Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 71


__ADS_3

Michael yang baru kembali ke markas tampak mengernyitkan dahi, tatkala melihat sebuah mobil yang dikenalnya milik seorang dokter yang biasanya memang menangani masalah di sana terparkir tepat di sampingnya. Apa terjadi sesuatu pada sang istri hari ini? Atau anak buahnya berani berbuat macam-macam pada Laura. Beraninya mereka jika hal itu sampai terjadi.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Michael pada anak buah di sampingnya dengan cemas.


Pria itu hanya menggeleng, seharian bersama Michael bagaimana bisa dia tahu apa yang terjadi di markas. Lagi pula tidak ada laporan dari yang lainnya jika terjadi sesuatu di sini.


Dengan langkah seribu bayangan, Michael bergegas menuju tempatnya. Namun, apa yang dikhawatirkan tampaknya salah. Dia berhenti di kala melihat anak buah yang lainnya berkerumun di ruangan milik Leo—anak buah yang dibabat habis oleh Laura dan dokter itu pun tengah menangani pria tersebut.


"Leo, apa yang terjadi padamu?" Suara bariton Michael sontak mengalihkan perhatian para anak buah. Mereka serentak memberi hormat dan membuka jalan bagi Michael, sedangkan satu pria bermulut ember di sebelah Leo tampak hendak berbicara.


"Ini semua gara-gara—" Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Leo sudah terlebih dahulu menyumpal mulut orang itu dengan kain kasa.


Sebuah cervical collar terpasang di leher Leo, kepalanya tampak miring dan tak dapat memandang Michael secara lurus. Harus menoleh dengan tubuhnya sekali. "Tidak apa-apa, Master. Saya hanya kurang berhati-hati dan jatuh tadi."


Michael lantas menatap gerombolan Leo, awalnya dahi mereka mengerut, tetapi kepala masing-masing orang mengangguk seakan membenarkan apa yang dikatakan Leo.


Mendengar jawaban dari anak buahnya, Michael hanya bisa menghela napas lega. Meskipun sejatinya dia tahu jika mereka tengah menyembunyikan sesuatu. "Baiklah kalau begitu. Beristirahatlah! Aku tidak akan mengganggu kalian," ucap Michael lantas berbalik pergi. Namun, dia bertanya pada anak buah yang lainnya di luar. "Apa yang terjadi?"


Sementara itu, seorang pria bermulut ember di samping Leo lantas membuang benda yang menyumpal mulutnya. "Kenapa tidak memberitahu Master apa yang sudah diperbuat wanitanya padamu, Kak?"


"Diam, atau aku akan meminta dokter menjahit mulutmu sekalian." Sebagai seorang pria, bagaimana bisa Leo mengakui jika dirinya baru saja kalah bertarung dengan wanita. Terlebih lagi wanita itu adalah gadis ingusan yang dianggapnya sebagai gundik sang tuan.

__ADS_1


Sebenarnya Leo sendiri cukup terkejut akan kemampuan Laura yang berbanding terbalik dengan penampilannya. Selain malah terlihat imut, sebelumnya Laura bahkan tidak memerlihatkan jika dia memiliki kemampuan bela diri yang bisa di bilang mumpuni sebagai seorang wanita. Pantas saja Michael tidak ragu membawanya ke markas. Ternyata dia bukan gadis biasa.


Awalnya Leo tidak menyukai wanita itu karena dia menganggap mereka hanya akan menjadi kandidat perusuh sekaligus mata-mata pihak musuh. Terlebih lagi, ketika sudah menjerat seorang pria. Mereka bisa saja mengacaukan pekerjaan dengan rengekan memuakkannya.


Akan tetapi, tampaknya pandangan akan Laura kali ini benar-benar salah. Mungkin sebaiknya dia harus meminta maaf pada gadis itu besok karena sudah meremehkan tanpa menilai dengan teliti seperti apa Laura sebenarnya.


Di sisi lain, Michael yang mendengar penjelasan anak buah lainnya atas apa yang terjadi hari ini lantas masuk ke kamarnya. Dia melihat di mana seorang wanita tampak terlelap dengan tubuh miring di atas ranjang. Perlahan Michael mendekat, dan menyibakkan anak rambut yang menutup wajah sang istri.


"Pasti berat untukmu bertahan di markas ini sendirian," gumam Michael lantas mencium kening istrinya.


Tanpa sadar apa yang dilakukan Michael menyebabkan Laura terjaga, wanita tersebut melenguh kecil sambil mengerjapkan mata. Pandangan langsung tertuju pada senyum pria di depannya yang seharian sibuk di luar. "Kau sudah kembali, Mich?"


Perlahan Laura mulai mengusap matanya, memastikan jika pria di hadapannya saat ini benar-benar merupakan sang suami dan bukan hanya sekedar mimpi. Tanpa di minta seolah belum sadar dari khayalan, Laura melingkarkan kedua tangannya di perut sang suami yang tengah duduk di sampingnya saat itu.


Laura hanya menggeleng kecil, entah apa yang terjadi, tetapi aroma Michael saat ini begitu menenangkan baginya. Meskipun pria itu jelas belum mandi. "Ah, aku lupa. Tadi aku bermain-main sebentar dengan anak buahmu."


Tanpa menutupi apa yang dia lakukan, Laura mengakui perbuatannya hari ini. Namun, tampaknya sang suami sudah tahu karena pria tersebut hanya tersenyum kecil. "Apa begitu menyenangkan bermain-main dengan mereka?"


Hanya gelengan kecil yang bisa Laura berikan, gadis itu malah kembali membenamkan wajah di perut suaminya tanpa malu-malu. "Lagian, mereka meremehkan aku lagi. Mereka bahkan mengatakan aku hanyalah seorang gundik di ranjangmu yang bisa kau tendang kapan pun dirimu bosan. Bagaimana seorang Laura akan diam saja dihina seperti itu?" Tanpa sadar Laura menceritakan apa yang diterimanya hari ini.


Mendengar pengaduan sang istri, darah dalam diri Michael sontak berdesir naik begitu saja seperti roller coster yang siap keluar dari jalurnya. Kedua tangan pria tersebut juga terkepal dengan kuat, seiring dengan sorot menakutkan akibat amarah akan kelakuan anak buahnya. "Berani-beraninya mereka mengatakan hal kotor seperti itu pada istriku!"

__ADS_1


Dengan emosi yang menggebu, Michael hendak beranjak untuk memberikan pelajaran pada anak buahnya yang berani mengatakan hal buruk pada sang istri. Namun, dengan segera Laura menahannya dengan tetap melingkarkan kedua tangan di perut Michael yang sudah berdiri itu. "Kau mau ke mana?"


"Aku harus memberikan mereka pelajaran. Seharusnya kau bukan hanya mematahkan lehernya, ambil saja nyawanya sekalian." Kemurkaan terdengar begitu jelas dari nada bicara Laura, menyebabkan wanita itu sedikit tersenyum. Ternyata sang suami benar-benar menyukainya dan siap untuk membela kapan saja hanya dalam sekali mengadu.


Akan tetapi, bukan Laura namanya jika menghadapi masalah dengan cara seperti ini. "Sebaiknya kau mandi dan beristirahat saja! Mereka akan menjadi urusanku besok."


"Tapi." Michael yang geram membalikkan tubuh tetapi dengan cepat sebuah kecupan singkat mendarat di bibir kering kerontang itu.


"Apa kau tidak percaya pada istrimu ini? Jika kau keluar dan menghajar mereka, mereka hanya akan semakin merendahkan aku. Dan aku tidak memerlukan pembelaanmu itu. Biarkan aku selesaikan urusan di antara kami seperti sebelumnya, anggaplah seolah kau tidak tahu apa-apa. Biarkan mereka menghormatiku karena aku memang layak untuk dihormati, bukan sebab mereka takut padamu."


Kalimat menenangkan sang istri pun mampu meluluhkan kerasnya batu di hati Michael. Memang benar kehormatan seorang mafia tidak dapat dilakukan secara instan, apalagi hanya sekedar karena orang itu dekat dengan sang pemimpin. Mereka harus meraih dengan caranya sendiri. Menunjukkan jika memang orang tersebut pantas dihormati.


"Baiklah. Aku percaya kau bisa melakukannya, Sayang. Tapi, berjanjilah untuk tidak terluka, meskipun hanya tergores. Atau aku akan menghabisi mereka yang berani melakukan hal itu padamu."


Laura mengangguk patuh. "Serahkan semuanya padaku. Cukup menyenangkan mengusik mereka di saat aku tidak punya sedikit pun kegiatan di sini. Lagian kau sedang sibuk di luar, dan aku tidak ingin menjadi wanita manja yang mengganggu apalagi menghambat urusanmu. Sekarang pergilah mandi dan temani aku makan malam, karena perutku sudah lapar bermain-main seharian."


"Apa mereka tidak memberimu makanan?"


Laura hanya menunjukkan jarinya ke sebuah meja. Di mana makanan yang diantarkan anak buah Michael sama sekali tak disentuhnya. "Masakan mereka tidak enak sama sekali."


Michael pun tersenyum lembut sambil mengacak-acak rambut Laura. Istrinya memang lumayan pemilih dalam hal makanan dan Michael pun memahami itu. Bahkan meskipun di masak oleh orang yang sama, terkadang Laura masih saja protes akan rasa yang dihadirkan. "Baiklah. Aku pergi mandi dulu. Nanti aku siapkan makanan untukmu."

__ADS_1


To be Continue...


__ADS_2