
Di ruangan presdir Alfred terlihat tengah merenung akan perkataan Adelia saat di mall.
Ia memikirkan bagaimana sebenarnya Dianka dan Darwin bisa menikah, apa mereka saling mencintai?
Jika Darwin masih mencintai Adelia tidak mungkin kan ia mencintai Dianka sedangkan Darwin belum bisa melupakan masa lalunya.
Bahkan Darwin membiarkan Adelia bekerja di perusahaan miliknya, lalu apakah Dianka tau jika suaminya masih mempekerjakan sang mantan kekasih? Pasti Dianka akan sakit hati jika mengetahui hal itu.
Tapi tunggu dulu!
Jika Darwin dan Adelia masih saling mencintai itu berarti apakah masih ada kesempatan untuk dirinya mendekati Dianka?
Alfred sangat yakin kalau Darwin dan Adelia masih saling mencintai.
Jika mereka bisa bersatu maka dengan begitu posisi Dianka sebagai istri Darwin akan mundur secara perlahan.
Ya!
Ia pasti bisa mendapatkan Dianka!
"Aku harus mendapatkan nya, tapi terlebih dahulu aku harus membuat dia nyaman. Dengan begitu disaat ia tau kalau Adelia adalah istriku Dianka tidak akan menjauh karna ia sudah terlanjur jatuh cinta padaku" Ucap Alfred penuh percaya diri.
Lelaki itu bangkit dan berjalan ke arah jendela besar, ia menatap lurus ke arah depan sambil memasukan kedua lengannya ke dalam saku celana.
Ada sesuatu yang berbeda dalam hidupnya, ia seperti kembali pada masa kecil dimana ia bisa melihat bagaimana bentuk dunia ini.
"Aku berasa hidup kembali, aku seperti mempunyai tujuan untuk bertahan setelah sekian lama aku berencana untuk mengakhiri hidupku"
Alfred menghirup nafas segar dalam ruangannya, ia bisa melihat secerah harapan saat ia mengingat seorang Dianka.
Kini Dianka adalah tujuan hidupnya, Alfred yakin sosok Dianka bisa membuat nya melupakan kenangan buruk di masa lalu.
"Ayah, Ibu, dan Mey do'akan agar aku bisa mendapatkan dia"
***
Pukul enam sore Darwin sudah pulang dari kantor, ia berjalan cepat ke dalam rumah. Ia ingin memastikan jika Dianka sudah pulang sesuai janjinya di restoran tadi.
Dan saat Darwin sudah berada di dalam kamar ia melihat Dianka yang baru saja selesai membersihkan diri, terlihat dari rambutnya yang masih basah.
__ADS_1
Tapi Dianka hanya melirik Darwin sekilas, Dianka tidak sehangat saat di restoran. Wanita itu kembali dingin seperti sebelumnya.
"Kau sudah pulang dari tadi di?" Tanya Darwin.
"Iya mas"
Dianka hanya menjawab pertanyaan Darwin ala kadarnya, ia kembali fokus mengisir rambut yang masih berantakan.
Darwin hanya bisa menatap nanar Dianka, ia merasa diabaikan. Darwin ingin perhatian Dianka, ia butuh kasih sayang Dianka, Darwin sangat merindukan itu.
Dengan gontai Darwin masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, tak lama ia pun keluar dengan pakaian santainya.
"Di apa kau sudah menyiapkan makan malam?"
"Sudah mas, makan malam lah"
"Kau tidak ikut?" Tanya Darwin heran.
"Aku sudah makan tadi, makan malam lah sendiri dulu aku sudah menyiapkan makanannya di meja makan" Ujar Dianka tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Darwin bergeming, ia tak bergerak sedikit pun. Dianka mengacuhkan nya kembali, hatinya sakit melihat itu.
Dengan berat hati Darwin keluar dari kamar menuju ruang makan, ia menduduki tubuhnya di kursi.
Darwin menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulut dengan tak bersemangat, ia terus memikirkan perubahan sikap Dianka.
Sudah beberapa hari ini Darwin menunggu kedatangan Dianka yang selalu pulang malam, ia selalu ingin makan malam bersama wanita itu. Tapi hari ini meskipun Dianka pulang lebih awal darinya Darwin justru disuruh untuk makan malam sendiri.
Ia terus melamunkan hal itu, makanan yang ia makan pun hanya diaduk-aduk tanpa ada niatan untuk memakannya.
Baru tiga suapan saja Darwin langsung meletakkan sendok dan garpu tersebut, lelaki itu bangkit dan berjalan ke arah kamar.
Darwin sudah tidak kuat lagi, ia tidak mau seperti ini terus, ia tidak mau!
Darwin membuka pintu kamar dengan kasar, ia melihat Dianka sedang berdiri di balkon kamar.
Dengan cepat Darwin mendekat dan langsung memeluk Dianka dengan erat dari belakang.
Dianka yang tengah terdiam begitu terkejut dengan kedatangan Darwin yang memeluknya secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku sudah tidak kuat lagi Di.... Kenapa kau mengacuhkan ku.... Kenapa sikapmu berubah.... Aku tidak mau seperti ini terus di.... Hiks.... Maafkan aku... "
Dianka diam, ia terus mendengar semua ucapan Darwin dengan seksama. Sampai dimana Dianka mendengar isak tangis Darwin dirinya kembali dibuat terkejut.
"Jika aku punya salah katakan padaku Di agar aku tahu.... Tapi jangan mendiami ku seperti ini aku tidak bisa.... Aku rindu dirimu yang dulu... Aku ingin dimanja, aku ingin diperhatikan, aku ingin belaian mu seperti dulu...."
Sungguh Dianka tidak menyangka jika Darwin akan seperti ini, pria dingin itu seketika berubah seperti anak kecil yang sedang merengek pada Ibunya. Dianka bahkan tak percaya jika lelaki yang tengah memeluknya ini adalah Darwin.
"Mas jangan seperti ini, lepaskan aku"
Namun Darwin semakin mempererat pelukannya.
"Jangan menghidariku Di.... Aku merasa telah kehilangan mu.... Kita sudah seperti orang lain. Tolong jangan seperti ini di.... " Lirih Darwin dengan suara serak.
Dianka merasa sesak mendengarnya, apa mungkin ia sudah keterlaluan mendiami suaminya tersebut? Tapi memang hal inilah yang Dianka inginkan.
Disaat pelukan itu sudah sedikit melonggarkan Dianka lalu berbalik dan memandang wajah sang suami yang sudah memerah menahan air mata yang hampir keluar.
"Mas, mungkin kita memang harus berbicara serius kali ini" Ucap Dianka.
Dianka menghela nafas dalam sebelum ia berbicara, sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak menangis.
Sedangkan Darwin menatap intens wajah istrinya, jantungnya mulai berdegup dengan kencang, takut Dianka mengatakan sesuatu yang tidak diinginkan.
"Pernikahan kita sudah berjalan setengah tahun lebih, mas.
Dan aku rasa kau belum mencintaiku, tapi aku memaklumi hal itu.
Tapi aku juga bisa merasakan jika dirimu masih mencintai Adelia, dari sorot matamu aku bisa melihat jika kau begitu menjaga perasaannya"
Dianka terdiam sesaat sebelum ia berbicara kembali.
"Maka dari itu, aku akan mencoba ikhlas untuk melepaskan mu, mas"
*
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa VOTE mamie😍😍😍