
Malam harinya pukul sepuluh malam di sebuah club suara dentingan DJ begitu menggema ke setiap sudut ruangan.
Orang-orang menari dengan gembira sembari membawa sebotol minuman beralkohol di tangan mereka.
Berbagai macam jalang dan pelacur ada disana, mencoba menggoda salah satu pengunjung untuk mendapatkan setumpuk uang.
Anak muda maupun dewasa berdatangan menikmati suasana club yang begitu ramai membuat hati mereka yang kosong dan hampa teralihkan dengan semua yang disuguhkan oleh tempat penuh dosa itu.
Di sudut kiri terlihat sepasang manusia yang tengah berciuman tanpa peduli ada begitu pasang mata yang melihat mereka.
Sedangkan di sudut kanan beberapa orang tengah tertawa terbahak-bahak karna pengaruh minuman yang mereka teguk.
Ya begitulah kondisi club setiap hari, hal seperti itu sudah terbiasa terjadi.
Bukan hal lazim bagi setiap manusia yang hanya mencari kesenangan semata, club seakan menjadi tempat pelampiasan untuk sebagian orang.
Sama dengan salah satu wanita cantik yang tengah duduk di sebuah pantry, ia terlihat beberapa kali meneguk minuman yang ia pesan dari bartender.
Kepala yang terasa berat ia tumpu oleh tangan kiri nya sedangkan tangan kanannya sibuk memegang gelas berukuran kecil.
Glek Glek Glek!
"Aku mau lagi" Pintanya pada bartender.
Pria gemulai itu menuangkan secangkir wine ke dalam gelas si wanita.
Ia pun menatap wajah perempuan cantik itu dengan heran.
"Ada apa denganmu beb? Kau seperti orang yang sedang patah hati saja"
"Aku tidak tau, semenjak aku bertemu dengannya aku tidak bisa melupakan lelaki itu.
Dia selalu menghantui pikiran ku! Aku tidak tau lagi harus bagaimana, hatiku sakit setiap mengingat wajahnya" Jelas gadis itu bercerita.
"Dasar laki-laki bodoh! Apa dia buta hingga tidak bisa melihat wajah cantikmu ini hmm..??" Ujarnya sambil memegang dagu sang wanita.
Wanita itu memalingkan wajahnya seketika, ia kembali meneguk alkohol.
"Pergilah! Layani yang lain" Usir nya pada bartender.
Setelah lelaki gemulai tersebut pergi datanglah seorang lelaki tampan dan gagah.
Dengan tiba-tiba pria itu berbisik sembari menggigit telinga si gadis.
"Hai sayang" ujar berbisik.
"Menyingkirlah dari hadapanku Romeo!" Ucapnya ketus.
"Aku dibelakang mu Anna, bukan di hadapanmu" Ucap Romeo meluruskan.
Anna diam tak menanggapi ucapan Romeo, ia terlalu malas berbicara pada lelaki yang selalu mendekatinya ini.
"Ayolah Anna, mari kita bersenang-senang malam ini. Aku akan memuaskan mu sayang... " Ajak Romeo.
Anna berbalik dan menatap sinis padanya, ia mulai bosan akan kata-kata yang selalu terucap dari bibir Romeo.
"Aku tidak mau! Lagipula aku tidak akan puas jika bersamamu...!!" balas Anna beralasan.
Melihat anna yang marah membuat Romeo malah tertantang untuk mendekati Anna.
Pria itu mengikis jarak diantara keduanya.
"Benarkah?? Bagaimana dengan ini?"
Cup
•
•
•
Mata anna terbelalak dengan lebar, Romeo mencium bibirnya secara tiba-tiba bahkan Anna belum sempat menghindar.
Sang Casanova itu dengan lihai menuntun bibir Anna dalam ciuman yang lebih panas, lidahnya dengan sigap membelit lidah Anna dan membuat perempuan tersebut perlahan-lahan memejamkan matanya.
Beberapa menit bibir mereka saling menyesap dan memangut akhirnya Anna pun melepaskan ciuman itu dan menatap wajah lelaki didepannya dengan sendu.
"Kenapa bukan kau saja yang aku cintai? Ini terlalu sulit bagiku... " Lirih Anna sedih.
"Oh girl... Kau boleh mencintai ku sesuka hatimu"
__ADS_1
Anna menggeleng lemah.
"Aku tidak bisa.... " Ungkapnya.
"Kau pasti bisa sayang, aku akan mengajarimu supaya kau bisa membuka hatimu untukku" Romeo kembali mencium bibir Anna, dan kali ini ia mengangkat tubuh Anna membawanya ke sebuah kamar yang ada di lantai atas.
Tanpa mereka sadari sesosok pria yang sedang berdiri di pintu masuk menatap tajam pada keduanya.
Ada raut tak percaya sekaligus cemas yang terpampang di wajah tampannya, bola matanya terus melirik kemana Anna dan Romeo pergi.
"Bagaimana Tuan? Ini club yang sering saya kunjungi. Tempatnya bagus dan pastinya anda akan sangat menyukai semua yang disediakan disini" Ucapnya yang tak lain adalah Joni.
Ya, lelaki yang sedang berdiri disana adalah Alfred. Ia meminta sang asisten untuk mengajaknya ke sebuah club di ibukota, tadinya ia ingin mencari kesenangan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
Namun yang didapat kini adalah penampakan mantan tunangannya yang sedang berciuman dengan seorang pria.
Tanpa Alfred sadari tangannya terkepal saat melihat Anna digendong pria asing.
"Tuan? Mari kita duduk di sana. Apa anda tidak lelah berdiri disini terus?" Ajak Joni.
Namun Alfred tetap mematung ditempat, membuat Joni bingung harus melakukan apa.
"Tuan... ?"
Joni pun mengikuti kemana arah pandangan Alfred tertuju, dan saat itu juga Joni tersenyum saat tau Alfred sedang menatap sepasang manusia berbeda jenis yang tak jauh dari sana.
"Romeo turunkan aku!"
"Diam sayang aku akan mengajarimu cara mencintai ku seperti yang kau inginkan tadi"
"Tidak!! Aku tidak mau.... Lepaskan aku!!"
Anna memberontak namun Romeo mendekap nya dengan erat, sungguh Anna menyesal telah terbuai oleh ciuman sesaat beberapa menit lalu.
Suara mereka terdengar hingga ke telinga Alfred dan asisten nya, namun Joni hanya tersenyum seakan sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
"Itu hal biasa Tuan, mereka akan naik ke lantai atas dan mencari sebuah kamar" Jelasnya.
Alfred langsung menoleh pada joni sembari menautkan kedua alisnya.
"Kamar???"
"Iya Tuan, di sini tersedia beberapa kamar untuk pasangan-pasangan yang ingin bercinta"
Mendengar teriakan Alfred joni sontak memegang dadanya terkejut.
"I-iya Tuan... A-apa ada yang salah?" Tanya Joni hati-hati.
Tanpa berkata apapun Alfred lari mengikuti langkah lelaki yang tadi membawa Anna ke lantai atas.
Joni yang memanggil-manggil nama Alfred pun tak ia hiraukan.
Sesampainya di lantai atas Alfred dibuat kebingungan karna ada banyak kamar yang berjejeran.
Ia tidak tau ke kamar mana Anna dibawa, Alfred pun mencoba mendekatkan telinganya ke daun pintu.
Satu-persatu pintu kamar ia lewati, hingga di pintu paling ujung dirinya mendengar suara wanita yang berteriak-teriak didalam sana.
"Tolong lepaskan aku....!!!"
"Syuttt...... Diamlah sayang ini akan sangat nikmat"
"Tidakkkkk..... Aku tidak mauu!! Lepaskan aku...Hiks.... Lepaskan"
Pria tersebut melepaskan pakaian sang wanita dengan paksa, tak peduli seberapa keras wanita itu menjerit dan memohon.
Alfred yang mendengar suara Anna sontak saja dibuat naik pitam.
Dengan sekuat tenaga ia mendobrak pintu kamar hingga terbuka dengan lebar.
BRAKK!!!
"LEPASKAN DIA..!!"
Romeo dan Anna menoleh ke arah pintu, mereka berdua membelalakkan matanya saat melihat kehadiran seorang pria yang masuk secara tiba-tiba.
"A-alfred?" Gumam Anna tak percaya.
"HEI SIAPA KAU?!! BERANI-BERANINYA KAU MASUK DAN MENGANGGU AKTIVITAS KAMI..!!"
Alfred tak menjawab bentakkan Romeo, ia justru mendekat dan memukul lelaki bejat tersebut sampai babak belur.
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"BAJINGAN KAU!!!"
Bugh!
"LEBIH BAIK KAU MATI SEKARANG JUGA... !!"
Bugh!
"Uhuk.... Uhuk..... !! S-sudah... Aku mohon.... Berhenti....
A-aku akan pergi dari sini.... Uhuk....!!"
Alfred pun kembali menegakkan tubuhnya, Romeo langsung pergi saat mendapat ruang untuk dirinya kabur. Pria itu berlari dengan tertatih-tatih sembari membawa pakaian yang sempat ia lepas.
Alfred kemudian menutup pintu kamar dengan rapat, ia berbalik dan menatap tajam ke arah Anna.
emosinya kian memuncak tatkala menyadari jika kondisi Anna sudah setengah telanj*ng.
"Beginikah yang kau lakukan selama ini? Pergi ke club malam dan membiarkan laki-laki lain mencium mu dan membawamu ke sebuah kamar?!!!" Bentak Alfred pada Anna.
Anna menangis dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak Alfred..... Ini tidak seperti yang kau bayangkan... Hiks.... "
"Tidak seperti yang ku bayangkan Hah?!! Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kau membiarkan lelaki itu menyentuhmu!
Ternyata kau sama saja dengan wanita bayaran di luar sana" Hina Alfred sambil menunjuk wajah Anna.
Mendengar perkataan Alfred yang menghinanya Anna langsung menatap tajam pada lelaki itu.
Ia tak terima harga dirinya dijatuhkan seperti ini.
"Jaga ucapanmu! Kau sama sekali tidak tau apa-apa tentang diriku...!!" Bantah Anna.
"Apa!! Apa yang aku tidak tau tentang dirimu sampai kau menjadi seperti ini hah...?!! Apa katakan padaku!"
"INI SEMUA KARNA DIRIMU ALFRED! KENAPA KAU SELALU MENGHANTUI PIKIRAN KU... KENAPA KITA HARUS BERTEMU HAH?! KAU MEMBUAT HATIKU SAKIT ALFRED... INI SEMUA KARNA DIRIMUUU...!!"
Deg!
•
•
Dunia seakan berhenti bagi Alfred, ungkapan Anna membuatnya diam seperti mati rasa.
Apa Anna seperti ini karna perbuatannya dulu hingga membuat wanita tersebut sakit hati saat mereka kembali bertemu?
Apa sebegitu jahatkah dirinya?
"Kenapa sangat sulit melupakanmu Alfred... ?
Kenapa aku tidak bisa mencintai pria lain... ?
Kenapa rasa cinta ini makin membesar saat melihat wajahmu lagi...?
Aku harus bagaimana aku lelah.... Hiks... " Air mata Anna semakin jatuh dengan deras membasahi seluruh wajah cantiknya.
Tatapan Alfred melemah, benarkah Anna mencintai nya??
Kenapa ia tidak pernah menyadari hal itu? Kata-kata Anna membuat tubuh Alfred bergetar hebat.
Alfred maju dan mengikis jarak.
Tangannya refleks terangkat mengusap pipi Anna, namun Anna mundur dan membuat tangan Alfred tertahan di udara.
"Pergi..!!
Kenapa kau disini Hah??? Aku bahkan tidak meminta tolong padamu meski aku tau kau ada disini!" Teriak Anna menagis.
"Anna.....
A-aku minta maaf.... Aku hanya khawatir padamu.....A-aku tidak bermaksud menyakiti mu" lirih Alfred.
"Jangan seperti ini Alfred...
__ADS_1
Pergilah.... Jangan membuatku makin mencintai dirimu..." Ujarnya.