
"Paman, Bibi, kami pamit pulang dulu. Terimakasih atas waktu dan restunya" Ucap Alfred sembari tersenyum malu.
Kedua paru baya itu tertawa kecil.
"Sama-sama, lain kali sering-seringlah berkunjung kemari. Pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk kalian semua" Jawab Ayah Anna.
"Benar nak, kalau kalian mau kalian bisa menginap disini" Tawar Ibu dari Anna.
"Terimakasih atas tawarannya Tuan, Nyonya. Tapi kami tidak ingin merepotkan kalian, terimakasih atas waktunya hari ini" Ujar darwin bersuara.
"Sama sekali tidak merepotkan nak Darwin, kami justru senang menerima kehadiran kalian" Tutur Ibu Anna lagi.
"Sekali lagi terimakasih Nyonya, kalau begitu kami pamit undur diri. Selamat malam... "
Darwin, Alfred, dan Dianka akhirnya pulang menaiki mobil darwin.
Tapi sebelum Alfred masuk ke dalam mobil ia terlebih dahulu menatap wajah sang kekasih dan memberi kiss bye pada wanita itu.
Anna pun membalas tindakan Alfred dengan malu-malu.
Perbuatan mereka pun tak luput dari pandangan kedua orang tua Anna, namun mereka memilih diam seakan tidak melihat kelakuan sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
Setelah Alfred masuk, kendaraan hitam berkilat tersebut pun pergi dari pekarangan keluarga besar Anna.
"Ekhmmm..... !"
Suara deheman dari Ibunda membuat Anna tersadar dan menoleh ke arah sumber suara.
"Sudah jangan dilihat terus, nanti dikira orang gila loh" Goda sang mama pada Putrinya.
"Ihhh.... Siapa juga yang melihatnya?? Aku sedang memandang bulan kok" Ujar Anna beralasan, karna tak mau di goda lagi Anna pun terlebih dahulu masuk ke dalam rumah.
***
Di dalam mobil Alfred tak henti-hentinya tersenyum, lelaki itu terlihat sangat senang hari ini.
Rasa takutnya berubah jadi rasa bahagia, moment tadi tak pernah ada dalam benaknya, Alfred kira ia tidak akan bisa hidup bahagia setelah kepergian sanak keluarga. Tetapi Tuhan terlalu baik untuk membuat Alfred bertahan agar dirinya merasakan kembali yang namanya kebahagiaan.
Rasanya ia ingin waktu berhenti sebentar saja membiarkan dirinya diliputi rasa kesenangan ini.
"Lama-lama kau bisa jadi orang gila jika senyum-senyum sendiri seperti itu!" Celetuk Darwin sambil tetap fokus mengemudi, matanya sesekali melirik ke arah cermin melihat kelakuan aneh Alfred di kursi belakang.
"Dasar tukang sirik! Tidak bisakah kau membedakan yang mana orang stress dan orang yang tengah berbahagia?!!" Seloroh Alfred kesal.
__ADS_1
"Tentu aku tau, aku hanya mengingatkan mu saja" Ucap Darwin.
Dianka yang melihat interaksi dua lelaki disana hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala, entah kenapa akhir-akhir tingkah laku Darwin dan Alfred justru malah lucu baginya.
"Oh iya Dianka, apa kau tau konsep apa yang bagus untuk acara lamaran resmi? Karna aku ingin menyelenggarakan lamaran secepatnya" Tanya Alfred pada Dianka yang duduk di samping Darwin.
"Emm... Sebenarnya banyak sekali konsep untuk sebuah acara lamaran, tapi tergantung kalian menyukai konsep yang seperti apa" Balas Dianka.
"Begitu ya? Kalau dulu konsep lamaran kalian seperti apa?" Tanyanya lagi.
Darwin dan Dianka sama-sama diam saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Alfred, keduanya saling menatap lurus ke depan.
Alfred yang merasa aneh dengan suasana tersebut melirik ke arah Darwin dan Dianka secara bergantian.
"Emm.... Kami tidak ada acara lamaran, Alfred. Kami langsung menikah" Jawab Dianka.
"Begitukah? Yahh.... Tidak seru sekali.
Kau ini bagaimana sih, selain menyebalkan kau juga tidak romantis" Ucap Alfred menepuk bahu Darwin.
Perasaan Darwin mendadak tidak enak dibuatnya, ia mengingat masa-masa dimana dulu tidak ada yang istimewa di dalam pernikahannya dengan Dianka.
Tidak seperti Alfred yang memberikan berbagai keistimewaan dihari lamaran dan juga pernikahannya dengan Anna, Anna pun pasti akan merasa terkesan oleh tindakan romantis Alfred.
Lalu Darwin? Dirinya bahkan tidak ingat konsep pernikahan apa yang mereka pakai. Tidak ada yang istimewa di hari bahagia mereka.
"Aku kasihan pada Dianka, dia pasti tersiksa mendapat suami seperti mu" Cibir Alfred.
"Ishh.... Urus saja urusanmu sendiri! Lagipula awal yang bagus belum tentu memiliki cerita akhir yang baik pula" Ujar Alfred mengejek.
Seketika Alfred bungkam oleh kata-kata yang dilontarkan Darwin, lengannya langsung dilipat dengan bibir yang cemberut.
Melihat Alfred yang terpojok Darwin pun tersenyum miring.
Suasana pun kembali hening, Dianka terlihat diam sambil memandang ke luar jendela. Pikirannya dipenuhi sekelebat kejadian diawal hubungannya dengan Darwin.
Mungkin karna bawaan bayi dianka jadi kepikiran hal yang seperti itu, ia juga seorang wanita yang pernah mempunyai impian dilamar dan dinikahi oleh pasangan dengan cara yang romantis sesuai dengan keinginannya.
Dipakai kan cincin dan diucapkan kata-kata manis yang membuat dirinya melayang, dulu ia sering melihat moment seperti itu saat temannya di Italia akan menikah. tetapi sayang, Dianka tidak pernah merasakannya.
Tapi ya sudahlah, toh ia juga bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Darwin yang peka dengan terhadap perubahan sikap Dianka pun menggenggam salah satu lengan sang istri.
__ADS_1
Dianka terlonjak kemudian menoleh pada Darwin yang tersenyum menatapnya.
Dianka membalas senyuman itu tak kalah hangat.
"Kau sedih?" Tanya Darwin.
Dianka menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak, mas"
Namun Darwin belum seratus persen percaya, dengan cepat Darwin menepikan mobilnya membuat Dianka serta Alfred kebingungan.
Setelah kendaraan itu berhenti barulah Darwin menggengam kedua tangan Dianka dan menatap lekat-lekat manik coklat istrinya.
"Aku tau isi pikiranmu sayang, aku tau pernikahan kita memang tidak di awali dengan indah. Tapi percayalah sayang aku benar-benar mencintaimu.... Jadi jangan sedih ya" Ujar Darwin selembut mungkin.
"Aku tidak sedih mas, walaupun mungkin tidak semua keinginan ku terwujud saat pernikahan kita dulu tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Mas tenang saja... Aku tidak akan sedih hanya karna hal itu, mungkin karna pengaruh bayi aku jadi agak sedikit terngiang-ngiang" Balas Dianka menjelaskan.
Darwin mengangguk beberapa kali tanda mengerti, ia paham jika Dianka sedikit sensitif di masa kehamilan. Tadinya Darwin takut Dianka akan menjadi badmood gara-gara membahas perihal acara lamaran, dimana mereka tidak pernah mengadakan acara seperti itu.
Tapi syukurlah, Dianka wanita yang sangat dewasa. Tidak seperti kebanyakan wanita hamil lainnya.
"Aku mencintaimu sayang... "
"Aku juga mencintaimu mas... "
Wajah mereka kian mendekat hingga ciuman pun tak bisa dihindari lagi.
Alfred yang duduk di kursi belakang terbelalak dengan mulut yang ikut terbuka.
Dirinya syok melihat adegan intim didepannya saat ini.
Dianka dan Darwin berciuman di depan mata kepalanya sendiri..!!!
Oh Tuhan...... Apa mereka sudah gila?!!!
"APA YANG KALIAN LAKUKAN....???!"
Sontak ciuman itu pun terlepas saat Alfred berteriak dengan sangat kencang.
Darwin dan Dianka akhirnya tersadar jika di dalam mobil ini bukan hanya mereka berdua tetapi juga ada Alfred disana.
"Kalian ini benar-benar.......!!"
__ADS_1
"Akhhh.... Kepala ku tiba-tiba pusing... " Desis Alfred memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut melihat peristiwa mengejutkan barusan.
Sedangkan Darwin dan Dianka justru dibuat terkekeh mengingat kelakuan mereka.