.
"Kau pasti kuat sayang, sebentar lagi bayi kita akan lahir"
"Tetap temani aku disini, mas" Lirih Dianka lemah.
"Pasti sayang, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menemanimu"
Tak lama setelah itu dianka tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah keluar dari pangkal paha nya.
Ia menjerit saat melihat cairan bening mengalir dari bawah sana.
"Mas... Kaki ku!!!" Darwin yang mendengar itu langsung menatap ke arah kaki Dianka yang basah. Ia pun lantas memanggil dokter.
"Dokter istrinya kenapa dok????"
Dokter yang sedang berada disana dengan cepat menghampiri dan melihat Dianka.
"Baik dokter"
Dan saat itu juga Dianka pun dengan sekuat tenaga berjuang melahirkan sang buah hati yang masih di dalam perutnya.
Peluh keringat mengucur dari bagian dahi yang sudah memucat, Darwin masih setia menemani Dianka dan tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan si kecil dan siang istri.
Tatapan sayu terpancar dimata Darwin kala melihat perjuangan sang istri yang mengeluarkan sisa-sisa tenaganya yang hampir habis hanya untuk melahirkan buah hati mereka.
Darwin tak bisa membayangkan jika ia tidak ada disini sekarang, ia tak bisa membayangkan Dianka berjuang sendiri di tengah sakit yang dideritanya.
"Massss..... Sakitttt...... " Jerit Dianka.
"Iya sayang sedikit lagi kau pasti bisa, bayi kita akan segera lahir ke dunia"
Dianka pun kembali mengejan mengeluarkan semua tenaga yang masih tersisa.
Dokter dan perawat pun membantu Dianka dengan memijat sedikit bagian perut Dianka agar bisa memudahkan bayinya keluar.
"Ayo bu sedikit lagi, wajahnya sudah terlihat" Ucap sang dokter.
Teriakan Dianka terdengar keras hingga terdengar ke luar dan membuat orang-orang yang berada disana dibuat khawatir dan tak karuan.
Edison dan Tomlinson sedari tadi bulak balik di depan ruangan tersebut, sedangkan yang lainnya duduk seraya berdoa untuk proses kelahiran Dianka.
Dan tak lama setelah itu tangisan bayi pun terdengar nyaring di sana, sang dokter menggendong bayi itu dan memberikan nya pada Dianka.
"Oekk..... Oekk......"
__ADS_1
"Selamat Ibu bapak, bayinya sudah lahir kedunia"
Dianka lantas memeluk bayinya dan tersenyum penuh haru, sedangkan Darwin menangis saat melihat anaknya kini sudah ada depan mata.
Ia mengelus pipi merah muda itu dan menciumnya beberapa kali.
"Mas... Anak kita sudah lahir"
"Iya sayang, dia sangat cantik...
Terimakasih sayang kau telah berjuang, terimakasih... Aku mencintai mu" Kecupan pun mendarat di kening Dianka.
"Sama-sama mas"
"Oekk.... Oekk..... " dan lagi-lagi suara tangis itu memecahkan suasana haru mereka.
"Sayang aku ingin mencoba menggedong putri kita" Pintanya.
"Mas bisa?" tanya Dianka ragu.
"Hmm iya, aku yakin aku bisa" jawab Darwin yakin.
Dengan penuh kehati-hatian Dianka pun mengalihkan bayinya untuk di gendong Darwin.
Saat bayi mungil itu sudah berada di tangan kekar Darwin dengan cepat tangisan pun hilang tak terdengar.
"Hai putri daddy yang cantik, selamat datang ke dunia" Bisiknya ditelinga sang putri.
Dianka tersenyum lemah melihat interaksi antara Ayah dan anak tersebut.
"Kau mau namai dia siapa, mas?"
Darwin menoleh pada Dianka kemudian menoleh lagi pada sang anak.
"Aku akan menamainya Daelyn Dafania Edison"
...~TAMAT~...
•
•
•
•
•
Loh Kok Tamat Sih Thor???
Hai Semuanya, Makasih Ya Udah Setia Baca Episode Novel Ini Sampai Akhir😁🙏
Kalau Ada Yang Nanya Kenapa Tamat, Jawabannya Karna Memang Ceritanya Sudah Habis😅
Tapi Enggak Menutup Kemungkinan Jika Nanti Mamie Menambah Episode Tambahan Nantinya 😆
Jadi Pantengin Terus Ya 😚
Terimakasih Semuanya😫😫😚😚
__ADS_1
Love Mamie🥰❤❤