ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Manja


__ADS_3

Malam semakin larut, kedua pasangan suami-istri yang baru saja menyelesaikan drama rumah tangga itu kini terlihat sedang berbaring di atas ranjang empuk sembari memeluk tubuh satu sama lain.


Darwin menyembunyikan wajahnya di kedua belahan dada sang istri yang sedikit menyembul dibalik gaun tidurnya, sedangkan Dianka mengelus lembut rambut hitam milik suaminya dengan posisi menyamping.


Mereka tak melakukan apapun setelah berciuman, Dianka menyuruh Darwin melanjutkan makan malam yang tertunda. Tapi Darwin menolak kecuali jika Dianka yang menyuapi dirinya, dan dengan senang hati wanita tersebut menuruti permintaan sang suami.


Sehabis makan malam mereka langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur seperti sekarang.


Darwin nampak sangat manja dan bahkan jiwa kelelakian yang biasa pria itu tunjukkan kini hilang seketika.


Darwin terus memeluk Dianka layaknya seorang bayi yang baru lahir.


"Di.... "


"Iya mas?"


"Kamu tak akan meninggalkan ku kan?" Tanya Darwin sambil mengangkat kepalanya guna melihat wajah Dianka.


"Aku tidak berjanji mas, tapi aku akan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan rumah tangga kita" Ucap Dianka dengan bijak.


Ia menghapus cairan yang hampir keluar dari sudut mata Darwin dengan jarinya.


Mendengar itu Darwin kembali menyembunyikan wajahnya di dada sang istri, ia sedih kenapa Dianka seolah masih ingin berpisah.


"Hey kenapa malah menangis? Aku kan disini bersama mu, mas" Dianka merasakan tubuh Darwin bergetar saat memeluk dirinya.

__ADS_1


"Aku tak mau kehilangan mu Di... Kau mendiami ku saja aku sudah tidak tahan apalagi jika kau pergi.... " Ujar Darwin samar-samar.


"Kenapa singa besar ini tiba-tiba menjadi kucing rumahan yang manja dan lebay hhmm?"


Darwin seketika mengangkat kepalanya dan menatap Dianka kesal.


"Aku serius Di! Apa kau tidak percaya???"


Melihat Darwin yang marah padanya Dianka langsung memeluk kembali sang suami dengan erat, ia juga tak kuasa untuk tidak tertawa.


"Iya iya aku percaya kau tidak sedang bercanda"


Darwin membalas pelukan dianka tak kalah erat, tapi memang Darwin akui jika sekarang ia seperti lelaki yang manja dan mudah menangis. Tapi beginilah ia jika sudah menyayangi seseorang, sifat lembutnya akan terlihat dan pasti membuat orang tersebut terheran-heran.


"Mas, jika boleh aku tanya sebenarnya dulu apa yang membuatmu menerima pernikahan ini?" Tanya Dianka penasaran.


"Waktu itu mamah menyuruhku menikah karna usiaku sudah berumur kepala tiga, dan sebelumnya aku sudah berjanji pada mamah dan papah untuk memberikan mereka cucu sebelum aku berusia tiga puluh tahun saat aku masih berpacaran dengan.... Emm... Dengan.... " Darwin tampak ragu untuk menyebutkan seseorang yang dimaksud, ia takut Dianka marah terhadapnya.


"Aku tau, pasti dengan Adelia kan?"


"Emm... I-iya"


Darwin melirik ke arah Dianka yang memasang wajah biasa, ia cukup was-was takut mood Dianka berubah.


Dianka mencoba mencerna setiap penjelasan Darwin, ada beberapa pertanyaan yang ingin ia ajukan dari perkataan suaminya.

__ADS_1


"Dan apa yang sekarang kau rasakan setelah menikah denganku, mas?"


"Aku merasa hidupku jauh lebih baik, kau sangat memperhatikan semua kebutuhan ku dengan detail sampai aku merasa nyaman dengan perhatianmu.


Aku merasa candu akan ciuman mu, sentuhan mu, dan belaian mu... sampai dimana kau mengacuhkanku itu benar-benar membuatku frustasi dan tidak fokus dalam pekerjaan ku" Ujar Darwin bercerita, ia menceritakan semua kejadian yang ia rasakan dengan sejujur jujurnya.


"Benarkah? Jadi kemarin-kemarin mas terus memikirkan hal itu?" Tanyanya tak percaya.


"Iya" Jawab Darwin.


"Uhhh kasihan sekali suamiku ini.... " Dianka mencubit pipi Darwin gemas.


"Jadi apa yang harus aku lakukan agar suamiku ini tidak frustasi lagi?"


"Aku ingin kau menciumku lagi seperti peraturan yang kau buat di awal-awal kita menikah, yang kedua aku ingin kau menemaniku makan karna aku tidak suka makan sendirian, dan yang terakhir aku ingin dimanja"


Perkataan Darwin yang terakhir sukses membuat Dianka terbahak-bahak, apa karna hal itu Darwin sampai dibuat frustasi? Ya Tuhan entah dianka harus merasa senang atau kasihan melihat suaminya seperti ini.


"Baiklah, aku akan menuruti permintaan mu mulai saat ini"


"Kau janji?" Tanya Darwin memastikan.


"Iya"


"Kalau begitu cium aku, bukankah kita akan segera tidur?"

__ADS_1


"Tentu"


Tanpa basa-basi lagi Dianka mencium bibir sang suami, kali ini tidak ada ciuman panas atau yang bisa membangkitkan hasrat seperti biasanya. Mereka berciuman tulus dengan penuh perasaan.


__ADS_2