Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 41: Rencana Kedua


__ADS_3

Di sisi lain, setelah satu minggu berlalu seorang gadis mulai mengerjapkan mata. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam, lengkap dengan kepala pening, serta kesulitan untuk bergerak.


Dari ambang pintu, seorang wanita lainnya segera berlari membawa sebuah baskom dan mengisyaratkan pada gadis itu agar tidak terlalu banyak bergerak dengan tangannya. Dia lantas mengambil sebuat buku catatan di sakunya dan menulis sesuatu lantas menunjukkannya pada Laura.


"Jangan terlalu banyak bergerak! Lukamu masih belum sembuh,'' tulisnya.


Laura mencoba mengangguk paham, tetapi dia kembali mendesis tatkala merasakan sakit ketika menggerakkan kepala, dan ternyata sebuah penyangga terpasang di lehernya.


"Apa yang terjadi padaku?" tanya Laura.


Wanita paruh baya tersebut segera membalikkan buku catatannya dan menulis lagi di balik kertas lainnya. "Aku menemukanmu di dasar jurang. Kondisimu sekarang sedang tidak baik, leher dan kakimu mengalami cidera serius. Lebih baik sekarang beristirahatlah dan fokus pada kesembuhanmu."


"Terima kasih telah membantuku, Bibi."

__ADS_1


"Sama-sama," tulisnya lagi.


Laura mengamati wanita yang tampak seperti seorang tunawicara itu dengan seksama. Cukup cantik alami meskipun tampaknya sudah berusia paruh baya. Namun, kondisi di sekeliling kamar tampak seperti sebuah pedesaan membuat dahinya seketika berkerut. "Di mana ini," batin Laura.


Seolah mengerti kebingungan Laura, wanita paruh baya tersebut kembali menulis di buku catatannya. "Kau berada di rumahku. Aku sudah membawamu ke dokter tanpa sepengetahuan orang lain. Mereka mencarimu di mana-mana. Tapi, kau aman di sini."


Laura pun paham akan apa yang dimaksud wanita itu. "Terima kasih banyak." Hanya itu kalimat yang bisa Laura ucapkan sebagai balasan untuk saat ini.


Wanita tersebut dengan telaten membantu Laura merawat luka. Sebagian luka ringan di tubuhnya sudah mulai mengering, tetapi masih ada juga yang memerlukan perawatan dan wanita itu mengganti perban secara perlahan. Seolah dia memang mahir dalam hal tersebut.


"Bagaimana situasinya?" tanya James Whale.


"Maaf, Ayah."

__ADS_1


"Apa saja yang kau kerjakan selama ini, hah? Mencari seorang wanita saja kalian tidak becus!" James yang marah pada Zack melemparkan cangkir berisikan kopi panasnya ke tubuh sang anak. Namun, Zack hanya terdiam menunduk dan tak berani melawan, meskipun dalam hatinya merasa sangat dipermalukan saat ini. Akan tetapi, sekuat hati Zack mencoba menahannya.


Dari dalam kediaman, Catherine melangkah hendak menghampiri Zack di taman belakang bersama sang ayah. Namun, malah mendengar perdebatan antara James Whale dan Zack.


"Pokoknya Ayah tidak mau tahu. Dalam tiga hari ke depan kau tidak menemukan Laura, lebih baik kau angkat kaki dari rumah ini.''


Mendengar hal itu, Cathrine mengira jika sang ayah sungguh mengkhawatirkan kondisi Laura saat ini. "Kak Zack," sapanya ketika Zack melintas.


"Ada apa," jawab pria itu dingin.


"Emth, itu. Kalau kau mau mencari Laura, tolong biarkan aku ikut kali ini." Selama ini Cathrine memang dilarang untuk mencari Laura dengan alasan medan yang buruk. Namun, kali ini Zack malah menyetujui permintaannya.


"Kita berangkat lima menit lagi."

__ADS_1


Sementara itu, James yang melihat kepergian kedua anaknya lantas menghubungi seseorang lainnya. "Jalankan rencana kedua. Aku tidak mau ada kegagalan sedikit pun kali ini," ucapnya pada orang di seberang sana.


To Be Continue...


__ADS_2