
Keesokan paginya Darwin bangun terlebih dahulu.
Saat ia bangun jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, Dianka masih tertidur dengan nyenyak sembari memeluk tubuhnya dengan begitu erat seakan takut jika mereka akan terpisah lagi.
Lelaki tampan tersebut memberikan kecupan manis di dahi sang istri.
"Syukurlah, sepertinya Dianka tidur dengan nyenyak" Gumam Darwin.
Dengan perlahan ia melepaskan pelukan Dianka dan bangkit dari ranjang.
Darwin membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur.
Dilihat pria tersebut mengeluarkan sejumlah bahan makanan yang tersimpan di kulkas, sepertinya Darwin hendak memasak sarapan untuk dirinya dan Dianka.
Dengan cukup lihai Darwin memasak makanan itu.
Beberapa hari kebelakang ia memang sering memasak makanan sendiri saat Dianka tidak ada, dan kini ia kembali memasak lagi meski Dianka sudah kembali ke rumah.
Setengah jam berlalu, akhirnya makanan itu pun siap dihidangkan.
Darwin menaruh dua piring nasi goreng dan menyeduh susu hangat pula.
Setelah selesai ia kembali ke kamar sambil membawa sarapan yang telah ia buat.
Sesampainya di kamar Darwin tak melihat keberadaan Dianka, Darwin lantas meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas terlebih dahulu.
Disaat bersamaan Dianka muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Mas, kamu darimana saja?" Tanya Dianka berjalan mendekat ke arah Darwin.
"Aku baru saja selesai memasak sarapan untuk kita... Itu, makanlah" Ucap Darwin.
Dianka menoleh ke arah nakas dimana sarapan itu berada.
Matanya sedikit terbelalak kala melihat makanan yang nampak lezat tersebut.
"M-mas yang memasak makanan itu?"
"Iya"
Beberapa detik Dianka terdiam dengan rasa tak percaya, namun ia kembali mencoba mengembalikan kesadarannya.
Darwin yang merasa Dianka ragu pada makanan yang ia buat pun berkata.
"Semenjak kau tidak ada aku sudah terbiasa memasak sendiri, emm.... Walaupun rasanya tidak seenak buatanmu tapi aku jamin makanan yang aku buat layak untuk dimakan" Tutur Darwin menjelaskan.
Dianka yang mendengar itu hanya terkekeh dan membalas ucapan suaminya dengan sebuah pelukan.
__ADS_1
"Terimakasih.... Dan maaf telah merepotkan mu" Lirihnya.
"Tidak sama sekali, aku yang seharusnya meminta maaf. Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu" Balas Darwin penuh sesal.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama seusai keduanya saling meminta maaf satu sama lain.
"Setelah ini kita harus mendatangi kantor polisi untuk membahas kasus penculikan mu" Seru Darwin di sela-sela sarapan mereka.
"Oke"
***
Di sudut sebuah ruangan yang tertutup terlihat Alfred tengah melamun sembari menunggu asistennya yang ia perintahkan untuk membawa seorang pengacara ke sana.
Bayang-bayang kehilangan Dianka masih begitu teringat di pikirannya, rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu.
Rencana yang ia susun musnah begitu saja, dan kini ia malah terkurung di sel tahanan yang sama sekali tidak pernah ia sangka.
Suara nyaring membuat Alfred menoleh seketika.
Seorang polisi membuka gembok tersebut.
"Tuan Alfred, ada yang ingin menemui Anda"
Alfred yang mendengar itu langsung berdiri dan mengikuti polisi ini ke arah ruang tunggu.
"Bagaimana? Kau sudah mencari pengacara untukku?" Tanya Alfred ketika ia sudah duduk berhadap-hadapan dengan Joni.
"Sudah Tuan, dia sedang berada di luar sebentar lagi datang"
Sekitar lima menit mereka menunggu datanglah sesosok wanita yang menghampiri Alfred dan Joni di sana.
"Selamat siang, maaf membuat kalian menunggu" Ucap wanita itu.
Alfred langsung menatap ke arah wanita yang akan menjadi pengacaranya tersebut, dan sedetik kemudian mereka berdua saling terkejut dibuatnya.
"Anna???"
"Alfred???"
Sedangkan Joni hanya bisa menatap bingung keduanya secara bergantian.
"Kalian saling kenal?"
Alfred dan pengacara yang bernama Anna itu menoleh berbarengan ke arah Joni.
"I-iya, kami teman kuliah" Jawab Anna.
__ADS_1
Mendengar jawaban Anna Alfred langsung melirik wanita itu sambil mengumpat didalam hati.
Ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan sosok Anna, apalagi sekarang Anna menjadi seorang pengacara untuk kasusnya. Alfred benar-benar malu jika harus bertemu dalam kondisi seperti ini.
"Ahh... Begitu rupanya, silahkan duduk Nona"
"Eh i-iya terima kasih" Sahut Anna gugup.
Seketika suasana menjadi canggung kala Alfred dan Anna terlihat salah tingkah seperti ada yang membuat mereka tidak nyaman.
"Emm... Baiklah, aku ingin mengetahui terlebih dahulu kasus ini. Bisakah kau ceritakan kejadian awalnya?"
Alfred pun dengan terpaksa menceritakan kejadian demi kejadian, meskipun dirinya merasa malu namun bagaimana pun ia harus menceritakan kasus ini pada Anna agar wanita itu bisa menyelamatkannya dari tempat terkutuk yang sedang ia diami.
"Apa?! Jadi kau mencoba menculik istri orang lain???" Tanya Anna terkejut.
"Bukan bukan, a-aku hanya mencoba menyelamatkannya. Dianka adalah temanku... Ja-jadi tidak salah bukan ji-jika aku membantu mencari keberadaan Dianka??" Bantah Alfred cepat.
"Lantas kenapa kau malah mengurung wanita itu di villa mu?"
Alfred yang mendapat pertanyaan tersebut seketika menelan ludahnya dengan susah payah.
"Emm... I-itu a-aku hanya berpikir jika aku langsung membawanya pulang itu tidak akan bagus karna pasti para penculik itu akan kembali mencari keberadaan Dianka. Maka dari itu aku menyembunyikan Dianka untuk sementara waktu" Ucap Alfred beralasan.
Anna menatap Alfred dengan tatapan menelisik, membuat lelaki yang berada di depannya semakin dibuat gugup.
"Lalu kenapa kau tidak menghubungi suaminya? Suaminya berhak tau keberadaan istrinya itu"
"I-itu.... Itu karna aku tidak mempunyai nomor telepon nya"
"Benarkah begitu?" Tanya Anna memastikan.
"T-tentu benar!! Kenapa kau seakan tidak mempercayai ucapanku?? Seharusnya kau percaya karna kau adalah pengacara ku" Umpat Alfred kesal.
Anna menghembuskan nafas berat, walau ia sedikit merasa curiga dengan Alfred namun bagaimana pun ia memang harus tetap membela klien nya ini.
"Baiklah, aku akan urus semua ini. Tetapi untuk sementara kau harus tetap berada di dalam bui sampai proses ini terselesaikan"
"Shittt....!!" Umpat Alfred.
"Anda tenang saja Tuan, Nona Anna ini adalah salah satu pengacara terbaik. Saya yakin Anda bisa bebas dari penjara ini secepatnya" Ungkap joni penuh keyakinan.
"Baiklah, terserah! Yang penting aku bisa keluar dari sini. Kalau bisa hari ini pun aku bisa bebas"
"Ya ya ya akan aku usahakan agar kau bisa bebas dengan segera, walaupun aku agak sedikit ragu dengan jawaban yang kau ucapkan tapi akan tetap aku usahakan" ucap Anna dengan wajah polosnya.
"Astaga! Ayolah Anna, jika kau saja ragu bagaimana mungkin aku bisa bebas dari sini???" geram Alfred pada wanita di depannya tersebut.
__ADS_1
"Baiklah baiklah aku percaya! serahkan semuanya padaku"