ISTRI SEMPURNA SANG CEO

ISTRI SEMPURNA SANG CEO
Pingsan


__ADS_3

"BENARKAHHH.....?????"


"Ya Tuhan terimakasih sekarang menantu ku hamil.... Terimakasih ya Tuhan aku akan menjadi seorang nenek" Doa mamah Elva dibalik sambungan telepon.


Dianka dan Darwin tertawa mendengar teriakan mamah Elva yang begitu histeris dan mengagetkan mereka berdua.


Dianka: Dianka ikut senang jika mamah senang.


Elva: Tentu sayang, mamah sangat senang... Nanti kalau bayinya sudah lahir mamah ingin yang pertama menggendongnya!


Seketika Darwin merebut ponsel yang di genggaman Dianka.


Darwin: Enak saja, tentu Ayahnya yang akan menggendong bayi itu nanti, lalu Ibunya, selanjutnya dokter, mamah akan menggendong bayinya beberapa hari kemudian.


Elva: Dasar anak durhaka! Tega sekali kamu, padahal kan mamah ingin menggendong cucu mamah saja.


Dianka dibuat terbahak-bahak mendengar pertengkaran antara Ibu dan anak, Darwin tiba-tiba saja berubah menjadi sensitif dan sensian. Padahal sebelumnya ia tidak pernah memperpanjang hal sekecil ini.


"Sudah mas, lagipula lahirannya pun masih lama. 8 bulan lagi" Sergah Dianka.


"Tapi sayang ini tidak bisa dibiarkan! Mamah itu orangnya keras kepala dan tidak bisa dibantah. Bahaya kalau mamah yang pertama kali menggendong anak kita, padahal aku kan Ayahnya" Protes Darwin dengan wajah cemberut.


Dianka mencubit pipi Darwin gemas, sungguh belakangan ini Darwin benar-benar lucu jika melakukan hal apapun. Sebagai wanita hamil Dianka sangat beruntung bisa sering tertawa membuat ia tidak stress dan kesepian.


Elva: Sudah ah! Tidak ada ujungnya jika berdebat denganmu. Besok mamah akan ke rumah kalian untuk membawa makanan sehat bagi Ibu hamil sekalian mamah akan mengajak besan mamah.


Darwin: Ya sudah, Darwin tutup telepon nya.


Setelah percakapan berakhir Darwin kembali meletakkan ponsel di atas nakas dan memeluk kembali tubuh sang istri.


"Ayo kita tidur sayang, tidak baik untukmu jika tidur terlalu malam"


Dianka mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Darwin menghirup aroma harum sang suami yang menenangkan jiwanya.


Keduanya pun tidur dengan damai hingga pagi menjelang.


***


Hari ini adalah pertemuan para CEO dan petinggi, orang-orang penting itu berkumpul dan membahas seluruh masalah yang terjadi di dunia bisnis.


Banyak dari mereka adalah para pembisnis muda seperti Darwin, manusia berjas tersebut berbincang santai sembari meminum minuman yang dihidangkan.

__ADS_1


Darwin yang berdiri disana nampak terlihat pucat sedari tadi, entah kenapa hari ini ia seperti tidak enak badan, saat bangun tidur pun ia muntah-muntah seperti biasa tapi rasa mualnya terus ada hingga sekarang.


Tadinya jika tidak ada acara penting Darwin akan lebih memilih beristirahat di rumah bersama Dianka, tapi pertemuan penting ini tidak bisa Darwin lewatkan.


Ia sampai tak menyadari jika disana ada Alfred yang turut hadir di acara pertemuan pembisnis besar. Alfred terus memandang ke arah Darwin, ia menangkap raut wajah tak biasa yang dipancarkan pria itu, Darwin nampak tidak sedang sehat.


Aishhh.... Kenapa aku terus menatapnya?!


Tapi tapi... Dia seperti orang yang mau pingsan, lihatlah wajahnya! Sungguh pucat.


"Tuan Alfred? Anda sedang apa sendirian disini?" Tanya salah satu kolega yang menghampiri Alfred.


Alfred tersadar dan mencoba fokus.


"Emm tidak sedang apa-apa Tuan, hanya sedang menikmati minuman saja" Jawab Alfred.


Mereka pun berbincang hangat, namun bola mata Alfred tak henti-hentinya melirik ke arah sang mantan rival.


Disisi lain Darwin yang sedang berkumpul dengan para CEO hanya terdiam membisu, ia hanya berdiri disana seakan mendengarkan apa yang sedang para CEO itu bahas. Padahal kepalanya sedang bertarung melawan rasa pusing dan mual yang tengah melanda kepala serta perut yang bergejolak.


"Tuan Darwin? Anda baik-baik saja?" Tanya salah satu kolega yang peka terhadap gerak-gerik Darwin.


Darwin berusaha untuk terlihat baik-baik saja, namun rasa pusing itu kian mengelilingi kepalanya, pandangannya perlahan kabur dan terasa berputar dengan kencang.


Kaki Darwin mundur beberapa langkah, lututnya terasa lemas... Ia akan jatuh!


Namun....


Brukk


Dengan seketika Alfred menahan tubuh Darwin seperti adegan didalam sebuah sinetron, mata mereka saling memandang walau bukan pandangan layaknya didalam film sebelum akhirnya Darwin jatuh pingsan.


Entah kapan pria itu datang dan menahan tubuh Darwin agar tidak jatuh tapi peristiwa ini membuat orang disekelilingnya dibuat melongo.


"Kenapa kalian diam saja?!! Bantu aku mengangkatnya...!" Perintah Alfred pada semua orang yang sibuk menonton adegan romantis tadi.


Mereka pun membopong tubuh Darwin ke sebuah ruangan, dan merebahkan tubuh besar itu di sebuah sofa.


Setelah selesai nafas semuanya menjadi terengah-engah, mereka mengusap keringat yang berjatuhan dari dahi.


"Huh! Capek sekali... Ternyata.... Tubuhnya.... Benar-benar... Berattt.... "

__ADS_1


"Hah! hah! hah!.... Benar sekali.... Aku... Aku mendadak lemas" Kata salah satu kolega.


"Aku akan menelpon dokter, sekarang kita keluar saja biarkan dia beristirahat" Ujar Alfred.


"Iya benar, mari semuanya kita keluar"


Mereka pun melangkah dari sana, tetapi saat Alfred hendak berjalan ke luar tiba-tiba saja Darwin menahan tangan Alfred membuat lelaki itu berhenti dan menoleh.


"Jangan pergi!"


Alfred menyerngit, ia kaget Darwin sudah sadar dengan cepat. Begitupun yang lainnya yang tidak jadi pergi dari sana.


"Kau sudah sadar?" Tanya Alfred terkejut.


"Duduk..." Lirih Darwin.


"Hah??? Du-duduk? A-apa maksudmu?" Ujar Alfred bingung.


Mata Darwin sama sekali tidak terbuka, matanya masih setia terpejam dengan rapat.


"Tolong... Duduklah" Pinta Darwin lemah.


Semua orang saling pandang satu sama lain, mereka heran dengan perintah Darwin. Tetapi melihat Darwin yang tak berdaya membuat semuanya merasa kasihan.


"Sudahlah Tuan Alfred, turuti saja apa yang diinginkan Tuan Darwin" Kata yang lain.


"iya Tuan Alfred, turuti saja"


Alfred masih tidak bergerak sedikitpun, pikirannya masih bertanya-tanya kenapa Darwin menyuruhnya untuk duduk.


Jujur Alfred masih takut dengan kejadian di restoran lalu, dimana Darwin seakan ingin berdekatan dengan dirinya.


Mengingat itu Alfred langsung merinding!


Mata Alfred tertuju pada lengan Darwin yang masih menggenggam pergelangan tangannya, dengan cepat Alfred menyingkirkan lengan besar tersebut.


"Ish... Lepas!" Alfred menghempaskan lengan Darwin dan duduk di lantai membelakangi si pria.


"Aish... Kenapa juga kau menyuruhku untuk duduk hah?! yang benar saja, aku bukan pengangguran yang hanya diam seperti ini" celoteh Alfred dengan nada ketus, namun Darwin sama sekali tidak peduli.


"Ya sudah, kalau begitu kami keluar dulu... Kami akan menghubungi dokter nanti" Dengan terpaksa Alfred membiarkan mereka keluar meninggalkan dirinya juga Darwin disini.

__ADS_1


Darwin kembali tertidur, aroma wangi rambut Alfred sukses membuat rasa mualnya berkurang. Kali ini ia harus menyingkirkan rasa malunya, dari pada dirinya tersiksa dengan rasa sakit yang menyiksa Darwin sedari tadi.


__ADS_2