
Seorang pria masuk ke tempat tinggalnya dengan wajah lelah. Seharian bekerja di bawah tekanan permasalahan yang dihadapi calon mertua, menyebabkan dia ikut kelimpungan mencari investor.
Tanpa menyalakan lampu Marcel melangkah menuju kamar. Dia melepaskan satu per satu pakaian yang melekat di tubuh, hingga sesaat kemudian sepasang tangan tiba-tiba saja melingkar di perutnya.
"Apa kau lelah?" Suara seorang wanita berbisik membuatnya mengangguk seketika. Entah mengapa rasanya begitu nyaman di peluk olehnya.
Tanpa membuka mata, Marcel mengangguk lelah. Dia berbalik, dan memeluknya sosok itu dengan begitu lembut. "Aku merindukanmu."
Untuk sesaat keduanya dalam posisi seperti itu, tetapi setelah merasakan ketenangan Marcel meletakkan kedua tangan di pipi wanita tersebut. Dia mengikis jarak di antara kedua wajah mereka, hingga ketika hanya tersisa beberapa senti meter saja, suara dering ponsel membuyarkan segalanya.
Dengan malas, Marcel membuka mata, perlahan tangannya menggeser bulatan hijau di layar. Suara sarah di ujung panggilan seketika menyapa indera pendengarannya. “Marcel, apa kau sudah kembali?”
“Ya,” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Jangan lupakan makan malam dan obatmu. Aku sudah meminta koki untuk membuatkan makanan yang kau sukai.”
“Hmm.”
Hanya dehaman yang bisa Marcel berikan sebagai jawaban. Dia lantas mematikan sambungan telephone dan berusaha duduk dari posisinya. Marcel, mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia memang benar-benar ada di kamarnya tanpa menyalakan lampu. Namun, mengapa dia malah memimpikan suasana bersama istri orang.
Bingung dengan apa ayang dialami membuat Marcel mengusap kasar wajahnya. Entah apa yang terjadi, tetapi dia merasakan hambar ketika bersama Sarah dan malah bersemangat jika menemui Laura. Sang janda yang di tinggalkan suaminya. Entah mengapa ada setitik rasa bersalah yang menghantui Marcel sebab merasa menjadi pria terbrengseek saat ini, tetapi dia sendiri tidak tahu mengapa bisa merasa seperti itu.
“Apa yang aku pikirkan?”
Marcel hanya mengangguk kecil dan memeperintahkan pria itu untuk masuk.
“Taruh saja di sana.”
__ADS_1
Setelah menyelesaikan tuga, pelayan itu pun keluar dari kamar Marcel, sedangkan dia perlahan membuka tutup besi yang menutup makanan itu. “Apa ini?’
Marcel sejenak mengernyitkan dahi melihat penampakan makanan di depannya. Selama ini memang Sarah begitu perhatian dengan menghubungi setiap dia selesai bekerja dan meminta koki menyiapkan makanan malam. Tidak pernah terlewat sehari pun, dan terkadang malah wanita itu sendiri yang membuatnya. Namun, entah mengapa meskipun Sarah mengatakan jika itu adalah makanan kesukaaannya, dia sama sekali tidak memiliki selera dengan makanan di depannya.
Bukan hanya merasa asing, tetapi juga seakan itu makanan yang tidak bisa masuk ke dalam mulutnya. Namun, dengan terpaksa Marcel memakannya jika Sarah sendiri yang mengantarkan, dan jika dia sedang sendirian seperti sekarang, Marcel memilih alternatif lainnya.
Perlahan kaki jenjang pria itu melangkah menuju kamar mandi. Makanan yang bahkan masih hangat dia buang begitu saja ke dalam toilet tanpa ragu. Dia lebih memilih memakan roti yang sebelumnya di beli di toserba dan malah dengan lahap memakannya. “Kenapa hidupku terasa begtiu hampa?” gumam Marcel seorang diri.
Di sisi lain, Laura tengah menggendong Nicholas dalam dekapannya. Bayi mungil itu tidak akan bisa tidur jika tidak berada dalam dekapan. Sambil berjalan ke sana ke mari, Laura menatap kelopak mata sang buah hati yang sudah terpejam. Seandainya saja, Michael ada bersamanya saat ini, dia pasti hanya akan mengurus bayinya setiap hari, tanpa harus meninggalkan Nicholas bersama pengasuh hanya demi bekerja keras seorang diri. “Maafkan Mommy, Nak.”
To Be Continue...
Hai teman-teman, meskipun lebelnya sudah end, tapi ceritanya masih berlanjut ya. up slow karena Rissa lupa alurnya.
__ADS_1
alhamdulillah Rissa sudah melahirkan baby boy di bulan ini. terima kasih untuk teman-teman yang selalu mendoakan dan menunggu bab di up dengan sabar.