
"APA?!! DIANKA KABUR???"
Suara teriakan Adelia begitu menggema di dikamarnya, baru saja ia mendapatkan laporan jika Dianka menghilang dari tempat dimana wanita itu dikurung.
X: Iya Nona, sepertinya ada yang menolong wanita itu tadi malam.
Adelia semakin geram mendengar hal itu, ia mengepalkan kedua lengannya kuat-kuat.
Adelia: Sebenarnya kalian bawa kemana dia Hah??!! Kenapa sampai mudah sekali seseorang menemukan Dianka??!"
X: Kami membawanya ke hutan Nona.
Adelia: LANTAS KALIAN SEMUA DIMANA HAH??!! KENAPA TIDAK BERSAMA DENGANNYA....?? DASAR BODOHH..... !!'
Adelia memakai para pesuruh nya itu, Adelia dilanda rasa kesal lantaran mereka begitu bodohh membiarkan seseorang yang diculik itu di tinggalkan sendirian.
X: Kami ada di penginapan semalam, sedangkan wanita itu kami bawa ke dalam bangunan tua yang berada di hutan yang kami maksud tadi.
Adelia: ARGGHHHHH...... KALIAN SEMUA BENAR-BENAR BODOHH....!!!! AKU TIDAK MAU TAU CARI DIA SEKARANG JUGAAA!!"
X: Siap Nona, kami mohon maaf sebelumnya.
Adelia pun langsung mematikan sambungan telepon.
Nafasnya memburu menandakan jika perempuan itu tengah dilanda amarah.
Pikirannya sekarang mengarah pada Darwin, ia takut jika Darwin yang telah menyelamatkan Dianka dari aksi penculikan itu, jika itu benar maka rencananya selama ini akan sia-sia saja.
"Kenapa mereka itu begitu bodohh sihhh...... Aku sudah membayar mahal mereka tapi baru beberapa hari Dianka sudah kabur dari para penculik itu"
"Ck, sialann!!" Umpat Adelia.
Adelia pun kembali menyalakan ponselnya, ia ingin menghubungi Darwin dan menanyakan apakah lelaki itu sudah menemukan Dianka atau belum.
Sudah dua kali panggilannya tidak diangkat oleh Darwin, namun Adelia tidak menyerah, di panggilan ketiga akhirnya pria itu pun mengangkat telepon dari Adelia.
Darwin: Ada apa Adelia? Aku sedang sibuk sekarang, jika kau ingin menanyakan urusan kantor nanti saja.
Adelia: Tidak Darwin, bu-bukan itu. Emm... Aku... Aku hanya ingin menanyakan apa kau sudah menemukan keberadaan istrimu?"
Telepon itu sunyi sesaat, Darwin tak langsung menjawab pertanyaan Adelia.
Hal itu membuat Adelia bertanya kembali.
Adelia: Hallo Darwin? Kau masih disana?
__ADS_1
Darwin: Iya, aku masih disini. Sampai saat ini aku belum menemukan keberadaan istriku, aku sedang mencari keberadaannya sekarang.
Helaan nafas lega keluar dari mulut Adelia, hatinya sedikit tenang mengetahui jika Darwin belum menemukan Dianka.
Berarti orang lain lah yang menyelamatkan Dianka, tapi siapa??
Adelia: Ya sudah kalau begitu, aku tutup telponnya dulu ya. Jaga Ke.....
Tutt........
Belum sempat Adelia menerus ucapannya Darwin sudah mematikan sambungan telepon itu terlebih dahulu.
Ia melihat ke arah handphone yang memang sudah tidak tersambung lagi.
Adelia berdecak menahan kesal.
"Ck, kenapa langsung dimatikan begitu saja sihh.... " Umpat Adelia.
Ia pun segera keluar dari kamar, karna hari ini ia juga harus pergi ke kantor.
Dengan tergesa-gesa ia keluar dari pekarangan rumah.
***
Nafas halus yang terdengar membuat seseorang disana tak tega untuk membangunkannya.
Siang pun sudah menjelang, wanita tersebut nampak menggeliat pelan dan sedikit demi sedikit matanya yang terbuka mengerut ketika sinar matahari itu langsung mengarah ke arah wajahnya.
Dianka mengedarkan pandangan untuk melihat ruangan dimana ia berada.
Saat jiwanya sudah mulai terkumpul ia pun sadar jika ia berada di tempat asing.
Dianka lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan memunculkan seorang pria yang sangat Dianka kenal.
"Kau sudah bangun?" Tanya Alfred sembari duduk di tepi tempat tidur.
"Alfred sebenarnya kita dimana?" Dianka tidak menjawab pertanyaan Alfred, ia justru melontarkan sebuah pertanyaan.
"Kita berada di villa ku" Jawab Alfred.
Dianka sedikit membelalakkan matanya, ia bangkit dan berjalan mendekati jendela untuk melihat ke arah luar.
Ia melihat pantai di depan sana, ini memang sebuah villa.
__ADS_1
Ia pun membalikkan badannya lagi.
"Kenapa kau membawaku kesini? Aku ingin pulang"
"Aku tidak bisa membawamu pulang sekarang Dianka, situasi di sana masih tidak baik. Bisa saja para penculik itu mencarimu kembali" Jelas Alfred.
Dianka berpikir sebentar, apa yang baru saja Alfred katakan memang ada benarnya juga.
Tapi ia tidak mau berada disini, ia ingin pulang dan bertemu dengan Darwin.
"Tapi aku ingin bertemu dengan suamiku, dia pasti sedang mencari keberadaan ku juga" Ucap Dianka penuh kegelisahan.
Alfred berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekat ke arah Dianka.
"Tapi setidaknya kita tunggu sampai situasinya mulai membaik, setelah itu barulah aku akan mengantarmu pulang ke rumah"
"Kalau begitu bisakah kau menemui suami dan menyuruhnya untuk datang ke sini? Setidaknya kami bisa bertemu" Pinta Dianka penuh harap.
Mendengar itu Alfred dibuat kesal, tapi sebisa mungkin ia menahan emosinya.
"Maaf Dianka aku tidak bisa, aku sedang sibuk sekarang. Bersabarlah dulu"
"Tapi.... "
"Sudahlah, sebaiknya kau membersihkan dirimu. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar, aku harus pergi dulu sekarang" Alfred berlalu dari sana meninggalkan Dianka yang mematung di tempat.
Tak berselang lama seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar, dilihat dari pakaiannya dia adalah seorang pelayan di vila ini.
"Maaf saya menganggu anda, Nona" ucap wanita itu sembari menunduk hormat.
Dianka hanya tersenyum kaku melihatnya.
"Tidak masalah, ada apa?" tanya Dianka.
"Saya hanya ingin memberikan pakaian ganti untuk anda, Nona"
"Ah baiklah, simpan saja di sana" pinta Dianka sambil menunjuk ke arah nakas.
Pelayan itu pun menyimpan paper bag nya di atas nakas sesuai perintah Dianka, setelah itu ia pun pamit dari sana.
"Sudah Nona, saya permisi dulu"
"Ya, terima kasih sebelumnya"
Sesudah pelayan tersebut keluar Dianka pun lalu masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang kotor.
__ADS_1