
Di ruang tunggu Alfred melamun meratapi nasibnya, keadaan yang sudah tidak berbentuk lagi menyita beberapa perhatian dari para pengunjung.
Tatapan pria malang itu kosong seolah tak ada kehidupan disana, bagaimana mungkin malam terindah yang sudah ia ekspektasi kan dari dulu tiba-tiba berubah karena kelakuan panik Darwin.
Sekarang siapa yang harus dia salahkan? Alfred pun tak bisa menyalahkan pria itu sepenuhnya karena Alfred sendirilah yang mengundang Darwin dan juga dianka.
Semua orang yang melihat Alfred duduk di kursi tunggu dengan badan lesu menatap iba dan ikut sedih dibuatnya.
"Kasihan sekali ya.... "
"Iya benar, apa yang dia lakukan disini?"
"Hei lihat pengantin pria itu! Apa yang sedang dia lakukan?"
"Astaga! Jangan-jangan mempelai wanitanya meninggal.... "
"Hais.... Kasihan sekali"
Bisik-bisik tetangga tak membuat Alfred peduli akan keadaannya sekarang, Anna bahkan meninggalkannya dan lebih memilih melihat bayi yang baru lahir itu.
Sebenarnya anna niat menikah dengannya atau tidak sih??
Seharusnya mereka sekarang sedang menikmati malam pertama meski bukan untuk yang pertama kali.
Tapi setidaknya ia bisa memadu kasih dengan sang istri setelah sekian lama Alfred inginkan.
Kenapa nasib buruk selama menimpa dirinya?!! Tidakkah mereka bosan???
__ADS_1
"Ya Tuhan........ Aku tahu diriku memang orang sabar, tapi jangan di hari pernikahan ku juga" Keluh Alfred.
Disaat bersamaan Darwin terlihat keluar dari ruang dimana Dianka berada, lelaki itu berjalan ke arah Alfred dan duduk di sampingnya.
Alfred tak menghiraukan keberadaan Darwin, ia tetap sibuk merenungi nasibnya.
"Kenapa dengan wajahmu? Kau seperti stress saja" Ucap Darwin tanpa perasaan bersalah sedikitpun, ia meneguk air mineral yang dibawanya hingga habis setengah botol.
Bola mata Alfred melirik sinis ke arah Darwin, bisa-bisa nya pria itu tak sadar akan kelakuannya sendiri!
"Kau pikir kenapa, hah?!! Tentu karna dirimu aku seperti ini!!" Sentak Alfred kesal.
"Karna aku?? Memang aku salah apa?!" Tanya Darwin tak mengerti.
Seketika Alfred menggertakkan gigi-giginya dan duduk dengan tegak, ia menatap Darwin penuh kekesalan.
"Lalu kenapa kau menurut saja? Lagipula aku juga tidak tau akan seperti ini jadinya" Ujar Darwin membela diri.
Alfred kembali menyandarkan punggungnya sambil bersidekap tangan. Kini tak ada yang bisa ia lakukan.
"Hahhhhh...... Aku jadi menyesal telah membantumu" Seru Alfred, kini ia terlihat merajuk seperti anak kecil.
Darwin hanya mengedikkan bahunya, acuh.
"Sudahlah.... Terima saja apa yang sudah terjadi, sudah nasibmu selalu seperti ini" Tuturnya.
Alfred ingin sekali memukul pria disampingnya tersebut tapi ia urungkan, lagi-lagi Alfred hanya bisa menghela nafas berat.
__ADS_1
Hening...
Hening...
Hening...
Sesaat keduanya terdiam, namun sedetik kemudian Alfred teringat akan sang istri. ia kembali menoleh pada Darwin dan bertanya.
"Apa istriku masih disana?"
"Ya, dia sedang menggendong anakku" sahut Darwin.
"Kapan dia mau pulang?"
"Entahlah, mungkin dia akan menginap"
"APA?!! MENGINAP???" teriak Alfred menggema.
"Sssttttt....... pelan kan suaramu ini rumah sakit!" perintah Darwin.
"Tapi untuk apa dia menginap?! Lantas... Bagaimana denganku!!!" ucap Alfred tak terima.
"Memangnya ada apa denganmu? Kau sudah besar sudah bisa mengurus dirimu sendiri"
"Bukan begitu.... Maksudku....... "
"Sudahlah, aku mau kembali ke dalam. kau tidurlah dimana pun kau mau" Tanpa menunggu jawaban Alfred Darwin pun beranjak dari sana dan meninggalkan pria malang itu sendirian.
__ADS_1