Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 66: Mencari Udara Segar


__ADS_3

Memiliki kehidupan yang rumit, siapakah yang menginginkan hal itu? Tidak ada. Semua orang pastinya ingin mempunyai hidup indah tanpa lika liku apalagi luka. Begitu pula dengan Laura. Sejak kecil dia tidak mengenal siapa sang ayah, sudah dewasa harus kehilangan ibunya. Mengapa takdir begitu kejam memberikan siksa di saat dia belum dewasa.


Satu beban Laura terasa terangkat di kala mengingat kematian James, pria yang berani merancang skenario buruk dan memanfaatkan dirinya untuk membunuh ayah kandungnya sendiri. Namun, Laura sadar semuanya tidak akan berhenti di sini, masih panjang jalan yang harus dia lalui untuk hidup dengan damai. Akan tetapi, tak tahu kapankah semua itu akan terwujud, mungkin hanya ketika menemui ajal, barulah seseorang bisa terbebas dari belenggu permasalahan dunia.


Michael yang melihat sang istri tampak tak fokus dan merenung lantas meminta anak buahnya untuk kembali terlebih dahulu, sedangkan dia sendiri mengambil alih kemudi dan membawa Laura ke tempat lainnya.


Cukup lama keduanya terdiam dalam kebisuan. Sunyi, bahkan suara musik di dalam mobil pun seolah tak ada.


Laura yang sedari tadi menatap pemandangan di luar mulai merasa heran. Ini bukan jalan yang biasa di laluinya untuk pulang, lalu ke mana kali ini Michael membawanya pergi. "Mich, kita mau ke mana?" tanya Laura tak ingin membiarkan rasa penasaran merasuki pikirannya.


Michael hanya melirik sekilas, lantas memberikan senyuman. "Nanti kau juga akan tahu, Sayang."


Sebagai seorang pria, meskipun tak pernah menjalin hubungan sebelumnya. Namun, dia cukup tahu jika beban yang diemban sang istri terlalu berat saat ini. Sebagai suami, Michael berharap Laura bisa tersenyum kembali seperti di masa lalu. Saat-saat pertama kali mereka benar-benar bertemu, senyuman indah tak pernah pudar dari gadis itu sepanjang harinya.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di sebuah pantai pasir putih yang sepi. Tempat di mana dahulu Laura kecil pernah merengek mengajak kemari, sebelum Michael harus kembali.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Laura heran. Perasaan dia tidak meminta liburan pada Michael, tetapi kenapa tiba-tiba pria itu berinisiatif.


"Aku lelah. Mari cari udara segar! Kita sudah jauh-jauh datang kemari. Apa salahnya menghabiskan waktu bersama sebentar?" Michael membukakan pintu untuk Laura dan mengulurkan tangan pada sang istri. Meskipun heran, tetapi laura memilih menurut dan menerima uluran tangan itu.


Semilir angin dengan cahaya matahari yang tak terlalu terik membuat suasana segar seketika menerpa wajah keduanya yang kini sedang menapaki pasir putih. Sesekali deburan ombak datang membasahi kaki keduanya yang masih mengenakan sepatu. Untuk sesaat Michael bahkan lupa jika sang istri tengah terluka. "Tunggu di sini sebentar!"


Michael segera pergi meninggalkan istrinya untuk mengambil sesuatu di mobil, sedangkan Laura memilih duduk di pasir putih yang kering. Dia melepaskan sepatu dan juga tali yang mengikat rambutnya agar berkibar dengan bebas. Tak lupa pula jaket kulit yang dikenakan karena hawa di sana terlalu menyenangkan jika harus di lewatkan dengan berlapis pakaian.

__ADS_1


Dari arah lain, Michael berlari dengan sebuah kotak di tangannya. Tanpa sadar sebuah senyuman mengembang di wajah Laura, pria tampan yang memang menarik perhatiannya ketika remaja kini benar-benar berada di sampingnya. Meskipun harus melalui banyak cobaan sebelum hadirnya hari ini, bahkan di depan mereka pun masih mengantre ujian kehidupan selanjutnya.


"Kenapa melepas jaketmu?" tanya Michael saat melihat istrinya hanya mengenakan sebuah sport braa hitam melekat di tubuh bagian atas.


"Tidak apa-apa."


"Sini." Michael duduk di samping sang istri dan tangannya dengan lembut menggerakkan dagu sang istri. Luka di sudut bibir itu tampak mulai membiru, dengan perlahan Michael mengoleskan salep agar tak semakin parah. Bisa-bisa dia kira pria yang suka melakukan KDRT nanti kalau sampai di lihat orang lain.


"Ish." Laura mendesis perih, tetapi dengan segera Michael meniup lukanya.


"Apa sakit sekali?"


"Bohong kalau aku bilang tidak."


"Apa kau baru menyadari kalau suamimu ini tampan, Sayang?"


Sontak Laura berdeham guna menetralkan kegugupan. "Perasan."


Hanya senyum tipis dan gelengan kecil yang Michael berikan sebagai tanggapan. Pria itu, lantas mengobati setiap bagian tubuh sang istri yang terluka perlahan sampai semuanya benar-benar telah diobati. "Jangan sampai jadi infeksi nanti! Ingat kau juga baru pulih. Kenapa malah melakukan semuanya sendirian? Apa kau tidak memercayaiku?"


Laura menggeleng kecil, pandangannya melayang jauh pada laut yang tampak tak berpehujung itu. Kosong, tak ada apa pun melintas selain burung camar. Seperti hatinya saat ini yang terasa begitu sunyi.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ibuku dibunuh saat itu. Tapi dia selalu memintaku diam dan hidup dengan bahagia." Sejenak Laura menghentikan kalimatnya. "Menurutmu, bagaimana aku bisa bahagia jika orang-orang yang mencelakainya masih berkeliaran dengan bebas tanpa harus mengalami ketakutan sepertiku setiap harinya?"

__ADS_1


Seolah mengerti akan apa yang dirasakan sang istri, Michael menggerakkan tangannya. Dia membawa kepala sang istri agar bersandar di bahunya yang kini menjadi satu-satunya tempat Laura bisa meluapkan segala keluh kesahnya. "Maafkan aku. Maaf aku terlalu lama menemukanmu. Tapi, terima kasih, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua untuk menebus segalanya."


Keduanya saling terdiam untuk waktu yang cukup lama. "Mich."


"Hmm."


"Pasti rasanya menyenangkan kalau kita bisa kembali ke masa lalu."


Di masa lalu, Laura merupakan sosok ceria, sedangkan Michael pria dingin, tetapi mempesona. Hanya padanya Michael akan tersenyum, bahkan meskipun digoda oleh wanita lainnya Michael masih bergeming.


Saat-saat di mana Laura berharap sang ibu bisa meriasnya bak putri raja di hari pernikahan. Namun, semuanya tinggal angan semata karena apa yang terjadi di masa lalu tidak akan bisa terulang kembali. Hanya Michael yang masih kembali ke sisinya. Akan tetapi, tentu saja hati Laura sudah berbeda sebab terlalu banyak kepercayaan yang dihancurkan.


Michael mengangkat genggam tangan sang istri dan mencium punggung tangan itu cukup lama. "Kita tidak bisa mengulang masa lalu, Sayang. Tapi kita masih bisa memperbaiki masa depan. Misalnya, jika di masa lalu kau begitu membenciku. Alangkah baiknya kita segera memikirkan masa depan saja. Bagaimana kalau kita fokus membuat keturunan dan curahkan semua kasih sayangmu padaku? Aku akan menerimanya dengan senang hati. Pasti menyenangkan kalau kau melahirkan anak-anak yang lucu perpaduan dirimu dan diriku."


Suara tawa Michael sontak diiringi deburan ombak. Mereka seolah memertawakan apa yang dipikirkan pria itu, sedangkan istrinya malah mencubit pinggangnya dengan cukup keras. "Siapa juga yang mau memiliki anak denganmu? Aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu."


Laura lantas berdiri dari posisinya, tetapi dengan cepat Michael mengangkat tubuh wanita itu ke atas kedua tangannya. "Kau memang masih terlalu muda jika mengandung, Sayang. Tapi, sudah cukup dewasa untuk melayani suamimu. Apa kau lupa bagaimana liarnya permainan pertamamu? Ayo kita mengulanginya!"


"Mich, lepaskan! Kau tahu aku sedang datang bulan!" Laura meronta-ronta, tetapi Michael seakan tak berniat untuk melepaskannya begitu saja.


"Bohong. Aku sudah mengeceknya pagi tadi."


To be Continue....

__ADS_1


__ADS_2