ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Bahagia Bersama Mu


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain tepatnya di ruang keluarga, Dianka dan Darwin tengah menonton acara televisi yang tayang seminggu sekali.


Namun fokus Dianka teralih ke arah suaminya, ia melihat Darwin yang sedang memakan bakso bakar yang lelaki itu beli saat menjemputnya dari butik.


Sedari pagi Darwin tak memakan makanan apapun selain makanan bulat itu, apalagi bakso yang Darwin makan bercita rasa pedas.


Dianka khawatir nantinya Darwin akan sakit perut karna tak biasanya lelaki itu mencicipi kuliner berbumbu cabai seperti ini.


Merasa Dianka yang terus menatapnya Darwin pun mengalihkan arah matanya dan bersitatap dengan manik sang istri.


"Ada apa sayang? Kau mau?" Tawar Darwin sembari mengangkat bakso tusuk ditangannya.


Dianka menggeleng pelan.


"Aku tidak berselera, aku hanya khawatir nanti kau sakit perut mas. Sedari pagi kau tidak memakan nasi maupun roti"


"Tenang saja sayang, aku baik-baik saja. Lihatlah!" Ucap Darwin yakin.


Dianka menghela nafas panjang, ia mengambil satu bakso dan di gigitnya makanan itu.

__ADS_1


Lalu mengarahkan bakso tersebut pada Darwin, dan ber isyarat agar Darwin memakannya juga.


Pria itu tersenyum senang, Darwin seketika menyimpan tusukkan bakso yang dipegangnya dan mendekatkan bibirnya itu.


Seketika bakso tersebut terbelah menjadi dua, peraduan antara bibir tipis dan bibir tebal pun terjadi pada waktu yang sama.


Memakan makanan seperti ini saja membuat hasrat mereka bangkit dengan cara yang sederhana.


Pasangan suami istri itu tertawa bahagia, mungkin saat tua nanti mereka akan malu saat mengingat tingkah yang menurut orang lain terkesan lebay dan berlebihan.


"Aku bahagia di bisa hidup bersamamu...


"Aku pun bahagia mas bisa bernafas bersama denganmu, entah sampai kapan nafas ini akan berhenti tapi yang pasti aku ingin berada di sisimu sampai saat itu tiba" Balas Dianka.


Darwin dibuat terharu oleh ungkapan Dianka, matanya bahkan berkaca-kaca ingin menangis.


Darwin tersenyum lembut, ia menangkup pipi Dianka dan mendekatkan wajah mereka, kemudian mencium ranum merah itu dengan tulus tanpa melibatkan hasrat sedikitpun.


Kini Darwin sudah benar-benar jatuh cinta pada Dianka, segala sesuatu yang dirasakan wanita itu akan ia rasakan pula.

__ADS_1


Saat ciuman tersebut terlepas Darwin langsung memeluk erat dianka ke dalam dekapannya. Sekarang ia sadar bahwa Tuhan begitu baik telah mempertahankan Dianka untuknya, sejahat dan sekasar apapun Darwin mereka akan selalu dipersatukan lagi.


Ia juga harus berterima kasih kepada sang Ibu karna telah mempertemukan dirinya dengan Dianka, jika bukan karna Ibunya mungkin Darwin dan Dianka tidak akan pernah bertemu.


"Bolehkah aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri?" Tanya Darwin lirih.


Dianka mengeratkan pelukan mereka lalu mengangguk.


"Asal tidak membuat dirimu sendiri terluka, itu saja sudah cukup bagiku"


"Terimakasih kasih Di, aku mencintaimu...


Sangat mencintai mu... Tolong jangan pernah gantikan namaku di hatimu... " ucap Darwin bergetar seolah takut kehilangan Dianka.


"Aku janji akan tetap mencintaimu mas... Asalkan namaku juga akan selalu ada di hatimu"


"Pasti sayang, kau akan tetap menjadi pemilik hati ini. Hatiku dan tubuhku adalah milikmu" jawab Darwin tegas.


"I love you my husband"

__ADS_1


"I love you more my wife... " kecupan pun singgah di kening Dianka. Wanita itu terpejam merasakan tulusnya cinta Darwin.


__ADS_2